DILI, 02 Juli 2026 (TATOLI) – Institut Nasional Pengembangan Tenaga Kerja (INDMO, I.P.) menegaskan bahwa Kompetisi Keterampilan Nasional (National Skills Competition) ke-9 dan Timor-Leste International Friendly Skills Competition ke-2 menjadi batu loncatan bagi tenaga kerja muda Timor-Leste untuk menembus kompetisi tingkat ASEAN hingga internasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang siap bersaing di pasar kerja global.
Koordinator Jenderal Komisi Penyelenggara INDMO Skills Timor-Leste, Amandio Belo, mengatakan peserta terbaik yang mengikuti kompetisi nasional akan dipersiapkan untuk mewakili Timor-Leste pada berbagai ajang keterampilan di tingkat regional maupun internasional.
“Setelah berkompetisi di tingkat nasional, para peserta akan memiliki kesempatan mengikuti kompetisi di tingkat ASEAN maupun internasional,” kata Amandio kepada TATOLI dalam program Entrevista Esklusiva yang diadakan di studio TATOLI, Farol, Dili.
Ia menjelaskan seluruh peserta berasal dari lembaga pelatihan yang telah terakreditasi, serta sekolah teknik vokasi yang memiliki program keahlian sesuai bidang perlombaan.
Menurutnya, saat ini Timor-Leste memiliki 26 pusat pelatihan terakreditasi. Namun, untuk kompetisi kali ini panitia memilih sekitar 10 pusat pelatihan yang memiliki program tata boga, pelayanan restoran, instalasi listrik, dan pengelasan. Selain itu, dua sekolah teknik vokasi dari Fatumaca, Kotamadya Baucau, dan Maliana, Kotamadya Bobonaro, juga ikut berpartisipasi.
Sementara itu, Chef sekaligus Test Project Designer bidang Tata Boga, António Capeda, mengatakan kompetisi tersebut memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah teknik maupun pusat pelatihan vokasi.
Menurutnya, pendidikan kuliner saat ini tidak lagi sebatas mengajarkan cara memasak, tetapi juga membentuk kemampuan peserta dalam mengelola waktu, menjaga kualitas makanan, memahami standar internasional, hingga mengembangkan kreativitas dalam penyajian hidangan.
“Kompetisi ini mengajarkan peserta untuk tidak hanya menghasilkan makanan yang enak, tetapi juga mampu merancang sajian yang menarik, mengombinasikan bahan pangan dengan baik, serta memenuhi standar kuliner internasional,” ujarnya.
António menilai kekayaan bahan pangan lokal Timor-Leste memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kuliner berdaya saing global apabila dipadukan dengan teknik memasak modern dan standar internasional.
Ia mengatakan pengalaman mengikuti berbagai kompetisi kuliner internasional memberinya banyak pelajaran mengenai pentingnya kreativitas, disiplin, dan profesionalisme dalam dunia gastronomi.
Sebelumnya, António Capeda pernah mengikuti ajang pariwisata dan kompetisi kuliner di Filipina, sekaligus dipercaya menjadi ketua dewan juri pada sejumlah festival kuliner yang menampilkan masakan tradisional masyarakat Timor-Leste.
Ia juga pernah menempuh pendidikan diploma pariwisata di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua, Bali, Indonesia, pada 2016.
“Potensi kuliner Timor-Leste sangat besar. Karena itu kami ingin melahirkan lebih banyak chef profesional yang mampu membawa kuliner Timor-Leste dikenal di tingkat internasional,” katanya.
Di sektor industri, Juri sekaligus Ahli Industri dari EDTL pada bidang Instalasi Listrik, Segismundo António Liberato, menilai kompetisi tersebut menjadi sarana penting untuk mengukur kualitas lulusan lembaga pelatihan vokasi sekaligus memastikan kesesuaian kompetensi mereka dengan kebutuhan industri.
Menurutnya, melalui kompetisi para juri dapat mengevaluasi kemampuan peserta dalam membaca gambar teknik, merancang pekerjaan, memahami prosedur pelaksanaan, hingga mengimplementasikan pekerjaan sesuai standar profesional.
“Kompetisi ini menjadi platform bagi industri untuk mengetahui sejauh mana kualitas pelatihan yang diberikan oleh setiap pusat pelatihan, sekaligus melihat apakah para peserta telah memiliki keterampilan profesional yang dibutuhkan dunia kerja,” ujarnya.
Segismundo menambahkan Timor-Leste perlu terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama menjelang integrasi penuh dengan ASEAN yang menuntut tenaga kerja memiliki kompetensi teknis maupun soft skills yang kuat.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalaman menjadi juri bersama tenaga ahli dari Australia dalam dua tahun terakhir, peserta Timor-Leste umumnya telah memiliki kemampuan teknis yang baik. Namun, masih ditemukan kelemahan dalam penerapan prosedur operasional standar (SOP), khususnya terkait aspek keselamatan kerja.
“Keselamatan kerja sering kali belum menjadi perhatian utama peserta, padahal dalam bidang instalasi listrik seluruh pekerjaan harus mengikuti standar keamanan yang berlaku,” katanya.
INDMO akan menyelenggarakan Kompetisi Keterampilan Nasional ke-9 dan Timor-Leste International Friendly Skills Competition ke-2 pada 7–9 Juli 2026 dengan mengusung tema “Mastering Skills, Building the Future.”
Kompetisi tersebut akan diikuti delapan negara, yakni Timor-Leste, Fiji, Nauru, Papua Nugini, Samoa, Tonga, Vanuatu, Indonesia, dan Malaysia. Sementara itu, Kepulauan Solomon dan Tuvalu akan hadir sebagai negara pengamat.
Sebanyak 36 peserta akan berkompetisi pada empat bidang keterampilan, yaitu instalasi listrik, tata boga, pelayanan restoran, dan pengelasan. Pemerintah Timor-Leste melalui APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) 2026 juga mengalokasikan anggaran sebesar US$150.000 untuk mendukung promosi keterampilan, termasuk penyelenggaraan kompetisi dan Sidang Umum WorldSkills Asia yang akan digelar di Timor-Leste pada November 2026.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




