iklan

INTERNASIONAL, KESEHATAN, DILI

Anak-anak alami diare, Bilal : akibat kurangnya akses pada air bersih 

Anak-anak alami diare, Bilal : akibat kurangnya akses pada air bersih 

Perwakilan Dana Anak Perserikatan Bangsa Bangsa (UNICEF) di Timor Leste, Bilal Aurang Zeb Durrani. Foto Tatoli /Egas Cristóvão

DILI, 19 desember 2022 (TATOLI)— Perwakilan Dana Anak Perserikatan Bangsa Bangsa (UNICEF) di Timor Leste, Bilal Aurang Zeb Durrani mengatakan anak-anak sering mengalami diare, akibat kurangnya akses pada air bersih di Timor-Leste (TL).

Dikatakan, kurangnya akses pada air bersih dan toilet serta praktik kebersihan yang buruk, mengakibatkan anak-anak mengalami diare.

“Kami bekerjasama dengan pemerintah dan mitra untuk mengatasi hal ini melalui tindakan yang ditargetkan di bawah program Air, Sanitasi, dan Kebersihan (WASH), yang berusaha melibatkan dan mendorong setiap rumah untuk mengakhiri buang air besar sembarangan, membangun toilet mereka sendiri, dan meningkatkan praktik kebersihan,” kata Bilal kepada Tatoli, berkaitan perayaan Hari Toilet Sedunia.

Menurutnya, dari 1000 anak, 42 diantaranya, meninggal sebelum berusia lima tahun. Dari 300% lebih di Asia Timur dan Pasifik, 47% anak balita mengalami kekurangan gizi kronis atau stunting.

“Timor-Leste dapat mengurangi jumlah anak yang sakit akibat penyakit seperti diare jika setiap rumah, memiliki toilet dan mengikuti praktik kebersihan yang lebih baik,” tegasnya.

Dikatakan, dari tahun 2007 hingga 2019, UNICEF telah membantu lebih dari 238.635 masyarakat, 40.956 keluarga telah menghentikan buang air besar sembarangan dan menggunakan toilet melalui program sanitasi total.

“Timor-Leste telah keluar dari buang air besar sembarangan sejak Kebijakan Sanitasi Dasar Nasional diberlakukan pada tahun 2012. Kami hanya memiliki 18% keluarga dengan status buang air besar sembarangan per laporan tahun 2021. Namun, kami belum tahu apakah sisanya 82% menggunakan toilet seperti yang diharapkan,” ujarnya.

Dikatakan, Timor-Leste memerlukan beberapa opsi Toilet yang memenuhi standar, minimum disetujui oleh Otoritas Nasional untuk Air dan Sanitasi (ANAS), dan UNICEF juga mendukung Kementerian Kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Pada saat yang sama, kami bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Otoritas Nasional untuk Air dan Sanitasi (Autoridade Nacional Agua e Saneamento – ANAS) untuk mengembangkan standar minimum untuk toilet yang lebih baik dengan meluncurkan program percontohan dalam meningkatkan sanitasi. Dalam penyediaan air bersih di pedesaan, kami bekerja sama dengan BEE TL dan ANAS untuk mendukung kelompok pengelolaan air masyarakat yang bertanggung jawab atas sistem air pedesaan,” tuturnya.

Ia menegaskan dalam program tersebut untuk membantu meningkatkan pencegahan dan pengendalian infeksi serta memastikan pasien dan petugas kesehatan aman dari COVID-19 dan penyakit lainnya. UNICEF juga meningkatkan layanan WASH, setidaknya di 41 Pusat Kesehatan Masyarakat di tujuh kotamadya dengan dukungan USAID dan 15 tempat umum di perkotaan Dili dengan dukungan Pemerintah Selandia Baru.

UNICEF mendukung pemerintah, di seluruh dunia untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dengan meluncurkan “Game Plan to Reach Safely Sanitation 2022-2030” yang akan membantu merencanakan dan mempercepat pencapaian SDG6 pada tahun 2030, yang diluncurkan pada sebuah acara di New York, Amerika untuk memperingati Hari Toilet Sedunia 2022, yang diperingati secara global pada 19 november setiap tahunnya.

Saat ini, 3,6 miliar populasi di dunia dengan toilet berkualitas rendah, yang dapat merusak kesehatan dan mencemari lingkungan.

Reporter : Mirandolina Barros Soares

Editor      : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!