DILI, 07 Januari 2026 (TATOLI)– Paus Leo XIV menutup Pintu Suci Basilika Santo Petrus pada perayaan Hari Raya Epifani Tuhan (06/01), menandai berakhirnya Tahun Yubileum Harapan secara resmi. Penutupan Pintu Suci terakhir itu dilakukan pada awal Misa Kudus yang dipimpin Paus di Basilika Santo Petrus dan dihadiri sekitar 5.800 umat.
Dikutip dari Vatican News, dalam perayaan tersebut, Paus Leo XIV memimpin Ekaristi sekaligus menutup rangkaian bulan-bulan Yubileum, yang selama itu telah dilalui oleh “arus tak terhitung banyaknya pria dan wanita, peziarah harapan” yang melintasi ambang Basilika Santo Petrus. Paus menggambarkan perjalanan itu sebagai ziarah menuju “Yerusalem baru, kota yang pintunya selalu terbuka”.
Merenungkan Injil menurut Matius, Paus menyoroti kontras antara sukacita orang Majus dan ketakutan Raja Herodes. Menurutnya, Kitab Suci tidak pernah menyembunyikan ketegangan yang menyertai penampakan Allah, yang memunculkan reaksi berlawanan seperti sukacita dan kegelisahan, ketaatan dan perlawanan. Epifani, kata Paus, menyingkapkan kehadiran Allah yang tidak pernah membiarkan segala sesuatu tetap sama.
“Kehadiran Tuhan menandai awal harapan,” ujar Paus. Ia menegaskan bahwa Epifani mengakhiri sikap puas yang melankolis dan membuka sesuatu yang baru bagi masa kini dan masa depan, sebagaimana janji kenabian: “Bangkitlah, bersinarlah; karena terangmu telah datang, dan kemuliaan Tuhan telah terbit atasmu”.
Namun, Paus juga mengingatkan bahwa Yerusalem—kota yang akrab dengan wahyu—justru terguncang oleh pencarian orang Majus. Mereka yang merasa telah memiliki semua jawaban, katanya, kerap kehilangan kemampuan untuk bertanya dan memelihara kerinduan. Situasi ini, lanjut Paus, menjadi tantangan pula bagi Gereja.
Merefleksikan makna Yubileum, Paus Leo XIV mengajak umat untuk merenungkan pencarian spiritual pria dan wanita masa kini. Ia menegaskan bahwa “para Majus masih ada hingga hari ini,” yakni mereka yang terdorong untuk pergi dan mencari, meski harus menghadapi risiko dalam dunia yang sering kali tidak ramah.
Injil, menurut Paus, menyerukan Gereja untuk tidak takut pada pencarian itu, melainkan menghargainya dan mengarahkannya kepada Tuhan yang hidup dan memberi kehidupan.
Paus menekankan bahwa tempat-tempat ziarah Yubileum harus memancarkan kehidupan dan harapan, menjadi tanda bahwa “dunia lain telah dimulai.” Ia juga mempertanyakan kesiapan Gereja untuk memberi ruang bagi sesuatu yang baru, serta kesediaan untuk mewartakan Tuhan yang menuntun umat dalam sebuah perjalanan iman.
Sebaliknya, Paus mengingatkan figur Herodes sebagai simbol ketakutan akan kehilangan kuasa. Ketakutan, katanya, dapat membutakan, sementara sukacita Injil justru membebaskan dan menumbuhkan keberanian, kreativitas, serta membuka jalan baru.
Menutup khotbahnya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa inti Epifani adalah anugerah yang tidak dapat dibeli atau dikendalikan. Anak yang disembah para Majus adalah kebaikan yang tak ternilai, yang menyingkapkan diri bukan di tempat megah, melainkan dalam kesederhanaan Betlehem.
“Sungguh luar biasa untuk menjadi peziarah harapan dan berjalan bersama,” kata Paus. Ia menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk tidak menjadi monumen, melainkan rumah, agar dapat terus menjadi “generasi fajar baru” yang dipandu Maria, Bintang Pagi, menuju kemanusiaan yang diubah oleh kasih Allah yang menjadi manusia.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




