iklan

INTERNASIONAL

UN Women : 38 ribu lebih perempuan dan anak perempuan tewas dalam perang Gaza

UN Women : 38 ribu lebih perempuan dan anak perempuan tewas dalam perang Gaza

Perempuan di Gaza. Foto REUTERS

DILI, 19 April 2026 (TATOLI) – Perang di Gaza telah menimbulkan korban jiwa yang jauh lebih besar pada perempuan dan anak perempuan dibandingkan konflik-konflik sebelumnya di wilayah Palestina tersebut, dengan lebih dari 38.000 38.000 perempuan dan anak perempuan tewas dalam perang Gaza, akibat bombardir udara dan operasi militer darat Israel sejak serangan teror yang dipimpin Hamas di Israel memicu perang pada Oktober 2023.

Demikian laporan UN Women yang dipublikasikan dalam Portal PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada 17 april ini. Dimana, dalam laporan itu, Kepala Aksi Kemanusiaan UN Women menyebutkan bahwa jumlah total keseluruhan mencakup setidaknya 22.000 perempuan dan 16.000 anak perempuan , dan rata-rata setidaknya 47 perempuan dan anak perempuan tewas setiap hari.

“ Mereka yang terbunuh adalah ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan teman, yang sangat dicintai oleh orang-orang di sekitar mereka,”  katanya. Ia  menambahkan bahwa pembunuhan terus berlanjut dalam beberapa bulan terakhir, meskipun ada gencatan senjata antara pejuang Hamas dan militer Israel.

Dikatakan, data juga menunjukkan bahwa hampir 11.000 perempuan dan anak perempuan telah terluka dan banyak yang mengalami kecacatan yang mengubah hidup mereka. Jumlah korban sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena banyak jenazah masih terjebak di bawah reruntuhan.

Sementara itu,  Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 72.315 warga Palestina telah tewas di Jalur Gaza dan 172.137 lainnya terluka sejak Oktober 2023.

Hal ini telah menciptakan keadaan darurat kemanusiaan kronis di Gaza, di mana banyak rumah tangga kini dipimpin oleh perempuan yang menghadapi peningkatan kesulitan ekonomi dan risiko perlindungan. 

Dilain pihak, enam bulan sejak gencatan senjata dimulai di Gaza Oktober lalu, perempuan dan anak perempuan terus menghadapi risiko yang berat dan berkelanjutan, karena kebutuhan kemanusiaan tetap kritis dan kondisi pemulihan tetap rapuh.

“Perang ini telah mengubah bentuk keluarga. Puluhan ribu rumah tangga kini dipimpin oleh perempuan,” tegas Ibu Calltorp dari UN Women.

“Setelah kehilangan suami, mereka menghidupi keluarga tanpa penghasilan, tanpa dukungan, atau akses ke layanan penting. Selain itu, sebagian besar layanan sama sekali tidak tersedia”, kata Ibu Calltorp.

Ia juga mengenang kunjungannya ke Gaza pada bulan November tahun lalu dan bertemu dengan dua wanita yang harus melahirkan bayi mereka di jalan, “karena tidak ada transportasi untuk membawa mereka ke rumah sakit yang berfungsi”.

UN Women menyerukan penghormatan penuh terhadap gencatan senjata, kepatuhan terhadap hukum internasional, dan peningkatan bantuan kemanusiaan, menekankan bahwa perempuan dan anak perempuan harus menjadi pusat upaya pemulihan dan pembangunan perdamaian.

UN WOMEN saat ini tetap berada di Gaza dan bermitra dengan organisasi-organisasi yang dipimpin perempuan dan organisasi-organisasi yang memperjuangkan hak-hak perempuan.

Bersama dengan sistem PBB, mitra bantuan, dan organisasi perempuan, UN Women berupaya menjangkau semua perempuan dan anak perempuan dengan bantuan yang menyelamatkan jiwa dan memastikan bahwa organisasi perempuan didanai dan terwakili dalam pengambilan keputusan dan rekonstruksi.

Melansir dari Wikipedia menyebutkan,  Perang Gaza, juga disebut sebagai Perang Israel-Hamas atau Perang Israel-Gaza, adalah konflik bersenjata yang dimulai pada 7 Oktober 2023, menyusul serangan teroris terkoordinasi terhadap Israel oleh beberapa kelompok militan Palestina yang menargetkan kota-kota, perbatasan, instalasi militer yang berdekatan, dan permukiman sipil di dekat Jalur Gaza di Israel selatan.

Permusuhan ini dimulai dengan bombardir rudal terhadap Israel dan serangan kendaraan ke wilayah Israel, dengan banyak serangan yang dilakukan terhadap personel militer Israel serta terhadap komunitas sipil Israel. Balasan Israel dengan pemboman dan serangan militer terhadap Gaza disebut Operasi Pedang Besi. Perang ini ditandai dengan kebrutalan dan kesulitan, dengan para ahli dan organisasi hak asasi manusia (PBB) menyatakan bahwa Israel dan Hamas melakukan banyak kejahatan perang.

TATOLI

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!