Presiden Ramos-Horta nilai Timor-Leste berhasil tekan aktivitas scam call center

DILI, 03 Agustus 2026 (TATOLI) – Presiden Republik, José Ramos-Horta, menilai Timor-Leste telah berhasil menekan aktivitas scam call center dan kejahatan daring ilegal melalui langkah tegas aparat penegak hukum. Meski demikian, ia menegaskan upaya pemberantasan harus terus diperkuat karena kejahatan siber merupakan ancaman global.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Ramos-Horta kepada wartawan setibanya di Ruang V-VIP Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato, Dili, Senin, usai melakukan kunjungan kenegaraan ke Vanuatu dan kunjungan pribadi ke Melbourne, Australia.
Menurut Presiden Republik, praktik perjudian daring, lotere ilegal, hingga scam call center bukan merupakan fenomena baru dan telah berkembang di berbagai negara selama puluhan tahun.
“Perjudian online, lotere, dan berbagai bentuk penipuan seperti ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Ini bukan persoalan baru. Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Rusia, China, Indonesia hingga banyak negara lain juga menghadapi tantangan yang sama, bahkan negara yang sistemnya sudah sangat maju,” katanya.
Namun demikian, Ramos-Horta menilai Timor-Leste telah menunjukkan hasil positif dalam memberantas aktivitas ilegal tersebut.
“Walaupun negara kita masih tergolong rapuh, polisi, khususnya PSIK, telah menangkap banyak pelaku. Sekarang mereka tahu bahwa mereka tidak bisa lagi menjalankan aktivitas online ilegal di Timor-Leste,” ujarnya.
Presiden Republik mengingatkan agar masyarakat tidak menyamakan praktik scam call center dengan perjudian yang dilegalkan negara, seperti kasino yang beroperasi secara resmi di Singapura, Australia, Amerika Serikat, Portugal, Prancis, maupun sejumlah negara ASEAN.
Ia menjelaskan bahwa modus penipuan melalui surat elektronik (email), pesan singkat (SMS), maupun panggilan telepon telah berlangsung sejak lama. Saat menjabat Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama, ia bahkan pernah mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap pesan yang menjanjikan hadiah atau uang dalam jumlah besar.
“Saya pernah menerima banyak warga Timor-Leste yang menjadi korban. Mereka diberi tahu memenangkan ratusan juta dolar, tetapi diminta mengirim sejumlah uang terlebih dahulu untuk mengurus dokumen. Penipuan seperti ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu,” ungkapnya.
Ramos-Horta juga mengungkapkan bahwa pelaku kerap meretas akun email seseorang dan menggunakan identitas korban untuk menghubungi calon korban lainnya.
Ia mengaku pernah berpura-pura mengikuti keinginan pelaku dengan mengatakan akan mengirim rekannya yang merupakan Komandan Polisi di Manila untuk menyerahkan uang. Setelah itu, pelaku tidak pernah lagi menghubunginya.
Menurut Presiden Republik, pemberantasan kejahatan siber harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kerja sama internasional, terutama dengan Australian Federal Police (AFP) dan Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat.
“Saya lebih percaya bekerja sama dengan FBI dan Australian Federal Police. Saya berharap ada kerja sama kelembagaan yang lebih kuat dengan FBI,” katanya.
Ramos-Horta menegaskan maraknya scam call center tidak mencoreng nama baik Timor-Leste di dunia internasional.
“Timor-Leste tidak memiliki kejahatan terorganisasi yang dilakukan oleh warga negaranya. Namun, karena negara kita masih berkembang, kita menjadi sasaran kelompok kriminal internasional yang menganggap sistem kita masih lemah,” ujarnya.
Ia menambahkan, berkat kerja sama antara Kepolisian Nasional Timor-Leste (PNTL), PSIK, Polícia Judiciária (PJ), serta dukungan Pemerintah Australia, aktivitas kejahatan daring dalam beberapa tahun terakhir berhasil ditekan.
Presiden Republik juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di internet tanpa melakukan verifikasi.
“Jangan terlalu percaya pada informasi di internet. Kalau saya ragu terhadap suatu informasi, saya langsung menghubungi FBI untuk memastikan kebenarannya,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Timor-Leste (BCTL), Helder Lopes, mengimbau seluruh bank dan lembaga keuangan agar terus memperkuat sistem keamanan guna mencegah penyalahgunaan layanan keuangan oleh pelaku kejahatan siber.
Ia mengatakan setiap institusi keuangan wajib memiliki sistem keamanan yang kuat untuk melindungi dana masyarakat dari serangan siber maupun aktivitas ilegal.
“Saya telah mengingatkan seluruh institusi keuangan, khususnya bank, agar tidak memberikan celah bagi siapa pun untuk memanfaatkan layanan keuangan dalam melakukan aktivitas ilegal yang tidak diizinkan oleh hukum maupun negara,” ujar Helder di Kementerian Keuangan, Dili.
Menurutnya, BCTL juga terus memperkuat sistem keamanan internal untuk melindungi sistem keuangan nasional dari berbagai bentuk serangan siber.
Helder menjelaskan bahwa apabila aktivitas penipuan dilakukan melalui sistem perbankan, bank dapat mengidentifikasi dan segera mengambil tindakan. Namun, apabila penipuan berlangsung di luar sistem keuangan, proses pengawasannya menjadi lebih sulit.
“Kami terus memperkuat sistem agar tidak mudah disusupi. Jika aktivitas penipuan masuk melalui sistem keuangan, bank dapat segera mendeteksi dan mengambil tindakan,” pungkasnya.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

