DILI, 23 April 2025 (TATOLI)—Presiden Republik, José Ramos Horta, dipastikan akan mewakili Negara Timor-Leste untuk menghadiri prosesi pemakaman jenazah Paus Fransiskus, yang akan diadakan pada tanggal 26 April 2025.
“Saya akan mewakili Negara Timor Leste untuk menghadiri pemakaman Pemimpin Dunia mendiang Paus Fransiskus, yang telah ditetapkan pada hari Sabtu, 26 April 2025 pukul 10 pagi di Roma,” kata Presiden Horta di Bulgaria.
Kepala Negara dan delegasinya akan berangkat pada tanggal 25 April usai berkunjung ke Inggris dan akan tiba di Roma pada malam hari.
Presiden Horta menyampaikan duka yang mendalam, yang bukan hanya untuk Gereja, tetapi seluruh dunia merasa kehilangan pemimpin Gereja Katolik yang hebat karena menunjukkan pengaruhnya terhadap dunia.
Banyak kepala negara termasuk Presiden AS dijadwalkan akan menghadiri prosesi pemakaman.
“Saya meminta semua umat nasrani di Timor-Leste untuk terus berdoa untuk mendiang Paus Fransiskus,” ujarnya.
Berita terkait : Timor-Leste akan gelar Misa khusus di Tasi-tolu mengenang Paus Fransiskus
Kepala Negara mengenang kembali pesan Paus Fransiskus kepadanya untuk menjaga rakyat Timor-Leste yang terkasih.
“Paus Fransiskus memegang tangan saya dan berkata, tidak pernah ada orang yang menerima saya sebaik rakyat Timor-Leste, sehingga Paus merasakan cinta dari rakyat Timor-Leste yang kuat dan mendalam,” tuturnya.
Dijelaskan, banyak rakyat Timor-Leste yang ikut merasakan kesedihan termasuk dunia karena telah kehilangan seorang pemimpin dunia yang sangat penting, karena dunia saat ini sedang menghadapi tantangan dan krisis yang besar.
Kepala Staf Kepresidenan, Henriqueta Maria da Silva, menginformasikan bahwa, Presiden Horta telah memutuskan untuk menghadiri upacara pemakaman di Vatikan.
Dikatakan tim Istana Kepresidenan akan menyampaikan surat pada Parlamen Nasional untuk mendapat izin dari keberangkatan tersebut.
Paus Fransiskus wafat pada hari Senin (21/4/2025) pukul 07.35, dimana mengakhiri kekuasaannya selama 12 tahun sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia. Lonceng kematian berbunyi dari Basilika Santo Petrus, mengumumkan bahwa Paus Fransiskus telah meninggal pada usia 88 tahun.
Paus Amerika Latin pertama
Paus Fransiskus mengukir banyak sejarah. Ia merupakan Paus pertama dari Amerika Selatan dan juga Paus pertama dari ordo Jesuit.
Ia terpilih menjadi Paus pada tanggal 13 Maret 2013, menggantikan Paus Benediktus XVI yang memutuskan mengundurkan diri karena alasan kesehatan – sebuah langkah yang saat itu menggemparkan dunia.
Selama 12 tahun kepemimpinannya, Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin yang hangat, rendah hati, namun berani dalam memajukan keadilan sosial, perdamaian, dan kepedulian antaragama.
Dia membuka ruang untuk dialog dengan komunitas Muslim, Yahudi, dan bahkan ateis. Ia mengunjungi daerah konflik, kamp pengungsian, dan negara-negara dengan mayoritas non-Katolik, membawa pesan cinta kasih dan pengampunan tanpa syarat.
Sesaat sebelum kematiannya, Paus Fransiskus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Gemelli, Roma, karena infeksi paru-paru parah. Dia membutuhkan oksigen aliran tinggi dan transfusi darah karena anemia.
Dokter Sergio Alfieri, sebelumnya menganggap risiko sepsis sebagai ancaman besar bagi Paus, mengingat usianya yang sudah lanjut dan kondisi kronis yang menyertainya.
Warisan Paus Fransiskus tidak hanya tercermin dalam dokumen gereja atau keputusan doktrinal. Ia juga meninggalkan warisan moral dan spiritual yang abadi, panggilan untuk hidup sederhana, solidaritas dengan kaum miskin, dan keberanian untuk bersuara di hadapan dunia yang seringkali acuh tak acuh terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Bendera Vatikan sekarang berkibar setengah tiang. Ribuan umat beriman berkumpul di Lapangan Santo Petrus, menundukkan kepala dalam doa. Dunia telah kehilangan seorang pemimpin, tetapi pesannya akan terus bergema di hati banyak orang, lintas agama dan benua.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Julia Chatarina




