DILI, 15 Februari 2026 (TATOLI) – Bapa Suci, Paus Leo XIV, dalam Pesan Prapaskah 2026 yang dirilis 13 Februari di Vatikan, menekankan pentingnya menjalankan puasa tidak hanya dalam bentuk pantang makanan, tetapi juga dengan menahan diri dari kata-kata yang melukai sesama.
Dalam pesan bertajuk “Listening and Fasting: Lent as a Time of Conversion”, Paus mengajak umat Katolik menjadikan Prapaskah sebagai masa pertobatan sejati melalui dua jalan utama, yakni mendengarkan Sabda Allah dan mempraktikkan puasa secara autentik.
“Marilah kita mulai dengan melucuti bahasa kita, menghindari kata-kata keras dan penilaian yang tergesa-gesa, menjauhi fitnah serta kebiasaan membicarakan keburukan orang lain yang tidak hadir dan tidak dapat membela diri,” tulis Paus.
Menurutnya, bentuk puasa ini sangat relevan di tengah kehidupan modern yang dipenuhi percakapan di media sosial, perdebatan politik, serta arus informasi yang kerap memicu ujaran kebencian.
Ia mendorong umat untuk menggantikan kata-kata yang menyakiti dengan bahasa yang membawa harapan dan damai, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, komunitas Gereja maupun ruang publik.
Selain menyoroti puasa dari kata-kata yang melukai, Paus Leo XIV juga menekankan pentingnya sikap mendengarkan sebagai langkah awal pertobatan. Ia mengingatkan bahwa Allah sendiri adalah Pribadi yang mendengarkan, sebagaimana dinyatakan dalam kisah panggilan Musa ketika Tuhan mendengar jeritan umat-Nya yang tertindas di Mesir.
Mendengarkan Sabda Allah dalam liturgi, menurut Paus, membantu umat mengenali jeritan mereka yang menderita serta membangun kepekaan terhadap kaum miskin dan tertindas. Kondisi orang miskin, katanya, merupakan seruan yang terus-menerus menantang kehidupan pribadi, masyarakat, sistem politik dan ekonomi, serta Gereja.
Lebih lanjut, Paus menjelaskan bahwa puasa sebagai praktik asketis membantu manusia menyadari apa yang sungguh menjadi “rasa lapar” dalam hidupnya dan menata kembali keinginan agar terarah kepada Allah serta keadilan.
Mengutip Santo Agustinus, ia menegaskan bahwa manusia dipanggil untuk lapar dan haus akan kebenaran dan keadilan selama hidup di dunia, sementara kepenuhan sejati adalah bagian dari kehidupan yang akan datang.
Namun, Paus mengingatkan agar puasa dijalankan dalam iman dan kerendahan hati, sehingga tidak menjadi sumber kesombongan. Puasa, katanya, harus disertai komitmen untuk hidup lebih sederhana dan bertanggung jawab terhadap sesama.
Pada bagian akhir pesannya yang ditandatangani di Vatikan pada 5 Februari 2026, bertepatan dengan peringatan Santa Agata, Perawan dan Martir, Paus Leo XIV mengajak paroki, keluarga dan komunitas religius untuk menjalani perjalanan Prapaskah secara bersama-sama.
Ia memohon rahmat agar masa Prapaskah tahun ini menumbuhkan perhatian yang lebih besar kepada Allah dan kepada mereka yang paling kecil, sehingga Gereja semakin menjadi ruang di mana jeritan mereka yang menderita menemukan sambutan dan jalan pembebasan.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor: Armandina Moniz




