DILI, 21 november 2021 (TATOLI)– Penanggungjawab Pembangunan Gereja Sagrada Coração de Jesus Becora sekaligus mantan Pastor Paroki Becora, Pastor Guilhermino da Silva mengatakan berhasilnya pembangunan ulang gereja tersebut tidak terlepas dari jasa kedua mendiang Uskup Alberto Ricardo da Silva dan Uskup Basílio do Nascimento.
“Kami berterima kasih kepada orang baik yang terus membantu kita dalam penyelesain gereja ini. Mendiang Uskup Alberto Ricardo da Silva dan Uskup Basilio do Nascimento adalah anak domba sesungguhnya. Saat ini mereka hanya menyaksikan semuanya dari atas apa yang sudah diperjuangkan bersama selama ini,” jelas Pastor Guilhermino saat menyampaikan laporan pembangunan ulang Gereja Paroki Becora, minggu ini.
Dalam laporannya, Pastor Guilhermino mengungkapkan, dengan rasa bahagia yang dirasakan dalam momentum ini bersama kasih dari Tuhan bisa meresmikan gereja Sagrada Coração de Jesus Becora.
Berita terkait : Uskup Agung Dili dan PM Taur resmikan Gereja Becora
Dikatakan, proses konstruksi dimulai dengan diskusi bersama Mendiang Uskup Alberto Ricardo da Silva pada Keuskupan Dili pada oktober 2013. Ketika itu, tim penanggungjawab pembangunan gereja menyiapkan proposal kepada pemerintah melalui kabinet Perdana Menteri untuk mendapatkan bantuan.
Tim juga mempresentasikan rancangan bangunan gereja baru dari perusahaan Integra LDA, yang mempresentasikan nilai kontrak sebesar $1,398.956 dan otoritas pembanguan nasional pun membuat BOQ. Akhirnya ADN hanya menyetujui dana sebesar $938.303,97.
Tim melihat rencana untuk rancangan tersebut belum lengkap dan mencari kontraktor baru bernama Rajawali Putera Utama. Setelah berdiskusi bersama perusahaan tersebut, Tim kembali melakukan presentasi lengkap dan memulai dengan proposal baru untuk pemerintah melalui kabinet Perdana Menteri yang pada saat itu dipimpin Xanana Gusmão.
“Kabinet setuju tetapi harus ada perijinan dari Xanana Gusmão dan pada waktu itu beliau mengijinkan, kami pun kembali melakukan diskusi dengan ADN dan akhirnya mereka menerima presentasi rancangan bangunan dengan harga $2.110.381,05, setetah verifikasi dan ADN menyetujui rancangan dengan nilai $2,068.587,24,” ucap Pastor Guilhermino.
Dari anggaran ini, ia menjelaskan juga Keuskupan Agung Dili ikut berkontribusi dana 30% atau $300.000 dan pemerintah Timor-Leste 70% atau $1.776.587.24, bantuan dari umat Becora dan kebutuhan adisional memberikan dana sebesar $182.432.45.
Proses persipan dan konstruksi berjalan selama dua tahun lebih, dimana pada 2 Abril 2015, Uskup Alberto meninggal, maka proses ini mendapatkan kendala dan karena proses ini telah berjalan dan Uskup telah menyetujui maka Gereja Becora tetap dibangun dengan rencana yang sudah ditetapkan.
Untuk itu, pada 26 Juni 2015 dengan Uskup Basilio do Nascimento yang pada saat itu sebagai Administrator Apostolik keuskupan Dili, mulai melakukan peluncuran peletakan batu pertama pada konstruksi Gereja.
Setelah semua persiapan dilakukan, tepat pada 30 November 2015, para tukang mulai membongkar gereja lama dan setelah itu pada 27 Februari 2016, Uskup Basilio memberikan pemberkatannya untuk memulai proses konstruksi. Sayangnya, sebelum peresmian, Uskup Basílio telah dipanggil Tuhan pada 30 oktober 2021.
“Proses kontruksi dilakukan selama empat tahun dan paroki Becora menunggu sampai 5 tahun lebih, berbagai kendala yang dihadapi mulai dari krisis ekonomi, perubahan politik di TL, sosial dan lainnya, tapi Tuhan baik dan kendala yang diberikan untuk menjamin kesabaran dan harapan khususnya kepercayaan dan kita melihat kasihnya pada hari ini,” ungkapnya.
Sebagai Mantan Pastor Paroki, Pastor Guilhermino juga bersyukur pada para pemimpin dari Pemerintahan Konstituisional kelima sampai kedelepan, mulai dari mantan Perdana Menteri Xanana Gusmão, Rui Maria de Araujo, Mari Alkatiri dan Perdana Menteri sekarang Taur Matan Ruak yang terus membantu agar pembangunan ini berjalan dengan baik dan juga Keuskupan Agung Dili yang dipimpin oleh Uskup Agung, Virgilio do Carmo da Silva.
Hal ini pun tidak luput dari umat gereja dari 26 lingkungan, sahabat gereja Becora yang ada di Australia, Malaysia dan Indonesia yang ikut membantu serta perusahaan kontraktor dan para tukang yang bekerja dengan sangat professional meskipun sebagian dari mereka tidak beragama Katolik.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




