DILI, 28 April 2026 (TATOLI) – Pemerintah Timor-Leste sebagai Ketua Kelompok Negara-Negara Kurang Berkembang atau Least Developed Countries (LDC) Group untuk periode 2026–2027, menjadi tuan rumah LDC Group Strategy Meeting on Climate Action Implementation yang berlangsung pada 28-30 April di Dili, guna memperkuat koordinasi negara-negara rentan iklim menjelang perundingan iklim global tahun ini.
Pertemuan yang mempertemukan para koordinator tematik, penasihat senior, dan ahli teknis dari negara-negara LDC itu berfokus pada tindak lanjut hasil COP30 di Belém, Brasil, sekaligus mempersiapkan posisi bersama menuju sidang Subsidiary Body ke-64 (SB64) di Bonn, Jerman, Juni mendatang, dan COP31 di Antalya, Turki, November 2026. Pertemuan tersebut dilakukan di Hotel Novo Turismo, Dili.
Ketua LDC sekaligus Utusan Khusus dan Duta Besar Timor-Leste untuk Perubahan Iklim, Adão Soares Barbosa, mengatakan pertemuan strategis ini menjadi ruang penting untuk memperkuat prioritas bersama negara-negara berkembang paling rentan terhadap perubahan iklim.
Menurutnya, meskipun kontribusi Timor-Leste terhadap emisi gas rumah kaca global sangat kecil, negara ini terus menunjukkan kepemimpinan dalam aksi iklim melalui penyusunan Nationally Determined Contribution (NDC 3.0), National Adaptation Plan (NAP), serta berbagai strategi sektoral terkait iklim.
“Pertemuan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang aplikatif, memperkuat koordinasi implementasi aksi iklim di negara-negara LDC, sekaligus membentuk prioritas dan pesan bersama yang jelas dalam negosiasi mendatang,” ucap Dubes Adão, Senin ini.
Wakil Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama, Jesuina Maria Ferreira Gomes, dalam sambutannya menegaskan negara-negara LDC merupakan pihak yang paling sedikit menyumbang emisi global, namun justru menghadapi dampak paling berat akibat perubahan iklim.
Ia kembali menyerukan aksi yang mendesak dan ambisius untuk menjaga target 1,5 derajat Celsius sesuai Paris Agreement, termasuk melalui pembiayaan iklim yang lebih dapat diakses, peningkatan dukungan untuk loss and damage, transfer teknologi, dan penguatan kapasitas.

“Kelompok LDC tidak hanya harus merespons proses global, tetapi turut membentuknya,” ujar Jesuina.
Ia menilai hasil COP30, termasuk Paket Politik Belém yang menegaskan jalur 1,5 derajat dan komitmen melipatgandakan pembiayaan adaptasi pada 2025, menjadi dasar penting bagi percepatan implementasi, khususnya bagi negara berkembang yang menghadapi lanskap negosiasi yang semakin kompleks.
Sementara itu, Perwakilan United Nations Development Programme (UNDP) di Timor-Leste, Adeline Carrier, mengatakan kepemimpinan Timor-Leste di LDC Group mencerminkan kepercayaan negara-negara anggota terhadap kemampuan negara ini mendorong visi bersama dalam menghadapi krisis iklim.
Menurut Adeline, di tengah tantangan perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi dan kesenjangan digital, kekuatan utama LDC terletak pada persatuan dan aksi kolektif.
UNDP, kata dia, mendukung prioritas LDC melalui empat bidang utama, yakni diplomasi iklim dan pembiayaan, transisi energi dan diversifikasi ekonomi, penguatan ketahanan masyarakat rentan, serta digitalisasi untuk pembangunan berkelanjutan.
Ia mengungkapkan rancangan NDC ketiga Timor-Leste baru-baru ini telah selesai dan segera menunggu persetujuan pemerintah.
“Timor-Leste membuktikan transformasi itu mungkin. Semangat ketahanan yang sama kami harapkan membimbing diskusi selama pertemuan ini,” ujarnya.
Adeline juga menilai posisi ganda Timor-Leste sebagai Ketua LDC sekaligus negara yang tengah berintegrasi penuh ke dalam ASEAN memberi peluang strategis untuk menjembatani agenda regional dan global, termasuk memastikan transformasi struktural ekonomi negara berkembang tetap menjadi prioritas internasional.
Pertemuan tiga hari ini juga mencakup pembahasan pembiayaan adaptasi, pembelajaran dari implementasi proyek iklim, refleksi atas hasil COP30, serta kunjungan lapangan untuk melihat dampak proyek-proyek ketahanan iklim di Timor-Leste.
Melalui forum ini, Timor-Leste memperkuat perannya bukan hanya sebagai negara rentan terhadap perubahan iklim, tetapi juga sebagai aktor diplomasi yang aktif mendorong implementasi nyata agenda iklim global.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




