iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

Surat Putri Lú Olo, Dália: “Aku Merindukan Segalanya Tentangmu”

Surat Putri Lú Olo, Dália: “Aku Merindukan Segalanya Tentangmu”

Putri bungsu mendiang mantan Presiden Republik Timor-Leste, Dália Luliana Nobre Guterres, bersama sang ibu Cidália Lopes Nobre Mouzinho. Foto TATOLI/Francisco Sony

DILI, 26 Juni 2026 (TATOLI) – Ribuan pelayat yang memenuhi Taman Makam Pahlawan (TMP) Metinaru larut dalam kesedihan ketika putri bungsu mendiang mantan Presiden Republik Timor-Leste, Dália Luliana Nobre Guterres, membacakan sepucuk surat penuh kerinduan untuk sang ayah, Francisco Guterres Lú Olo, dalam prosesi penghormatan terakhir, Jumat (26/06).

Dengan suara bergetar dan air mata yang terus mengalir, Dália mengenang pelukan terakhir yang diterimanya dari sang ayah sebelum berangkat menjalani perawatan medis di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Ayah, kau meninggalkan rumah. Ayah tak berkata apa-apa padaku. Di bandara, Ayah hanya memelukku dan memberikan senyum indah untuk membuatku merasa lebih baik,” ucap Dália di hadapan keluarga, para pejabat negara, veteran, dan ribuan masyarakat yang hadir.

Dalam suratnya, Dália menceritakan firasat yang mendorongnya untuk segera menemui sang ayah. Dengan hati yang dipenuhi kerinduan, ia berharap masih memiliki kesempatan untuk kembali memeluk dan mendengar suara ayahnya.

Namun sesampainya di Kuala Lumpur, pelukan ibunya justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

“Dalam pelukan Ibu, aku mendapat jawaban bahwa Ayah telah tiada,” katanya.

Dália mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa dirinya telah kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat pulang dan sumber kekuatan keluarga.

“Dalam hatiku, aku berlari untuk memeluk Ayah. Tapi aku terlambat. Aku ingin mendengar suara Ayah, tapi suara Ayah telah tiada,” tuturnya.

Di hadapan liang makam, Dália juga mengungkapkan kesedihannya kepada Tuhan karena merasa ayahnya pergi terlalu cepat ketika keluarga masih sangat membutuhkan kehadirannya.

“Tuhan…, hatiku masih hancur. Hatiku tak kuat. Kakak Kakakku juga masih kecil. Mengapa Kau membawanya terlalu cepat, pada saat kami membutuhkannya? Dia adalah rumah kami, tempat perlindungan kami di tengah hujan dan badai,” ujarnya.

Bagian paling mengharukan dari surat itu adalah ketika Dália mengungkapkan kerinduannya terhadap hal-hal sederhana yang selama ini diberikan sang ayah.

“Aku merindukan segalanya tentangmu, Ayah. Pelukan yang membuatku merasa dicintai, rasa hormat yang membuatku aman, senyum manis yang membawa sukacita.”

Ia mengenang bagaimana ayahnya meninggalkan rumah dengan senyuman, namun kembali dalam keheningan yang meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.

“Papa, kau pergi dengan senyum, kembali dengan air mata untuk menutupi penderitaan kami. Hari ini tempat Papa kosong, suara Papa hilang di rumah, tetapi cintamu masih hidup dalam kenangan yang kau tinggalkan, di setiap hati kami.”

Menutup suratnya, Dália menyampaikan doa perpisahan kepada ayahnya.

Berita terkait : Mantan Presiden Timor-Leste Francisco Guterres “Lú Olo” meninggal dunia  

“Ayah di sana terus berdoa dan bernyanyi untuk kami dan Mama, dan kami di sini berdoa untuk Ayah di sana. Selamat tinggal, selamat tinggal Ayah,” katanya, sebelum kembali ke pelukan keluarganya.

Tangisan Dália membuat suasana di TMP Metinaru berubah hening. Banyak pelayat tak mampu membendung air mata ketika surat itu dibacakan, menjadikannya salah satu momen paling emosional sepanjang rangkaian pemakaman kenegaraan Lú Olo.

Francisco Guterres Lú Olo lahir di Belas, Ossu, Kotamadya Viqueque, pada 7 September 1954. Ia bergabung dengan FRETILIN sejak 1974 dan memasuki barisan gerilya FALINTIL pada 1975. Selama perjuangan kemerdekaan, ia mengemban berbagai tanggung jawab politik dan militer sebelum dipercaya memimpin FRETILIN.

Setelah kemerdekaan Timor-Leste, ia menjabat sebagai Ketua Majelis Konstituante, Ketua Parlemen Nasional, dan Presiden Republik Timor-Leste periode 2017–2022.

Lú Olo wafat pada 21 Juni 2026 di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, setelah menjalani perawatan intensif.

Sebelumnya, saat masih bergerilya, Lú Olo menikah dengan Clotilde Maria de Fátima e Silva atau “Lou Tik” pada September 1978. Lou Tik gugur dalam serangan militer Indonesia pada 1981 ketika sedang mengandung.

Pada 4 Mei 2002, beberapa hari sebelum Restorasi Kemerdekaan Timor-Leste, Lú Olo menikahi Cidália Lopes Nobre Mouzinho. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai empat orang anak, yakni Francisco Cidalino Guterres, Eldinho Nobre Guterres, Felizito Samora Nobre Guterres, dan Dália Luliana Nobre Guterres. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!