Rehabilitasi jalan Letefoho–Atsabe–Lourba resmi dilakukan

ERMERA, 30 Oktober 2026 (TATOLI) – Perdana Menteri (PM) Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, secara resmi melakukan peletakan batu pertama Proyek Rehabilitasi Jalan Letefoho–Atsabe–Lourba sepanjang 48,93 kilometer dengan nilai kontrak sebesar US$43.199.250,51, guna meningkatkan aksesibilitas, memperlancar mobilitas masyarakat, serta mendorong aktivitas ekonomi di Kotamadya Ermera dan Bobonaro.
Upacara peletakan batu pertama tersebut dihadiri Menteri Pekerjaan Umum, Samuel Marçal, sejumlah anggota Pemerintah, otoritas setempat, tokoh masyarakat, serta warga dari Letefoho, Atsabe, dan Lourba yang turut menyaksikan momentum penting bagi pengembangan infrastruktur jalan di wilayah tersebut.
Proyek ini akan dilaksanakan selama dua tahun oleh perusahaan asal Tiongkok, Shanghai Construction Group, dengan tujuan memperbaiki kondisi jalan, meningkatkan keselamatan pengguna, serta memperlancar transportasi masyarakat dan distribusi barang antarkomunitas.
Mengusung tema “Infrastruktur sebagai Fondasi Pembangunan Masyarakat dan Bangsa”, Pemerintah Konstitusional IX kembali menegaskan komitmennya untuk terus berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur dasar sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendorong pembangunan ekonomi dan sosial di wilayah pedesaan.
Dalam sambutannya, Perdana Menteri Xanana Gusmão menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya melalui pembangunan dan rehabilitasi jalan yang menghubungkan kampung, desa, dan daerah administratif dengan pusat kegiatan ekonomi serta layanan publik.
Menurut Kepala Pemerintahan, kondisi jalan yang baik akan mempermudah masyarakat mengakses layanan pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi, sekaligus mengurangi berbagai kesulitan yang selama bertahun-tahun dihadapi masyarakat di daerah pedesaan.
“Pembangunan bukan hanya untuk kepentingan masing-masing individu, tetapi untuk seluruh komunitas dan masyarakat. Kita harus memperhatikan desa, daerah administratif, dan kampung. Ketika jalan dibangun hingga ke kampung, kita dapat membangun sekolah dan rumah bagi para guru agar mereka tidak perlu berjalan jauh,” kata Xanana Gusmão.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan infrastruktur jalan juga sangat penting untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama para lanjut usia, anak-anak, dan warga yang sakit serta tinggal jauh dari pusat kesehatan maupun rumah sakit.
“Ketika jalan sudah menjangkau kampung dan desa, di sana juga dapat dibangun klinik dan rumah bagi tenaga kesehatan, sehingga masyarakat yang sakit dan para lanjut usia tidak perlu menempuh perjalanan jauh hingga ke Dili,” tegasnya.
Xanana Gusmão juga mengimbau seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan, tidak hanya melalui keterlibatan dalam pekerjaan, tetapi juga dengan menjaga stabilitas, perdamaian, dan melindungi fasilitas umum.
Ia mengingatkan bahwa infrastruktur yang dibangun Pemerintah menggunakan anggaran negara harus dijaga bersama oleh seluruh warga agar dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum, Samuel Marçal, mengatakan bahwa keberhasilan proyek rehabilitasi Jalan Letefoho–Atsabe–Lourba sangat bergantung pada kerja sama antara Pemerintah, perusahaan pelaksana, dan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah proyek.
Menurutnya, investasi tersebut merupakan tanggung jawab besar bagi semua pihak karena dana yang digunakan berasal dari sumber daya negara yang merupakan milik seluruh rakyat Timor-Leste.
“Para pemuda, orang tua, tokoh adat, anggota Pemerintah, dan anggota Parlemen, kita semua telah melakukan peletakan batu pertama. Ini menunjukkan bahwa proyek ini adalah milik kita bersama, bukan milik satu orang saja. Kita semua memiliki kewajiban untuk mengawasi dan memberikan kontribusi agar pekerjaan ini dapat berjalan dengan cepat,” ujar Samuel Marçal.
Menteri Samuel meminta seluruh masyarakat dari Letefoho, Atsabe hingga Lourba untuk memberikan kerja sama selama pelaksanaan proyek sehingga perusahaan dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal kontrak yang telah ditetapkan.
“Proyek ini dapat diselesaikan dalam waktu dua tahun, tetapi semuanya bergantung pada kontribusi kita bersama. Biayanya sangat besar, hampir US$43 juta. Uang ini adalah milik kita semua, uang rakyat. Karena itu, saya meminta seluruh masyarakat untuk bekerja sama dengan baik agar proyek dapat berjalan sesuai jadwal,” katanya.
