DILI, 25 Juli 2025 (TATOLI)—Timor – Leste telah meraih sertifikat eliminasi bebas malaria dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). Sertifikat eliminasi itu sebagai sebuah pencapaian besar di bidang kesehatan masyarakat bagi negara tropis muda yang telah meluncurkan upaya pemberantasan penyakit tersebut sejak tahun 2002.
Melalui siaran pers dari WHO yang diakses Tatoli, Jumat ini menyebutkan pengumuman hari ini, ada total 47 negara dan satu wilayah yang telah disertifikasi bebas malaria oleh WHO. Timor-Leste merupakan negara ketiga di kawasan Asia Tenggara yang disertifikasi oleh WHO, bersama dengan Maladewa (2015) dan Sri Lanka (2016). Hal ini juga menandai eliminasi penyakit kedua Timor-Leste dalam dua tahun, setelah sertifikasi bebas dari penyakit filariasis limfatik pada tahun 2024.
“WHO mengucapkan selamat kepada rakyat dan pemerintah Timor-Leste atas langkah penting ini. Keberhasilan Timor-Leste membuktikan bahwa malaria dapat dihentikan dengan kemauan politik yang kuat, intervensi yang bijaksana, investasi domestik yang berkelanjutan, serta tenaga kesehatan yang berdedikasi untuk bersatu.” kata Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui siaran pers tersebut.

Berita terkait : Sertifikasi Bebas Malaria, Tim penilaian WHO akan lakukan penilaian akhir pada TL
WHO mensertifikasi eliminasi malaria ketika suatu negara membuktikan, tanpa keraguan yang wajar, bahwa penularan malaria di dalam negeri telah terputus di seluruh negeri selama setidaknya tiga tahun berturut-turut.
Timor-Leste telah berhasil mengurangi kasus malaria yang tinggi mencapai lebih dari 223.000 pada tahun 2006 menjadi nol kasus malaria di dalam negeri mulai tahun 2021, sebuah pencapaian yang signifikan di negara tropis, di mana kondisi iklim mendukung reproduksi dan penularan nyamuk sepanjang tahun.
Dalam siaran pers dari WHO itu juga, Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão mengatakan bahwa eliminasi malaria ini merupakan momen kebanggaan nasional yang luar biasa.
“Selama hampir 20 tahun, kami telah berjuang dari desa ke desa, dari keluarga ke keluarga. Kemenangan ini milik para tenaga kesehatan kami yang tidak takut dan setiap keluarga yang memilih untuk mencegah,” jelas PM Xanana.
Selain itu Menteri Kesehatan, Élia dos Reis Amaral, juga menginformasikan bahwa malaria telah menjadi salah satu musuh terkuat di negara ini.
“Kita kehilangan terlalu banyak nyawa karena penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Namun, tenaga kesehatan kita pantang menyerah, komunitas kita kuat, dan mitra kita, seperti WHO, mendampingi kita,” ujarnya, sambil mendesak para tenaga kesehatannya untuk mencegah kebangkitan malaria melalui kewaspadaan berkelanjutan dan aksi komunitas.
Begitu juga Perwakilan WHO di TL, Arvind Mathur dalam siaran pers itu juga, mengutarakan sertifikasi bebas malaria merupakan kemenangan nasional yang menentukan, didukung oleh kepemimpinan yang berani, upaya para tenaga kesehatan, dan tekad rakyatnya.
“Timor-Leste tetap fokus, menguji, mengobati, dan menyelidiki dengan cepat. Mengakhiri penularan dan mempertahankan nol kematian membutuhkan lebih dari sekadar sains, Ini membutuhkan keberanian,” jelasnya.

Dalam siaran pers itu dijelaskan bahwa, keberhasilan Timor-Leste dalam memberantas malaria dimulai dengan pembentukan Program Malaria Nasional yang cepat oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2003. Selama bertahun-tahun, negara ini telah melakukan tes diagnostik cepat, memperkenalkan terapi kombinasi dan membagikan kelambu berinsektisida gratis kepada masyarakat berisiko tinggi.
Meskipun kekurangan tenaga kesehatan dan dokter, Pemerintah Timor-Leste terus berinvestasi dalam sistem kesehatan tiga Tingkat, rumah sakit nasional, rumah sakit rujukan, pusat kesehatan masyarakat, dan pos kesehatan, yang melengkapi upayanya untuk memperluas pengendalian malaria.
Pada tahun 2009, dengan dukungan dari Global Fund, Timor-Leste memperluas pengendalian vektor di seluruh negeri melalui distribusi kelambu berinsektisida tahan lama dan penyemprotan dalam ruangan secara luas. Diagnosis malaria juga diperluas, dengan mikroskopi dan tes diagnostik cepat yang tersedia di semua pos kesehatan setempat.
Berita terkait : Tahun ini, Timor – Leste akan raih sertifikat bebas malaria
Timor-Leste telah memainkan peran penting dalam mendukung WHO Langkah negara menuju eliminasi. Ini termasuk memfasilitasi penilaian di lapangan setelah 36 bulan tanpa kasus di daerah asal dan memfasilitasi Misi Pra-Sertifikasi WHO pertama dan kedua pada tahun 2023 dan 2024.
WHO juga mengoordinasikan Misi Sertifikasi Final pada tahun 2025, yang menegaskan penghentian berkelanjutan penularan di daerah asal. Selama bertahun-tahun, WHO Timor-Leste juga telah membantu Menteri Kesehatan dalam memperoleh hibah untuk mendukung upaya pengendalian malaria.
Dengan pengawasan waktu nyata melalui sistem pengawasan berbasis kasus terpadu (ICBS-TL) dan tenaga kesehatan terlatih untuk memastikan deteksi dini dan cepat, termasuk di perbatasan Timor-Leste telah membangun pertahanan yang kuat terhadap kembalinya malaria. Upaya terpadu ini tidak hanya mengarah pada sertifikasi tetapi juga akan menjadi kunci untuk menjaga kewaspadaan di tahun-tahun mendatang.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz




