DILI, 04 Desember 2025 (TATOLI) – Dewan Pers (CI) Timor-Leste bersama Sekretariat Negara Bidang Komunikasi Sosial (SEKOMS), didukung Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), serta Aliansi Pemeriksa Fakta di Timor-Leste hari ini meluncurkan website pemeriksa fakta untuk memerangi misinformasi.
Menurut Ketua Dewan Pers Timor-Leste, António Cesar Mali, bahwa peluncuran situs web ini merupakan platform untuk memerangi misinformasi, disinformasi, dan informasi menyesatkan yang beredar di Timor-Leste.
“Hari ini merupakan momen penting bagi ekosistem informasi di negara kita di era digital, di mana informasi menyebar dengan sangat cepat, sehingga memudahkan masyarakat untuk menerima pesan, opini, dan berita. Seperti yang diketahui, terkadang informasi tersebut tidak benar, salah, atau manipulatif,” kata Ketua Dewan Pers TL, António Cesar Mali di Quintal Boot Dili, Kamis ini.
António Cesar Mali menambahkan bahwa Aliansi Pemeriksa Fakta di Timor-Leste melibatkan berbagai pihak yaitu, jurnalis, masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan individu yang ingin berjuang melawan disinformasi.
“Melalui kerja sama dan kolaborasi yang erat dengan UNESCO Jakarta, pelatihan pemeriksa fakta telah diperluas untuk mencakup jurnalis, anggota asosiasi jurnalis, masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, dan akademisi dari delapan universitas. Hingga saat ini, menurut data yang tersedia, pelatihan telah diikuti sekitar 400 orang, sebuah pencapaian yang menunjukkan komitmen kolektif terhadap integritas informasi,” lapornya.
Sementara itu, Sekretaris Negara bidang Komunikasi Sosial (SECOMS), Expedito Loro Dias Ximenes, melaporkan bahwa di era informasi yang beredar lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memverifikasi, teknologi AI memperkuat banyak aspek positif dan dapat membantu mempercepat produksi konten data serta distribusi informasi.
“Di saat yang sama, AI membawa risiko baru : misinformasi menyebar lebih cepat, lebih mudah meyakinkan orang untuk mempercayainya, dan lebih sulit dilacak penyebarannya. Fenomena seperti video deepfake, audio palsu, foto rekayasa, dan teks otomatis memengaruhi opini publik, menghancurkan reputasi, mengganggu proses demokrasi, dan mengancam stabilitas sosial,” ujarnya.
Pejabat pemerintah tersebut menyatakan bahwa tim pemeriksa fakta memiliki tiga fungsi terpenting yaitu :
- Memastikan akurasi informasi – Informasi yang dikonsumsi warga negara harus akurat, terverifikasi, dan berasal dari sumber tepercaya. Ketika algoritma AI menghasilkan konten dalam hitungan menit, layanan verifikasi menjadi semakin vital
- Meningkatkan literasi digital masyarakat – Tim memverifikasi fakta dan menyadarkan warga negara agar dapat membedakan sumber tepercaya dari berita palsu, mewaspadai manipulasi digital, dan menjadi pengguna digital yang kritis
- Memperkuat kepercayaan – Dalam ekosistem media, “kepercayaan” adalah modal utama. Tanpa mekanisme pengecekan fakta, media kehilangan kredibilitas, lembaga kehilangan legitimasi, dan publik kehilangan arah yang tepat.
Expedito Loro Dias Ximenes meminta tim pengecekan fakta untuk membantu SEKOMS memastikan ruang informasi yang aman dan transparan bagi pemerintah.
“Tim pengecekan fakta dapat bermitra dengan jurnalis dan setiap ruang redaksi untuk mendorong perubahan di kalangan profesional jurnalisme, karena kita tahu masyarakat semakin rentan terhadap informasi, terutama yang dihasilkan kecerdasan buatan,” pungkasnya.
Untuk diketahui bahwa tujuan utama website pemeriksa fakta itu adalah memerangi hoaks dan misinformasi dengan menyediakan hasil verifikasi fakta yang akurat dan dapat dipercaya kepada publik.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz




