DILI, 04 Juni 2025 (TATOLI) – Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral (MPRM), Francisco Monteiro mengatakan setelah lebih dari dua dekade (2004 – 2025) beroperasi, proyek minyak dan gas (Migas) Bayu-Undan secara resmi mengakhiri produksi.
Menteri Francisco mengonfirmasi bahwa perusahaan operator, Santos, dan para mitranya telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Pemerintah dan Otoritas Perminyakan Nasional (ANP) mengenai penghentian produksi tersebut.
“Memang benar bahwa produksi Bayu-Undan sebagaimana disebutkan sebelumnya sedang menurun. Sekarang saatnya bagi Santos dan mitranya untuk memberi tahu kementerian dan ANP bahwa mereka telah memahami untuk menghentikan produksinya,” ujar Monteiro kepada wartawan di Kantor Pemerintah, Rabu ini.
Proyek Bayu-Undan telah menjadi tulang punggung ekonomi Timor-Leste sejak mulai beroperasi pada tahun 2004. Hingga 31 Maret 2025, proyek ini telah menghasilkan lebih dari $25,25 miliar bagi negara, menurut laporan Dana Perminyakan oleh Bank Sentral Timor-Leste (BCTL). Ladang proyek tersebut juga mendukung sekitar 350 lapangan kerja, di mana lebih dari separuhnya diisi oleh warga negara Timor-Leste.
Berita terkait : Produksi Bayu-Undan menurun, Pemerintah Timor-Leste dan Santos bahas opsi ke depan
Namun, seiring menurunnya produksi secara signifikan, pendapatan negara dari proyek ini juga terus menyusut. Data dari BCTL menunjukkan bahwa pada Triwulan I 2025, pendapatan hanya mencapai $6,2 juta, menurun tajam dari $67,54 juta pada Triwulan II 2024.
Sebagai tindak lanjut, Santos telah mengusulkan agar fasilitas Bayu-Undan dialihfungsikan menjadi proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) berskala besar. Pemerintah menyambut baik inisiatif ini dan akan mempertimbangkan potensi penggunaan infrastruktur eksisting untuk tujuan tersebut.
“Kami kira selain CCS, kami juga punya rencana untuk menghentikan produksi, tetapi karena cadangan yang kami identifikasi masih ada, kami berdiskusi dengan Santos dan mitra lain untuk mengeksplorasi langkah ke depan, termasuk kemungkinan integrasi dengan proyek gas lainnya seperti Chuditch,” tambah Monteiro.
Terkait tenaga kerja, Ia mengakui bahwa sebagian besar pekerja Timor-Leste di Bayu-Undan, yang jumlahnya hampir mencapai 300 orang, telah berhenti bekerja seiring berakhirnya kontrak.
Namun, ia optimistis para pekerja tersebut masih akan berperan dalam proses pembongkaran fasilitas dan proyek-proyek masa depan.
Proses pembongkaran peralatan Bayu-Undan telah dimulai dan akan dilakukan dengan mempertimbangkan dampak lingkungan. Beberapa komponen akan dibawa ke Tibar untuk dibersihkan, sementara lainnya akan dihancurkan sesuai prosedur yang telah disetujui oleh ANP.
Berita terkait : Menteri Francisco : Pembongkaran peralatan di Bayu-Undan mulai dilakukan
Selain Santos yang memegang 36,5% saham, proyek Bayu-Undan juga melibatkan Timor GAP (16%), SK E&S (21%), INPEX (9,6%), Eni (9,2%), dan Tokyo Timor Sea Resources (7,7%).
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Monz




