DILI, 20 Juli 2026 (TATOLI) – Ketua Global Geoparks Network (GGN), Prof. Artur Sá, menilai negara Indonesia dapat menjadi rujukan dan mitra strategis bagi Timor-Leste dalam mempercepat pengembangan serta pengajuan status Geopark Global UNESCO (UNESCO Global Geopark).
Hal tersebut disampaikan Prof. Artur Sá saat tiba di Dili dalam agenda penjajakan potensi geologi Timor-Leste bersama Institut Geosains Timor-Leste (Instituto de Geociências de Timor-Leste – IGTL).
Prof. Artur Sá menyebut Indonesia sebagai salah satu negara tetangga terkdekat yang kini tumbuh menjadi kekuatan utama dalam jaringan geopark dunia. Saat ini, Indonesia tercatat memiliki 12 UNESCO Global Geopark dan menduduki peringkat ketiga terbanyak di dunia setelah Tiongkok dan Spanyol.
Ke-12 Geopark Global UNESCO di Indonesia tersebut meliputi Geopark Kaldera Toba, Merangin Jambi, Belitong, Ciletuh-Palabuhanratu, Gunung Sewu, Gunung Batur, Rinjani Lombok, Kawah Ijen, Maros Pangkep, Raja Ampat, Kebumen, dan Meratus.
“Indonesia adalah contoh terdekat. Pengalaman dan pengetahuan yang dikumpulkan oleh para ahli di Indonesia tentu dapat memberikan wawasan berharga bagi Timor-Leste. Meski demikian, Timor-Leste tidak harus meniru secara mentah, karena setiap geopark bersifat unik dan diadaptasi sesuai kearifan serta karakteristik wilayahnya masing-masing,” kata Prof. Artur Sá di Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato, Dili.
Ia menambahkan bahwa kekuatan utama Geopark Global UNESCO terletak pada prinsip kerja sama jaringan (networking), di mana setiap negara saling belajar dan berbagi pengalaman (best practices).
Salah satu target utama Timor-Leste dalam pengembangan geopark adalah situs fosil Gunung Lesululi yang terletak di Desa Meligo, Daerah Administrasi Cailaco, Kotamadya Bobonaro. Kawasan ini menyimpan fosil Ichthyosaurus, reptil laut purba yang diperkirakan berusia 250 juta tahun yang ditemukan oleh tim IGTL pada survei geologi tahun 2020.
Guna menjaga nilai keaslian dan kealamian situs selama proses dokumentasi ilmiah berskala internasional oleh media asal Inggris, British Broadcasting Corporation (BBC), IGTL memutuskan untuk menunda pembangunan pagar atau tembok pelindung permanen di lokasi fosil tersebut.
Ketua IGTL, Job Brites dos Santos, menjelaskan bahwa dokumenter ilmiah yang melibatkan peneliti internasional dari Universitas Uppsala (Swedia), Universitas Oslo (Norwegia), dan Universitas Australia Barat tersebut dijadwalkan rampung pada tahun ini dan akan dirilis secara global oleh BBC pada 2027.
“Sesuai kesepakatan dengan tim BBC yang kembali melakukan pengambilan gambar akhir pada Juli ini, kami mempertahankan kondisi alami situs Lesululi. Pembangunan infrastruktur perlindungan fisik dan pemagaran akan dilanjutkan segera setelah seluruh proses pengambilan gambar selesai,” terang Job Brites.
Sejalan dengan proses riset tersebut, Pemerintah Timor-Leste melalui IGTL, Komisi Nasional UNESCO Timor-Leste (NatCom), dan Sekretariat Negara Kehutanan terus mematangkan kerangka hukum serta berkas pengajuan resmi status Geopark Global UNESCO untuk Gunung Lesululi.
Pemerintah tengah menyusun rancangan Dekret Hukum khusus yang akan diajukan ke Dewan Menteri sebagai dasar payung hukum perlindungan kawasan, sebelum dokumen resmi dikirimkan ke Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor: Armandina Moniz




