DILI, 24 mei 2022 (TATOLI)—Direktorat umum statistik Kementrian Keuangan dan mitra kerja, selasa ini, menggelar seminar guna mensosialisasikan hasil analisis situasi anak di Timor-Leste.
Acara ini didukung oleh Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF-United Nations International Children’s Emergency Fund) bersama Pemerintah Jepang dan Institut Pembela Hak Anak (INDDICA-Instituto para a Defesa dos Direito das Crianças).
Komisaris Nasional Hak Anak, Dinorah Granadero, menyampaikan, tujuan acara ini untuk menganalisis dan membahas bersama data yang telah dikumpulkan selama empat tahun, agar pemerintah dapat mengambil langkah selanjutnya.
“Dari seminar tersebut, dibahas situasi anak yang mengalami gizi buruk, termaksud kondisi pendidikan, dan kebersihan, sehingga akan dicari langkah pencegahan dan perlindungan untuk anak-anak,” kata Komisaris Nasional Hak Anak, pada wartawan, di kantor pusat Kementrian Keuangan, Aitarak-laran.
Berita terkait: Eksistensi Plan Internasional kembangkan hak anak dan kesetaraan gender di TL
Menurutnya, tugas pemerintah memberikan dukungan guna memfasilitasi anak-anak mendapatkan akses untuk hidup yang lebih baik.
“Laporan tersebut dapat membantu semua pihak terkait termaksud kementerian, untuk memperbaiki kinerja kerja dan mekanisme mengaplikasikan program, sehingga dapat membantu memperbaiki situasi anak di Timor-Leste,” ucapnya.
Dijelaskan, dari laporan yang dikumpulkan, sekiranya dari 40 anak dari jumlah populasi Timor-Leste, masih hidup dalam garis kemiskinan, dimana kondisi ini merupakan suatu bukti untuk pemerintah untuk mengambil langkah selanjutnya agar mencapai target mengurangi angka kemiskinan di tahun 2030.
Sementara itu, Perwakilan UNICEF di Timor-Leste, Bilal Aurang Zeb Durrani, mengungkapkan, kurangnya pengetahuan orang tua tentang makanan bergizi, kurang menjaga kebersihan, dan mendapatkan kekerasaan di lingkungan dapat menyebabkan gizi buruk dan memperhambat pertumbuhan anak.
“Sekitar 75% anak laki-laki dan 60% anak perempuan mengaku mendapatkan kekerasan di sekolah dan keluarga,” ucap Bilal dalam pidatonya.
Dilanjutkan, satu anak dari 60% di Timor-Leste, sebut saja, Maria, merupakan anak yang mengalami kondisi gizi buruk semenjak lahir, dimana sering mengalami kondisi sakit karena fisik lemah dan kekerasaan dari lingkungan, sehingga memilih tidak melanjutkan pendidikannya.
“Pemerintah perlu menindak lanjuti kondisi ini dan alokasi dana untuk kebutuhan anak-anak, sehingga dapat mengurangi dan mengantisipasi generasi Timor-Leste dari konsukuensi kondisi kerdil, kurus, sakit, kekerasaan dan kuranngya pendidikan selayaknya,” tuturnya.
Dari data yang di kumpulkan di tahun 2002, jumlah populasi 955.000 meningkat menjadi 1.299.412 di tahun 2020.
Selebihnya, pihak yang berperang penting mengatasi masalah situasi anak di Timor-Leste, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Kehakiman, Kementerian Pendidikan dan Kementerian Solidaritas Sosial dan Inklusi.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Julia Chatarina




