DILI, 12 Juni 2026 (TATOLI) – Kementerian Keuangan mengajukan tiga skenario fiskal untuk penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027, dengan pilihan tingkat belanja yang berbeda-beda dan konsekuensi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi serta keberlanjutan Dana Perminyakan Timor-Leste.
Ketiga skenario tersebut dipresentasikan dalam pembahasan APBN 2027 yang berlangsung di Kementerian Keuangan, Dili, Jumat, sebagai bagian dari proses penentuan arah kebijakan fiskal pemerintah untuk tahun depan.
Pembahasan ketiga skenario tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyusunan APBN 2027 yang mengusung tema “Memperkuat Ketahanan melalui Transformasi: Diversifikasi Ekonomi untuk Masa Depan yang Berkelanjutan.”
Dalam presentasi bertajuk “Skenario Fiskal 2027 – Usulan Kementerian Keuangan”, pemerintah menawarkan opsi anggaran rendah, moderat, dan tinggi, yang masing-masing memberikan dampak berbeda terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) serta umur Dana Perminyakan.
Pada skenario pertama, pemerintah mengusulkan anggaran sebesar US$1,94 miliar dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi antara 3 hingga 3,5 persen. Dalam skenario ini, Dana Perminyakan diperkirakan dapat bertahan hingga 2040.
Dibandingkan proyeksi realisasi APBN 2026, alokasi belanja untuk gaji dan tunjangan serta barang dan jasa tetap dipertahankan masing-masing sebesar US$473 juta dan US$341 juta. Sementara itu, transfer publik turun 3,8 persen menjadi US$729 juta, belanja modal kecil berkurang 33,6 persen menjadi US$24 juta, sedangkan belanja modal pembangunan meningkat 3 persen menjadi US$369 juta.
Secara keseluruhan, total anggaran dalam skenario tersebut mencapai US$1,936 miliar, atau turun 1,5 persen dibandingkan proyeksi belanja tahun 2026.
Pada skenario kedua, Kementerian Keuangan mengusulkan anggaran sebesar US$2,08 miliar dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 3,5 hingga 4,1 persen. Dalam opsi ini, Dana Perminyakan diperkirakan habis satu tahun lebih cepat, yakni pada 2039.
Belanja gaji dan tunjangan meningkat 2,3 persen menjadi US$484 juta, sementara belanja barang dan jasa naik signifikan sebesar 16,9 persen menjadi US$398 juta. Belanja modal pembangunan juga meningkat 26,2 persen menjadi US$453 juta, sedangkan transfer publik sedikit menurun menjadi US$730 juta.
Total anggaran dalam skenario moderat mencapai US$2,089 miliar, meningkat 6,2 persen dibandingkan proyeksi APBN 2026.
Adapun skenario ketiga menawarkan plafon anggaran tertinggi sebesar US$2,22 miliar dengan target pertumbuhan ekonomi antara 4,3 hingga 4,8 persen.
Namun, skenario ini juga membawa konsekuensi terbesar terhadap keberlanjutan fiskal negara, karena Dana Perminyakan diperkirakan akan habis pada 2037, atau tiga tahun lebih cepat dibandingkan skenario pertama.
Dalam skenario tersebut, belanja barang dan jasa meningkat tajam sebesar 39,3 persen menjadi US$475 juta. Belanja modal pembangunan juga naik 28,2 persen menjadi US$460 juta, sementara gaji dan tunjangan bertambah menjadi US$485 juta. Transfer publik dipertahankan pada level US$758 juta dan belanja modal kecil meningkat menjadi US$39 juta.
Total anggaran yang diusulkan dalam skenario ini mencapai US$2,217 miliar, atau meningkat 12,7 persen dibandingkan proyeksi realisasi tahun 2026.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




