DILI, 04 Juli 2026 (TATOLI)— Presiden Republik, José Ramos-Horta, mengatakan bahwa secara fisik Pastor João Felgueiras telah tiada, namun cinta kasih dan karya yang ditinggalkannya tidak akan mati ataupun hilang.
“Saat kami bertemu, hal yang selalu menjadi perhatiannya adalah pendidikan dan kaum miskin. Sungguh sangat sedih kehilangan sosoknya secara fisik, namun tidak demikian dengan ajaran maupun kepemimpinannya. Kami selalu berbicara tentang pendidikan. Tentu saja bukan hanya untuk kaum Yesuit yang berbicara mengenai pendidikan, namun bagi kaum Yesuit, pendidikan adalah hal yang sangat mendasar,” ujar Presiden Ramos kepada para wartawan usai disela-sela melayat ke rumah duka di kediaman Yesuit di Taibesi, hari ini.
Ia mengatakan bahwa sebelum Pastor João meninggal dunia, mendiang adalah sahabat baik dan Kepala Negara selalu berkunjung untuk menemui Pastor João Felgueiras.
Dilain pihak, dalam Siaran pers resmi Kepresidenan Republik, Kepala Negara menyatakan kesedihan mendalam, setelah mengetahui kabar meninggalnya Pastor João de Vasconcelos Baptista Felgueiras.
Berita terkait : Dedikasikan hidupnya di Timor-Leste, Pastor João Felgueiras tutup usia di 105 tahun
“Hari ini, Republik Demokratik Timor-Leste mengucapkan selamat tinggal kepada sosok luar biasa dalam sejarah kontemporer kita, seorang pria yang hidupnya sepenuhnya didedikasikan untuk melayani orang lain, untuk pendidikan, untuk martabat manusia, dan untuk membangun identitas nasional kita. Pastor João Felgueiras, seorang misionaris dari Serikat Yesus, tiba di Timor-Leste pada tahun 1971 dan menetap di sini selama lebih dari setengah abad, menjadi sosok yang senantiasa hadir secara bersahaja dalam kehidupan beberapa generasi rakyat Timor. Di masa ketika bahasa Portugis dilarang dan identitas budaya rakyat kita berada dalam ancaman serius, Pastor Felgueiras memilih untuk berpihak pada rakyat Timor, serta turut merasakan penderitaan, harapan, dan perjuangan mereka,” kata Presiden Republik dalam siaran pers itu.
Sebagai seorang pendidik yang tak kenal lelah, ia mendedikasikan hidupnya bagi pengembangan generasi muda, pemasyarakatan bahasa Portugis, serta penciptaan ruang bagi pembelajaran dan martabat manusia—terutama melalui Sekolah Amigos de Jesus, sebuah proyek yang mencerminkan komitmen teguhnya terhadap pendidikan sebagai sarana kebebasan dan transformasi sosial.
Selama bertahun-tahun, Negara Timor-Leste dan komunitas internasional telah mengakui secara luas kontribusinya yang luar biasa; ia dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk “Insignia of the Order of Timor-Leste” dan “Grand Cross of the Order of Camões”, di antara berbagai penghormatan lain yang mencerminkan dampak mendalam dari misinya.
“Bagi saya pribadi, Pastor João Felgueiras selalu lebih dari sekadar misionaris atau pendidik. Beliau adalah seorang sahabat lama, penasihat yang tenang, dan sosok yang menginspirasi. Warisan beliau terus hidup, tidak hanya dalam berbagai institusi yang turut beliau bangun, tetapi terutama dalam diri generasi masyarakat Timor yang telah beliau didik, inspirasi, dan bimbing dengan penuh dedikasi serta kasih sayang selama lebih dari lima dekade. Di masa duka nasional ini, saya menyampaikan belasungkawa yang tulus serta solidaritas mendalam dari Negara Timor kepada Serikat Yesus, keluarga beliau di Portugal, komunitas pendidikan yang beliau dirikan, dan semua pihak yang mengenal beliau secara pribadi,” kata Kepala Negara.
Dilanjutkan bahwa, “Saya mengingat dengan penuh emosi berbagai kunjungan yang saya lakukan kepadanya di Dili, serta momen-momen pertemuan dan dialog di mana—meskipun usianya sudah lanjut—beliau tetap teguh, gembira, dan beriman, selalu berdedikasi untuk kesejahteraan rakyat Timor-Leste.
“Semoga teladan hidup Anda yang penuh dedikasi dan pengabdian senantiasa menjadi acuan abadi bagi generasi Timor-Leste saat ini dan masa depan. Beristirahatlah dengan tenang, Pastor João Felgueiras yang terkasih. Rakyat Timor-Leste tidak akan melupakan nama maupun warisan Anda,” paparnya.
Pastor João Felgueiras lahir di Caldas das Taipas, Portugal, pada 09 Juni 1921. Ia masuk Serikat Yesus pada usia 21 tahun dan ditahbiskan sebagai imam pada usia 29 tahun.
Pada 1971, ia diutus ke Timor-Leste menjabat sebagai Wakil Rektor Seminari Keuskupan Dili. Selain itu, ia mengajar bahasa Portugis di Externato São José dan mendidik banyak intelektual Timor-Leste, termasuk mantan Perdana Menteri Rui Maria de Araújo.
Setelah invasi Indonesia pada 1975, Pastor João memutuskan untuk tetap tinggal di Timor-Leste pun berada di bawah pengawasan otoritas Indonesia. Selama masa pendudukan, ia dikenal sebagai salah satu tokoh Gereja yang mengabdikan hidupnya untuk mendampingi masyarakat Timor-Leste.
Pada 2006, bersama José Alves Martins, ia menerbitkan buku Nossas Memórias de Vida em Timor yang mengisahkan berbagai peristiwa penting di Timor-Leste sejak 1975 hingga masa setelah kemerdekaan.
Sepanjang hidupnya, Pastor João menerima sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Grande-Oficial da Ordem da Liberdade dari Portugal pada 2002, Insignia Orde Timor-Leste pada 2009, serta Grã-Cruz da Ordem de Camões dari Portugal pada 2022.
Pastor João Felgueiras selama bertahun-tahun menetap di Timor-Leste dan pernah menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri hidup di negeri yang telah ia layani selama lebih dari lima dekade. Keinginan tersebut akhirnya terwujud ketika ia mengembuskan napas terakhir di Dili pada usia 105 tahun.
Tim TATOLI




