iklan

EKONOMI, HEADLINE

BCTL ungkap dampak tarif 10% Amerika Serikat terhadap produk ekspor Timor-Leste

BCTL ungkap dampak tarif 10% Amerika Serikat terhadap produk ekspor Timor-Leste

Seorang staf dari Asosiasi Café Timor (ACT) sedang membersihkan Kopi. Foto Tatoli/António Gonçalves

DILI, 06 Mei 2025 (TATOLI)—Gubernur Bank Sentral Timor-Leste (BCTL, akronim portugis), Helder Lopes, menanggapi penerapan tarif impor sebesar 10% oleh Amerika Serikat terhadap produk dari Timor-Leste.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa dampak langsung tarif tersebut terhadap perdagangan luar negeri Timor-Leste relatif kecil, namun memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja Dana Perminyakan negara.

“Timor-Leste menerima tarif sebesar 10%, dan itu termasuk tarif yang paling rendah di antara negara-negara yang dikenakan pajak oleh Amerika Serikat,” ujar Helder dalam konferensi pers di kantor BCTL Akait, Senin ini.

Menurut data BCTL, nilai ekspor kopi Timor-Leste ke Amerika Serikat mencapai sekitar $5 juta.

“Tarif 10% itu hanya berlaku atas nilai ekspor kopi tersebut, sehingga secara langsung dampaknya terhadap perdagangan luar negeri kita tergolong kecil,” jelasnya.

Meskipun dampak terhadap perdagangan ekspor relatif terbatas, Helder menggarisbawahi bahwa konsekuensi paling besar dari kebijakan tarif ini justru dirasakan pada kinerja Dana Perminyakan Timor-Leste, yang sebagian besar ditempatkan dalam instrumen pasar keuangan global.

“Pasar keuangan global merespons negatif pengumuman tarif dari Pemerintah Amerika Serikat, karena hal itu menciptakan dua hal yang sangat tidak disukai pasar, yaitu ketidakpastian dan ketidakstabilan,” katanya.

Berita terkait : Pemerintah setujui rancangan aturan UU Promosi Ekspor Timor-Leste

Ia mencontohkan bahwa pada akhir Maret 2025, ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif terhadap Meksiko dan Kanada, pasar langsung mengalami tekanan.

“Saat itu, nilai investasi kita di saham mengalami penurunan sebesar $64 juta,” ungkapnya.

Pada awal April, ketika pengumuman tarif diperluas hampir ke seluruh dunia, dampak negatif terhadap pasar keuangan semakin terasa. Nilai saham dan obligasi milik Dana Perminyakan ikut terdampak, menyebabkan kinerja investasi melemah.

Namun, ketika Pemerintah Amerika Serikat kemudian mengumumkan jeda 90 hari untuk membuka ruang negosiasi, pasar kembali merespons positif.

Gubernur Helder Lopes menjelaskan bahwa dalam situasi seperti ini, BCTL sebagai pengelola operasional Dana Perminyakan terus melakukan pemantauan ketat terhadap dinamika geoekonomi global.

“Kami sadar bahwa fluktuasi pasar seperti ini adalah bagian dari siklus. Oleh karena itu, strategi kami tetap fokus pada investasi jangka panjang, agar tidak terjebak dalam reaksi jangka pendek,” tegasnya.

Ia juga mencatat bahwa meskipun kekuatan dolar AS mulai mengalami pelemahan terhadap mata uang utama dunia seperti euro dan pounds, dampaknya terhadap Timor-Leste tidak terlalu signifikan, karena transaksi utama negara ini tetap menggunakan dolar AS.

Gubernur menekankan pentingnya kerja sama antara BCTL dan Kementerian Keuangan dalam menyusun strategi investasi yang adaptif.

“Kami berharap situasi pasar akan kembali stabil seiring berjalannya waktu. Tapi tentu saja, penyusunan strategi investasi nasional tetap menjadi tanggung jawab Kementerian Keuangan, dengan masukan dari kami sebagai pelaksana operasional dana,” pungkasnya.

Reporter     : Cidalia Fátima

Editor          : Julia Chatarina

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!