iklan

INTERNASIONAL

Progres Positif bagi TL–Indonesia, Negosiasi Batas Maritim Ke-empat akan digelar pada Agustus  

Progres Positif bagi TL–Indonesia, Negosiasi Batas Maritim Ke-empat akan digelar pada Agustus   

Negosiasi delimitasi batas maritim antara Timor-Leste (TL) dan Republik Indonesia (RI) pada putaran ketiga yang berlangsung selama tiga hari di Singapura (27–29 April) berhasil mencatat kemajuan signifikan. Negosiasi itu digelar di Singapura. Foto GPM

DILI, 02 Mei 2026 (TATOLI)—Negosiasi delimitasi batas maritim antara Timor-Leste (TL) dan Republik Indonesia (RI) pada putaran ketiga yang berlangsung selama tiga hari di Singapura (27–29 April) berhasil mencatat kemajuan signifikan, mencerminkan komitmen kuat kedua negara dalam mencari solusi bersama berdasarkan hukum internasional.

Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão yang secara langsung mendampingi tim negosiasi Timor-Leste menilai proses diskusi berjalan sangat positif, didukung oleh keterbukaan dan semangat saling mendengarkan antara kedua delegasi.

“Diskusi selama tiga hari di Singapura berlangsung sangat sukses. Kami sangat menghargai sikap terbuka dari Ketua Delegasi Indonesia, Laurentius Amrih Jinangkung, serta seluruh tim yang menunjukkan komitmen untuk mencapai pemahaman bersama sesuai hukum laut internasional,” ujar PM Xanana dalam siaran pers resmi yang diakses TATOLI, Sabtu ini.

Ia menjelaskan bahwa negosiasi putaran ketiga ini merupakan kelanjutan dari putaran pertama di Dili pada Agustus 2025 dan putaran kedua di Yogyakarta pada Desember 2025. Menurutnya, keberhasilan kali ini tidak terlepas dari pendekatan konstruktif kedua pihak dalam menghadapi isu yang kompleks.

Xanana menegaskan bahwa tantangan dalam proses negosiasi tidak hanya terkait penentuan garis batas, tetapi juga menyangkut upaya menemukan kesepahaman yang adil dengan tetap menghormati hak masing-masing negara sesuai prinsip hukum laut internasional.

Hasil pertemuan tersebut juga menyepakati bahwa negosiasi akan dilanjutkan ke putaran keempat pada Agustus 2026 di Bali, Indonesia. Pada tahap selanjutnya, pembahasan diperkirakan akan lebih difokuskan pada wilayah Oecusse, yang masih memiliki dua isu utama, yakni batas maritim dan batas darat di kawasan Naktuka yang belum terselesaikan.

Pemerintah Timor-Leste, lanjut Xanana, tetap berpegang pada penyelesaian batas darat berdasarkan perjanjian historis antara Portugal dan Belanda pada tahun 1904. Hal ini sebelumnya juga telah disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Indonesia, baik kepada Joko Widodo (Mantan Presiden RI) maupun penggantinya, Prabowo Subianto.

“Selama ini kita terus menanyakan waktu pelaksanaan, dan disepakati untuk memulai terlebih dahulu dengan negosiasi batas maritim,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Delegasi Indonesia, Laurentius Amrih Jinangkung, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan langsung Perdana Menteri Xanana Gusmão yang dinilai memberikan dorongan moral dan inspirasi bagi kedua tim dalam mempercepat proses negosiasi.

Ia juga menilai kualitas diskusi sejak putaran pertama hingga ketiga menunjukkan adanya kemajuan nyata dan komitmen kuat kedua negara untuk mencapai kesepakatan yang adil dan saling menguntungkan.

Kedua delegasi menyatakan optimisme bahwa proses negosiasi akan menghasilkan solusi terbaik bagi kedua negara, sehingga masing-masing dapat menikmati haknya atas wilayah maritim di masa depan.

Delegasi Timor-Leste dalam negosiasi ini dipimpin oleh Direktur Eksekutif Kantor Batas Darat dan Maritim, Elizabeth Exposto, didampingi oleh Duta Besar Timor-Leste untuk Indonesia, Roberto Soares.

Reporter: Cidalia Fátima

Editor: Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!