DILI, 08 Mei 2026 (TATOLI)— Gubernur Bank Sentral Timor-Leste (BCTL), Helder Lopes mengungkapkan bahwa BCTL sejak menerima mandat mengelola Dana Perminyakan pada 2005 hingga 31 Maret 2026 mencapai US$25,29 miliar. Total pendapatan itu didapatkan dari hasil penjualan minyak dan gas dari ladang Bayu-Undan.
“Dana Perminyakan selama ini sering disebut sebagai “tabung oksigen” Timor-Leste karena menjadi sumber utama penopang keuangan negara. Saat ini, “tabung oksigen” tersebut memiliki saldo sebesar US$18,31 miliar,” kata Helder Lopes melalui program “Bainaka Kredivél” yang diselenggarakan TATOLI di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial Universidade Nasional Timor Lorosa’e (UNTL), Caicoli, Dili.
Ia menambahkan keberlanjutan dana tersebut sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam menggunakan Dana Perminyakan agar tetap dapat dimanfaatkan untuk jangka panjang.
“Ketika Dana Perminyakan dibentuk pada 2005, jumlah dananya masih sedikit, kemudian meningkat tajam setiap tahun hingga 2021 karena produksi minyak saat itu masih tinggi. Namun tahun ini dan tahun lalu, pendapatan dari minyak dan gas hanya sekitar US$36 juta, yang berarti pendapatan dari sektor minyak dan gas hampir habis,” katanya.
Menurut Helder Lopes, meskipun penerimaan dari sektor minyak dan gas terus menurun, kondisi pasar keuangan global yang masih memberikan hasil investasi cukup baik membantu menjaga keseimbangan Dana Perminyakan untuk membiayai kebutuhan negara.
Ia menjelaskan bahwa saat ini BCTL terus menempatkan investasi Dana Perminyakan pada dua portofolio utama, yakni surat utang pemerintah (treasury bonds) dan saham perusahaan internasional.
“Treasury bonds berarti kita meminjamkan dana kepada suatu negara, dan ketika jatuh tempo negara tersebut mengembalikan dana beserta bunganya. Saat ini investasi treasury bonds terbesar kami berada pada surat utang pemerintah Amerika Serikat,” jelasnya.
Ia juga mengatakan dana tersebut tidak hanya disimpan di bank, tetapi juga diinvestasikan untuk menghasilkan keuntungan dan menopang keberlanjutan keuangan negara.
“Dari total dana tersebut, sejak diinvestasikan hingga 31 Maret 2026, total keuntungan investasi mencapai US$11,93 miliar, sementara total dana yang telah ditarik untuk membiayai pengeluaran negara mencapai US$19,06 miliar. Adapun total saldo Dana Perminyakan hingga Maret tahun ini mencapai US$18,31 miliar,” kata Helder Lopes.
Helder Lopes menegaskan bahwa mandat yang diberikan kepada BCTL bukan sekadar menyimpan dana minyak dan gas, melainkan memastikan dana tersebut terus berkembang melalui investasi.
“Mandat yang diberikan kepada Bank Sentral adalah mengelola investasi Dana Perminyakan agar dana tersebut terus hidup dan berkembang,” ujarnya.
Selain itu, BCTL juga menempatkan investasi melalui indeks pasar saham global yang mencakup berbagai perusahaan internasional, termasuk perusahaan teknologi seperti Apple.
“Kami tidak langsung membeli saham Apple, tetapi berinvestasi melalui indeks yang mencakup banyak perusahaan, termasuk Apple. Ketika nilai saham perusahaan-perusahaan tersebut meningkat karena produknya diminati pasar, maka nilai aset investasi Timor-Leste juga ikut meningkat,” ujarnya.
Namun demikian, Helder Lopes mengakui bahwa ukuran Dana Perminyakan Timor-Leste masih relatif kecil sehingga tidak memiliki pengaruh terhadap pasar keuangan global dan hanya mengikuti dinamika pasar internasional.
BCTL peringatkan Dana Perminyakan Bisa Habis pada 2038
Dalam kesempatan yang sama, BCTL juga meminta Pemerintah Timor-Leste menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara bijaksana guna menjaga keberlanjutan fiskal negara, menyusul adanya peringatan bahwa Dana Perminyakan berpotensi habis pada 2038.
Helder Lopes mengatakan jika ritme pengeluaran negara terus meningkat setiap tahun tanpa pengelolaan yang hati-hati, maka Dana Perminyakan dapat habis lebih cepat.
“Saya ingin menegaskan bahwa ini bukan hanya pandangan Bank Dunia. Kita sendiri memahami bahwa jika terus membelanjakan dana tanpa kontrol, maka dana tersebut akan habis. Karena itu, kita harus menggunakan anggaran secara bijaksana,” katanya.
Ia menjelaskan sebelumnya Kementerian Keuangan memperkirakan bahwa dengan tren belanja negara yang terus meningkat dan tanpa keseimbangan dengan dana yang tersedia, Dana Perminyakan dapat habis pada 2034. Namun dalam dokumen APBN 2024, estimasi tersebut direvisi menjadi sekitar 2038 atau 2039.
Menurut Helder, peringatan tersebut penting untuk mendorong perhatian terhadap keberlanjutan fiskal jangka panjang Timor-Leste.
“Jika dana itu digunakan dengan baik untuk mendorong pembangunan ekonomi, khususnya sektor swasta, maka suatu hari nanti Timor-Leste tidak lagi bergantung pada Dana Perminyakan karena pendapatan ekonomi nasional sudah mampu menopang negara,” ujarnya.
Ia mengatakan salah satu peran utama BCTL dalam menjaga keberlanjutan Dana Perminyakan adalah memastikan investasi dilakukan dengan baik agar menghasilkan keuntungan optimal.
“Hasil investasi pada 2023 mencapai US$1,7 miliar, sementara tahun lalu pemerintah hanya menarik sekitar US$1,4 miliar, sehingga masih ada tabungan yang menambah saldo. Namun saya tegaskan bahwa pengeluaran tidak boleh lebih besar dari pendapatan,” katanya.
Helder Lopes juga menyampaikan tiga pesan utama kepada pemerintah terkait pengelolaan Dana Perminyakan agar dana tersebut tetap memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Pesan pertama adalah meminta para pengambil kebijakan untuk tidak hanya berpikir dalam jangka pendek hingga Dana Perminyakan habis, tetapi memastikan dana tersebut tetap ada dan terus berkembang.
Pesan kedua adalah menjaga keberlanjutan Dana Perminyakan sebagai dana antar-generasi sehingga tidak seluruhnya dihabiskan saat ini dan tetap dapat dinikmati generasi mendatang.
Sementara pesan ketiga adalah memastikan setiap dana yang ditarik dari Dana Perminyakan digunakan secara produktif untuk menciptakan manfaat ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Siapa pun yang memegang kekuasaan, ketika menarik dana dari Dana Perminyakan harus menggunakan dana tersebut dengan baik agar uang itu tidak mati, tetapi menghasilkan manfaat ekonomi baru dan mentransformasi masyarakat menjadi lebih sejahtera,” ujarnya.
BCTL menegaskan akan terus bekerja sama dengan pemerintah, Parlemen Nasional dan berbagai lembaga terkait guna memastikan Dana Perminyakan tetap berkelanjutan untuk melayani kepentingan generasi sekarang dan masa depan.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




