iklan

IBADAH

Tradisi tahunan jalan salib di Bukit Golgota Dili dihadiri ribuan umat  

Tradisi tahunan jalan salib di Bukit Golgota Dili dihadiri ribuan umat   

Tradisi tahunan Jalan Salib di Bukit Golgota, Kampung Baru, Dili, dihadiri ribuan umat Katolik yang mengikuti rangkaian peringatan Jumat Agung dengan penuh khidmat dan penghayatan iman. Foto Tatoli/Cidalia Fátima

DILI, 03 April 2026 (TATOLI) – Tradisi tahunan Jalan Salib di Bukit Golgota, Kampung Baru, Dili, dihadiri ribuan umat Katolik yang mengikuti rangkaian peringatan Jumat Agung dengan penuh khidmat dan penghayatan iman.

Timor-Leste sebagai negara dengan lebih dari 90 persen penduduk beragama Katolik, setiap tahun memperingati Jumat Agung dengan devosi Jalan Salib pada pagi hari, yang kemudian dilanjutkan dengan Misa Jumat Agung pada pukul 15.00 waktu setempat.

Khusus di ibu kota Dili, kegiatan Jalan Salib di Bukit Golgota telah menjadi tradisi yang mengakar. Berdasarkan observasi TATOLI, sejak pukul 06.00 pagi, umat mulai berkumpul di Gua Bunda Maria di kawasan Bukit Golgota, yang dikenal sebagai Gruta de Nossa Senhora Maria Auxiliadora, untuk mengikuti prosesi yang diselenggarakan Paroki Comoro.

Prosesi Jalan Salib sendiri baru dimulai sekitar pukul 08.00 pagi dan berlangsung hampir tiga jam, dengan jarak tempuh sekitar satu kilometer menuju puncak bukit. Meskipun medan yang dilalui cukup menantang dan dipadati ribuan peziarah, umat dari berbagai kalangan usia tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian, mulai dari anak-anak, kaum muda, hingga lansia.

Sebagian umat terlihat membawa bekal makanan ringan dan air minum untuk menjaga stamina selama perjalanan. Tidak sedikit pula yang beristirahat di bawah pepohonan di sepanjang jalur, terutama saat terjadi kepadatan di setiap perhentian atau stasi jalan salib.

Empat belas stasi Jalan Salib yang dilalui menghadirkan tantangan tersendiri bagi umat. Meski secara geografis berupa bukit, kepadatan peserta membuat perjalanan menuju setiap stasi menjadi lebih sulit. Mayoritas umat mengenakan pakaian berwarna gelap sebagai simbol penghormatan atas wafatnya Yesus Kristus.

Selain umat yang beribadah, sejumlah pedagang juga memanfaatkan momen tersebut dengan menjual air minum dan makanan ringan di sekitar jalan masuk menuju lokasi. Aparat Kepolisian Nasional Timor-Leste (PNTL) turut dikerahkan untuk mengatur lalu lintas dan menjaga keamanan guna menghindari kemacetan selama kegiatan berlangsung. Sementara itu, mobil ambulans disiagakan untuk mengantisipasi kondisi darurat.

Dalam pelaksanaan tahun ini, suasana juga diramaikan oleh partisipasi perusahaan minuman Graca Juice yang membagikan jus jambu kepada umat setelah menyelesaikan Jalan Salib. Pihak Paroki Comoro bersama kelompok Pramuka Gereja serta anggota THS–THM turut menyediakan tempat sampah di sepanjang jalur dari stasi pertama hingga ke-14 guna menjaga kebersihan lingkungan.

Umat yang hadir tidak hanya berasal dari Paroki Comoro, tetapi juga dari berbagai paroki lain di Dili. Kegiatan serupa juga berlangsung di sejumlah lokasi lain, seperti Cristo Rei dan kawasan Manleuana, yang turut dipadati umat.

Setelah kelompok utama dari Paroki Comoro menyelesaikan prosesi sekitar pukul 10.45, terlihat kelompok umat lain masih terus melakukan Jalan Salib secara mandiri hingga siang hari.

Pastor Nelson Gonçalves, SDB, dalam wawancara dengan TATOLI menjelaskan bahwa Jumat Agung merupakan bagian penting dari Tri Hari Suci yang mengajak umat untuk merenungkan penderitaan Yesus Kristus.

“Penderitaan Yesus mengingatkan kita akan kasih Allah yang begitu besar bagi manusia. Dalam perjalanan empat belas stasi, kita melihat refleksi kehidupan kita, ada penderitaan, ada pengorbanan, tetapi juga harapan akan kebangkitan,” ujarnya.

Ia juga mengajak umat untuk menghidupi pesan masa Prapaskah dengan mendengarkan Tuhan, menjaga perkataan, serta membangun kehidupan yang penuh kasih, damai, dan keadilan sesuai pesan dari Paus Leo XIV.

Salah satu umat, Bazilio Henrique Guterres, mengungkapkan rasa bangga dan antusias melihat tingginya partisipasi umat dalam kegiatan tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa Jalan Salib sangat penting bagi semua orang yang percaya kepada Kristus. Meski terasa sedih saat merenungkan penderitaan Yesus, kita diingatkan untuk berdamai dengan segala situasi,” katanya.

Sementara itu, Maria Mercedes Tanis, anggota THM (Tunggal Hati Mari), mengaku momen Jumat Agung menjadi waktu refleksi mendalam bagi kaum muda Katolik.

“Kita diajak untuk merenungkan pengorbanan Yesus dan semakin mendekatkan diri kepada Gereja serta meneladani perjalanan-Nya dari stasi pertama hingga terakhir,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Domingos da Cunha yang berharap semangat iman umat terus bertumbuh.

“Saya merasakan kekuatan dalam setiap stasi. Meskipun lelah, iman justru semakin kuat karena Yesus telah menderita untuk kita semua,” tuturnya.

Dengan partisipasi yang terus meningkat setiap tahun, tradisi Jalan Salib di Bukit Golgota Dili tidak hanya menjadi bentuk devosi, tetapi juga simbol persatuan dan kekuatan iman umat Katolik di Timor-Leste.

Reporter: Cidalia Fátima

Editor: Armandina Moniz

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!