iklan

HEADLINE, PENDIDIKAN

Transformasi Pendidikan Digital, Menteri Dulce: Teknologi bukan pengganti guru

Transformasi Pendidikan Digital, Menteri Dulce: Teknologi bukan pengganti guru

Menteri Pendidikan, Dulce de Jesus Soares. Foto Tatoli

DILI, 25 Agustus 2025 (TATOLI) – Menteri Pendidikan, Dulce de Jesus Soares, menegaskan bahwa transformasi digital dalam dunia pendidikan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan untuk menggantikan peran guru.

Hal tersebut sampaikan Menteri Dulce dalam seminar “Mendorong Transformasi Digital di Timor-Leste: Memanfaatkan Platform Sumber Terbuka untuk Inovasi dan Keterampilan” yang berlangsung di Pusat Konvensi Dili (CCD), senin ini.

“Penggunaan teknologi digital adalah untuk meningkatkan proses belajar-mengajar, bukan untuk menggantikan guru. Fokuslah untuk selalu menggunakan pedagogi yang inklusif dan efektif, sehingga siswa belajar melalui pembelajaran aktif,” kata Menteri Dulce.

Ia menegaskan bahwa Kementerian Pendidikan terus berkomitmen mempersiapkan siswa menghadapi era digital melalui reformasi kurikulum, terutama di tingkat siklus ke-III.

Prioritas utama diarahkan pada pengembangan kompetensi abad ke-21, seperti kreativitas, komunikasi, berpikir kritis, dan literasi digital.

Berita terkait : MTK gandeng Telkomcel – Google Indonesia percepat transformasi pendidikan digital TL

“Kompetensi ini akan membantu siswa mengembangkan kelincahan dan fleksibilitas yang dibutuhkan untuk pekerjaan masa depan, termasuk pekerjaan yang saat ini belum ada,” jelasnya.

Menurutnya, transformasi digital di Kementerian Pendidikan telah dimulai sejak 2016 melalui pemanfaatan aplikasi digital bagi pengawas dan mentor sekolah. Pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, teknologi daring semakin diandalkan, termasuk dalam pengembangan perpustakaan digital dan kursus online bagi guru.

Pada 2023, Kementerian Pendidikan bekerja sama dengan SEAMEO untuk memberikan pelatihan jangka panjang penggunaan platform sumber terbuka. Aplikasi seperti Padlet, Quizlet, Kahoot, hingga Google Suite for Education mulai diterapkan, dengan fokus utama di jenjang sekolah menengah.

Selain itu, dukungan Kementerian Perhubungan dan Telekomunikasi melalui program TIC TIMOR turut memperluas akses pendidikan gratis, termasuk Google Education Suite dan Canva for Education.

Menteri Dulce juga mengingatkan siswa agar bijak menggunakan teknologi digital. Ia mendorong generasi muda untuk memanfaatkan internet dalam riset, penguasaan keterampilan baru, dan pengembangan kreativitas, bukan sekadar untuk hiburan semata.

“Belajar menari di aplikasi TikTok memang menyenangkan, tetapi itu tidak mengembangkan keterampilan kognitif maupun sosio-emosional. Gunakanlah media sosial dengan rasa ingin tahu, welas asih, dan hormat,” tegasnya.

Ia juga menyinggung penggunaan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, AI bisa menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan secara benar, misalnya membantu diversifikasi materi pembelajaran atau akses bahasa. Namun, AI tidak boleh menggantikan usaha belajar siswa itu sendiri.

“Jika kalian hanya mengandalkan AI seperti ChatGPT untuk mengerjakan tugas tanpa mempelajari isinya, maka saat ujian kalian akan gagal,” ujarnya mengingatkan.

Menteri Dulce menyampaikan keyakinan bahwa dengan energi pemuda, dedikasi para guru, inovasi perusahaan, serta dukungan mitra teknologi global seperti Google dan Telkomcel, Timor-Leste tidak hanya akan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi digital sendiri.

“Transformasi digital bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana masyarakat Timor-Leste dapat menggunakan teknologi ini untuk membangun kepercayaan diri dan kapasitas mereka demi masa depan bangsa,” tandasnya.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!