DILI, 28 April 2025 (TATOLI)— Timor-Leste akan menjadi tuan rumah penyelenggara Asian Portuguese Community Conference (APCC) keempat yang akan berlangsung pada 26 hingga 30 Juni 2025 di Dili.
Hal ini ditegaskan langsung oleh Joseph Sta Maria, tokoh komunitas Portugis dari Malaka (Malaysia), dan Thomas Quiko dari komunitas Tugu, Jakarta Utara – Indonesia usai bertemu dengan Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão.
Konferensi ini menjadi ajang penting untuk mempertemukan komunitas keturunan Portugis dari berbagai wilayah Asia dalam rangka memperkuat kembali warisan budaya yang akan dihadiri oleh delegasi dari berbagai komunitas Portugis Asia, seperti Malaka (Malaysia), Tugu (Jakarta Utara), Maumere dan Larantuka (Indonesia), Macau, Goa (India), dan Sri Lanka.
Dalam APCC, mereka akan berdiskusi, bertukar pikiran, serta menampilkan pertunjukan budaya sebagai bentuk pelestarian identitas bersama yang diwariskan dari Portugal.
Joseph Sta Maria, Tokoh komunitas Portugis dari Malaka, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Pemerintah Timor-Leste atas kesediaana menjadi tuan rumah. Menurutnya, ini merupakan perkembangan besar bagi APCC yang sebelumnya hanya diadakan di tingkat komunitas wilayah.
“Kami sangat bersyukur Timor-Leste menjadi tuan rumah konferensi keempat ini. Ini berarti APCC kini naik ke level nasional,” ujar Joseph Sta Maria di Kantor Pemerintah, senin ini.
Joseph juga mengenang penyelenggaraan konferensi ketiga di Malaka pada tahun 2016, yang dihadiri langsung oleh Perdana Menteri Timor-Leste saat itu, Kay Rala Xanana Gusmão.
Ia menegaskan bahwa dukungan Xanana tetap kuat hingga saat ini, dan sangat penting dalam menjaga keberlanjutan komunitas-komunitas Portugis Asia.
“Di Malaka, bahasa Portugis kuno masih digunakan, tetapi komunitas lain seperti di Goa, Sri Lanka, atau Tugu, di perlahan mulai menghilang,” ujarnya.
Namun, kata Joseph, kebersamaan dalam APCC memungkinkan komunitas untuk kembali belajar dan merangkul warisan tersebut.
Sementara itu, Thomas Quiko dari komunitas Tugu, Jakarta Utara, juga menegaskan pentingnya konferensi ini tidak hanya sebagai ajang pertunjukan budaya, tetapi juga perencanaan masa depan komunitas.
“Kami tidak hanya menampilkan budaya, musik, atau bahasa. Tahun ini kita ingin membahas bagaimana bisa memberi kontribusi nyata bagi komunitas kita di masa mendatang,” ujar Thomas.
Menurut Thomas, dukungan penuh dari Xanana Gusmão menjadi kunci sukses konferensi mendatang. “Beliau sangat mendukung dan akan membantu memfasilitasi delegasi yang datang dari berbagai negara. Saya pikir empat hari cukup untuk menyelenggarakan konferensi yang bermakna ini,” ucapnya.
Persiapan konferensi dilakukan oleh panitia lokal yang dikoordinasikan langsung oleh Departemen Kabinet Perdana Menteri Timor-Leste. Konferensi ini juga akan menjadi ajang untuk membahas rencana jangka panjang, termasuk pengusulan Portugal sebagai tuan rumah APCC tahun 2027, guna mempererat hubungan antara komunitas keturunan Portugis Asia.
“Konferensi ini menjaga kita tetap bersama agar kita bisa memeluk kembali identitas budaya yang diwariskan Portugal,” tutup Joseph.
Dengan semangat kolaborasi dan pelestarian budaya, APCC 2025 di Dili diharapkan menjadi tonggak penting bagi keberlangsungan komunitas Portugis di Asia.
Dalam sebuah surat edaran, dijelaskan Perdana Menteri, Xanana Gusmão telah memberikan instruksi untuk memilih titik fokus dari setiap kementerian dan layanan terkait untuk dilibatkan dalam proses persiapan APCC 2025, dan untuk membentuk setiap Kelompok Kerja.
Kelompok kerja ini terdiri dari Perwakilan Kementerian Pariwisata dan Lingkungan Hidup, Virgílio Smith sebagai Ketua Otoritas Pariwisata Timor-Leste (ATTL), Perwakilan Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama, Olívio de Deus sebagai Direktur Nasional Urusan CPLP, Perwakilan Kementerian Pemuda, Olahraga, Seni dan Budaya, Manuel Smith sebagai Direktur Nasional Warisan Budaya, dan Perwakilan Kantor Perdana Menteri (GFTM), Carlos Carreira sebagai Penasihat Layanan Perusahaan Kabinet Perbatasan Darat dan Maritim.
Setelah pembentukan Kelompok Kerja, Perdana Menteri mengundang promotor edisi sebelumnya di Malaka, Joseph de Sta Maria, agar tim dari APCC bergerak ke Dili, untuk memulai pekerjaan persiapan. Kunjungan teknis pertama telah dilaksanakan pada tanggal 15 dan 17 Juli 2024, dengan delegasi sebanyak 5 orang, yang dipimpin oleh Joseph dari Sta Mary.
Ditegaskan, tujuan utama yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan edisi keempat, APCC yang akan berlangsung di Dili, Timor-Leste, pada tahun 2025 terdari dari empat hal penting seperti Ucapan Terima Kasih dan Pengakuan, Promosi Warisan Budaya, Inklusi dan Integrasi serta Keberlanjutan Kelembagaan dan Partisipasi
Komunitas Asia Portugis terbentuk melalui ekspansi maritim Portugis di Asia sejak awal abad ke-16. Mereka tersebar di berbagai wilayah strategis yang menjadi pusat perdagangan, misi keagamaan, dan pengaruh budaya. Komunitas ini mempertahankan unsur-unsur budaya, bahasa, dan identitas Katolik yang diwariskan dari Portugal, meski kini telah berasimilasi dengan budaya lokal.
Komunitas Asia Portugis tersebar di berbagai wilayah strategis yang menjadi pusat perdagangan, seperti di :
- Goa, India, diambil alih pada 1510, Goa menjadi pusat administrasi dan agama Katolik Portugis di Asia
- Batikola (Burgher Portugis), Sri Lanka, sejak 1506, Portugis mulai menetap di “Ceylon” (Sri Lanka), menjadikan wilayah ini sebagai pos strategis di Samudra Hindia
- Bayingyis, Myanmar, hubungan dimulai pada 1511, dan pada 1556 terdapat lebih dari 1.000 Portugis yang melayani kerajaan lokal sebagai prajurit dan penembak
- Bangkok, Thailand, Komunitas Portugis di Ayutthaya berperan penting dalam bidang militer dan keagamaan, serta menjalin hubungan erat dengan kerajaan Siam sejak abad ke-1
- Makau, Tiongkok, diserahkan kepada Portugis pada 1557, Makau menjadi pusat perdagangan utama antara Eropa dan Asia Timur
- Tugu, Jakarta (Indonesia), Komunitas Mardijkers di Batavia terdiri dari keturunan Portugis yang dibawa dari bekas koloni Portugis seperti Malaka, setelah ditaklukkan Belanda tahun 1641
- Flores (Indonesia) dan Oekusi (Timor-Leste), dikenal sejak 1512, komunitas Larantukeiros atau Topasse muncul dari interaksi awal Portugis dengan wilayah kepulauan timur Indonesia dan Timor.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




