Wabah Ebola di RD Kongo tewaskan 1.521 orang

DILI, 31 Juli 2026 (TATOLI) – Kasus kematian akibat wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo menembus angka 1.500 kasus.
Demikian data yang dirilis oleh Kementerian Komunikasi dan Media Republik Demokratik Kongo, pada 28 juli 2026.
“Hingga hari ini, ada 3.442 kasus terkonfirmasi, termasuk 797 pasien isolasi atau rawat inap, 615 orang sudah pulih, dan 1.521 lainnya meninggal dunia. Tingkat kasus kematian mencapai 44 persen,” tulis Kementerian Komunikasi dan Media Republik Demokratik Kongo dalam laman resminya yang diakses TATOLI.
Sebelumnya, pada 17 Mei lalu, WHO menetapkan wabah Ebola di RD Kongo dan Uganda sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
Badan PBB itu menilai risiko penyebaran wabah ke kawasan yang lebih luas masih tinggi sehingga diperlukan penguatan langkah-langkah penanganan dan pengawasan di negara-negara terdampak.
Merespons terhadap Ebola yang terus berlangsung di lima provinsi yang terdampak yaitu Haut-Uélé, Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Tshopo untuk tetap melakukan pengobatan yang dikerahkan sepenuhnya di lapangan, karena, wabah juga kini menjangkau 49 zona kesehatan menyusul penambahan satu zona baru di provinsi Tshopo, sementara tim surveilans dan pengobatan tetap terus dikerahkan sepenuhnya di lapangan.
Sebelumnya, WHO sendiri telah memperingatkan bahwa wabah tersebut kemungkinan lebih besar dari yang terdeteksi saat ini, dengan menunjukkan adanya kelompok kematian yang tidak dapat dijelaskan, tingkat positif yang tinggi di antara sampel yang diuji, dan pemahaman yang terbatas tentang pola penularan.
Badan WHO juga menekankan bahwa wabah tersebut menimbulkan risiko bagi negara-negara tetangga karena mobilitas penduduk yang tinggi, hubungan perdagangan, dan tantangan kemanusiaan yang berkelanjutan di wilayah yang terkena dampak.
Terlepas dari risikonya, WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan internasional. Sebaliknya, WHO mendesak negara-negara untuk memperkuat pengawasan, kesiapan, dan keterlibatan masyarakat, sambil memastikan informasi publik yang akurat.
Pihak berwenang di DRC dan Uganda telah disarankan untuk mengaktifkan mekanisme respons darurat, meningkatkan pelacakan kontak dan pengujian laboratorium, meningkatkan pencegahan infeksi, dan meningkatkan kapasitas pengobatan.
TATOLI