Samuel Marçal mengingatkan bahwa keterlambatan pelaksanaan proyek dapat memperpanjang kesulitan yang dihadapi masyarakat, terutama pada musim hujan ketika kondisi jalan semakin memburuk dan aktivitas transportasi menghadapi berbagai hambatan.
“Jika kita terus mengalami keterlambatan, ketika musim hujan tiba, pekerjaan ini akan semakin lama. Jika proyek terlambat, masyarakat Letefoho, Atsabe, dan Lourba yang akan terus mengalami kesulitan. Jika pekerjaan tidak berjalan cepat, manfaat yang seharusnya diterima masyarakat juga akan tertunda,” tegasnya.
Di sisi lain, Ketua Otoritas Kotamadya Ermera, José Martinho dos Santos Soares, menilai peletakan batu pertama tersebut sebagai langkah penting dalam pembangunan infrastruktur. Namun, ia menekankan bahwa kepercayaan masyarakat akan semakin kuat apabila proyek dilaksanakan sesuai perencanaan dan diselesaikan dengan kualitas yang baik.
“Peletakan batu pertama yang hari ini dilakukan oleh Perdana Menteri Xanana harus ditindaklanjuti dengan pelaksanaan yang berkelanjutan. Kepercayaan masyarakat akan semakin kuat apabila pekerjaan berjalan sesuai rencana, diselesaikan berdasarkan kewajiban kontrak, dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang,” kata José Martinho.
Ia meminta Pemerintah, melalui Perdana Menteri, Menteri Pekerjaan Umum, serta lembaga terkait, untuk memastikan adanya pendampingan dan pengawasan ketat selama proses pelaksanaan proyek.
José Martinho juga menyoroti pentingnya sistem drainase, kualitas bahan konstruksi, dan keselamatan pengguna jalan sebagai faktor utama yang menentukan ketahanan infrastruktur tersebut.
“Dengan hormat, kami meminta Pemerintah untuk terus mendampingi pelaksanaan proyek, memperkuat pengawasan, dan menjamin penyampaian informasi yang jelas kepada masyarakat. Perhatian terhadap sistem drainase, kualitas material, dan keselamatan pengguna akan menentukan daya tahan jalan ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Otoritas Kotamadya Bobonaro, Paulo Moniz Maia, menegaskan bahwa investasi dalam pembangunan infrastruktur jalan sangat penting untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi barang, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta mempermudah akses wisatawan yang ingin mengunjungi dan menjelajahi potensi alam maupun budaya Timor-Leste.
Ia menyebutkan bahwa perkembangan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan dari 2,4 persen menjadi 4 persen. Berdasarkan proyeksi, pertumbuhan tersebut diperkirakan terus meningkat pada 2026, didukung belanja publik yang dilaksanakan Pemerintah.
“Untuk memastikan tersedianya kondisi yang baik dalam mendorong kegiatan ekonomi serta memperlancar mobilitas masyarakat dan distribusi barang, Pemerintah Konstitusional IX terus berinvestasi dalam peningkatan kondisi jalan, baik jalan nasional, perkotaan, maupun pedesaan, termasuk ruas jalan yang hari ini mulai direhabilitasi,” kata Paulo Moniz Maia.
Ia menginformasikan bahwa Otoritas Kotamadya Bobonaro telah mengidentifikasi sejumlah infrastruktur jalan yang membutuhkan rehabilitasi dalam lima tahun mendatang dan memasukkan prioritas tersebut ke dalam Rencana Strategis Pembangunan Kotamadya Bobonaro 2026–2030.
Berdasarkan data yang disampaikannya, Bobonaro memiliki jalan nasional sepanjang 171 kilometer, jalan kotamadya sepanjang 48 kilometer, serta jalan pedesaan sepanjang 444 kilometer yang membutuhkan perbaikan.
Ia menjelaskan bahwa Pemerintah terus melaksanakan berbagai proyek pembangunan infrastruktur, termasuk ruas Batugade–Balibo sepanjang 12,98 kilometer, Maliana–Cailaco, serta Géléo–Lolotoe sepanjang 8,9 kilometer, guna mengurangi jumlah ruas jalan yang masih membutuhkan rehabilitasi di kotamadya tersebut.
Selain itu, Bobonaro juga mencatat sebanyak 39 proyek jalan pedesaan yang saat ini masih dalam tahap pelaksanaan, bersama sejumlah proyek baru yang telah diluncurkan sepanjang 2026 dengan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Paulo Moniz Maia juga meminta perusahaan pelaksana untuk mematuhi jadwal kontrak serta memastikan penerapan langkah-langkah keselamatan yang memadai, terutama mengingat Timor-Leste akan segera memasuki musim hujan.
Ia menegaskan akan menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum Kotamadya untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap pelaksanaan proyek, mengidentifikasi berbagai permasalahan yang mungkin muncul selama proses konstruksi, serta segera menyampaikannya kepada otoritas nasional terkait agar dapat ditangani secara cepat dan tepat.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

