iklan

EKONOMI, INTERNASIONAL

Hasil sementara IPC: 20% masyarakat Timor-Leste alami kerawanan pangan

Hasil sementara IPC: 20% masyarakat Timor-Leste alami kerawanan pangan

Menteri Perikanan dan Pertanian, Pedro dos Reis berbicara dalam acara pembahasan hasil sementara dari Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC - Integrated Food Security Phase Classification) yang digelar di City 8, Dili, kamis (12/01). Foto Tatoli/Egas Cristovão

DILI, 12 januari 2023 (TATOLI)— Program Pangan Dunia (WFP)) bersama Kementerian Perikanan dan Pertanian (MAP -tetun) hari kembali membahas hasil sementara dari Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC – Integrated Food Security Phase Classification) Akut yang menyatakan 20% masyarakat Timor-Leste mengalami kerawanan pangan.

Menteri MAP, Pedro dos Reis menjelaskan dalam pertemuan kali ini Komite Nasional Pelayanan Teknis Gizi (KONSSANTIL -tetun) dan mitra kerja seperti WFP, Organisasi Pertanian Pangan (FAO) bersama untuk melihat dan mengananlisis IPC Akut dan apa yang bisa dilakukan dalam situasi pangan di Timor-Leste selama enam bulan ke depan.

“Saat ini analisis yang dibuat menunjukan 20% mengalami kerawananan pangan dan data ini akan diberikan pada Pemerintah untuk dibahas lebih lanjut,” jelas Pedro dos Reis di City 8 Dili, kamis ini.

Untuk menjawab hal ini, MAP terus akan meningkatkan produksi dalam negeri dan dengan analisis IPC ini memberikan informasi terperinci bagi pemerintah untuk menyediakan pangan dalam enam bulan ke depan.

Ia menjelaskan, sebelumnya proses produksi terhambat karena adanya masalah politik dan pandemi COVID-19. Tetapi, pada  2022 MAP berhasil meningkatkan produksi padi dari 48.000 ton setiap tahun menjadi 80.000 ton yang dianggap mampu memenuhi sebagian dari kebutuhan nasional yang mencapai 131.000 ton setiap tahun.

“Kita juga akan mengarahkan KONSSANTIL untuk melakukan pengambilan data tentang angka konsumen pada produk lain seperti ubi, singkong, jagung dan lainnya,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya dengan mendirikan industri pembuatan pelet untuk makanan babi, ikan dan ayam di Timor-Leste akan meningkatkan minat para petani untuk memproduksi produk lain karena kebutuhan bertambah.

Perwakilan WFP di Timor-Leste, Alba Ceciia Garzon Olivares menjelaskan pihaknya siap mendukung pemerintah dalam prioritasnya pada masalah kerawanan pangan dan gizi. Dan WFP mendukung dua bidang tersebut.

“Yang kita lakukan bukan hanya meningkatkan capacity building. Tetapi,  melihat apa yang dibutuhkan,” ucapnya.

Perwakialn WFP itu pun menjelaskan, sekitar 20 persen dari populasi TL artinya , sekitar 300.000 orang membutuhkan bantuan makanan. Untuk itu, WFP akan berdiskusi dengan pemerintah untuk melihat langkah selanjutnya.

Sebelumnya,  analisis yang dilakukan pada april 2018 menunjukkan hanya 25 persen populasi yang dianggap tahan pangan (IPC level 1). Sekitar 430.000 orang (36%) mengalami kerawanan pangan kronis di 12 kotamadya dan Daerah Administratif Khusus Oecussi dan Ambeno (REAOA).

Dari jumlah tersebut, 176.000 orang (15%) mengalami kerawanan pangan kronis yang parah (IPC level 4), dan 254.000 orang (21%) mengalami kerawanan pangan cukup kronis (IPC level 3).

Di Kotamadya Ermera, Manufahi, dan REAOA yang menjadi perhatian utama. Karena ketiga kotamadya itu berada di bawah kerawanan pangan kronis yang parah (IPC level 4). Kotamadya lain dengan proporsi penduduk rawan pangan kronis yang lebih tinggi adalah Ainaro, Covalima, Manatuto, dan Lautem.

Reporter: Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

 

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!