DILI, 22 April 2026 (TATOLI) – Bank Sentral Timor-Leste (BCTL) terus memperkuat literasi keuangan di berbagai kotamadya guna mencegah peredaran uang palsu, sekaligus mendorong masyarakat beralih ke sistem transaksi digital yang dinilai lebih aman dan efisien.
Wakil Gubernur BCTL, Sara Lobo, mengatakan bahwa bank sentral bersama bank-bank komersial tengah mempersiapkan peluncuran sistem pembayaran berbasis QR Code yang memungkinkan masyarakat melakukan transaksi hanya melalui ponsel.
“Dengan penggunaan QR Code, risiko peredaran uang palsu dapat diminimalkan karena masyarakat tidak lagi bergantung pada uang fisik,” ujar Wakil Gubernur BCTL itu.
Ia menegaskan bahwa dalam mendorong pembayaran digital, para pelaku usaha juga perlu menyediakan fasilitas pembayaran non-tunai agar pelanggan dapat bertransaksi dengan lebih cepat, aman, dan praktis.
Menurutnya, implementasi awal sistem ini akan difokuskan di Dili, terutama pada toko-toko besar, kalangan pelajar, serta masyarakat yang telah memiliki pemahaman teknologi. Setelah itu, sistem akan diperluas secara bertahap ke wilayah lain, termasuk daerah terpencil yang saat ini masih bergantung pada uang tunai.
Meski demikian, BCTL tetap mengintensifkan sosialisasi mengenai ciri-ciri uang asli, khususnya di daerah pedesaan. Hal ini penting mengingat masih ditemukannya peredaran uang palsu dalam berbagai pecahan, mulai dari 50 centavos, 200 centavos, US$5, US$20 hingga US$100.
BCTL juga mengimbau masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil, agar lebih berhati-hati saat menerima uang tunai bernilai besar seperti US$100. Pecahan tersebut umumnya digunakan untuk transaksi besar atau perjalanan ke luar negeri, sehingga perlu diperiksa dengan teliti.
Dalam kegiatan sosialisasi, masyarakat diberikan pemahaman tentang karakteristik uang asli, seperti tekstur kertas, pita pengaman, serta tanda air yang dapat dilihat dengan bantuan cahaya.
“Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan mampu mengenali keaslian uang saat melakukan transaksi, sehingga tidak menjadi korban peredaran uang palsu,” tambahnya.
BCTL menilai upaya literasi keuangan ini sangat penting untuk melindungi masyarakat, terutama di tengah meningkatnya risiko peredaran uang palsu yang dapat merugikan pelaku usaha maupun konsumen.
Sejak diperkenalkannya koin 200 centavos, BCTL telah melakukan sosialisasi awal di toko-toko di Dili, termasuk di kawasan perdagangan yang dikelola komunitas Tionghoa. Dalam dua minggu terakhir, tim BCTL juga telah mengunjungi sejumlah wilayah yang dianggap rentan terhadap peredaran uang palsu.
Kegiatan edukasi tersebut akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari komitmen BCTL dalam menjaga stabilitas sistem pembayaran nasional serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap transaksi keuangan.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




