DILI, 25 Juni 2026 (TATOLI) – Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, memanfaatkan kunjungan kerjanya di Portugal untuk memperkuat kerja sama di bidang demokrasi, pendidikan, dan perdamaian internasional melalui kunjungan ke Yayasan Mário Soares serta penyampaian pidato pada seminar internasional mengenai dampak konflik di Timur Tengah.
Dalam kunjungannya ke Yayasan Mário Soares di Lisbon, Selasa (23/6), Xanana memberikan penghargaan tinggi atas kontribusi mendiang Mário Soares dalam perjuangan demokrasi di Portugal, khususnya perannya dalam Revolusi 25 April yang mengakhiri rezim diktator dan membuka jalan bagi pemulihan sistem demokrasi di negara tersebut.
Menurut Xanana, Mário Soares merupakan salah satu tokoh penting dalam perjuangan menegakkan kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia. Nilai-nilai yang diperjuangkannya, kata dia, menjadi inspirasi bagi banyak negara yang tengah membangun sistem pemerintahan demokratis.
“Kunjungan ini menjadi kesempatan penting untuk mempelajari sejarah politik Portugal, terutama proses transisi menuju demokrasi dan penguatan institusi negara,” ujar Xanana.
Pada kesempatan tersebut, Yayasan Mário Soares menyerahkan sejumlah koleksi buku kepada delegasi Timor-Leste. Buku-buku itu nantinya akan ditempatkan di Xanana Reading Room agar masyarakat Timor-Leste dapat mengakses berbagai literatur mengenai demokrasi, sejarah, dan tata kelola pemerintahan.
Xanana mengatakan inisiatif tersebut diharapkan dapat memperkuat pembentukan intelektual dan kesadaran sosial generasi muda Timor-Leste, khususnya dalam memahami nilai-nilai demokrasi.
Ia juga mengenang Mário Soares dan istrinya sebagai tokoh politik yang secara konsisten memperjuangkan kebebasan, demokrasi, dan martabat manusia sehingga menjadi inspirasi bagi para pemimpin di berbagai belahan dunia.
Perdana Menteri mengaku merasa terhormat dapat mengunjungi yayasan yang berperan menjaga memori sejarah Portugal sekaligus mempromosikan pendidikan kewarganegaraan dan demokrasi.
Dalam kunjungan itu, Xanana didampingi Duta Besar Timor-Leste untuk Portugal, Manuel de Araújo Serrano, serta Kepala Kantor Perdana Menteri, Elizabeth Exposto.
Pada hari berikutnya, Rabu (24/6), Xanana yang juga menjabat sebagai Eminent Person g7+ menyampaikan pidato utama dalam seminar internasional mengenai dampak krisis di Timur Tengah terhadap negara-negara yang terdampak konflik. Seminar tersebut diselenggarakan oleh Institute for the Promotion of Latin America and the Caribbean (IPDAL) bersama g7+ di Lisbon.
Dalam pidatonya, Xanana menyerukan kepada masyarakat internasional agar mengutamakan investasi untuk perdamaian, kerja sama, dan solidaritas global guna mencegah konflik yang terus mengancam stabilitas dan pembangunan dunia.
Ia menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga menimbulkan konsekuensi ekonomi, kemanusiaan, dan geopolitik bagi banyak negara, terutama negara-negara berkembang dan negara yang masih menghadapi konflik.
“Rakyat di negara-negara yang rentan sering kali harus menanggung beban paling besar dari konflik yang bukan mereka mulai dan tidak dapat mereka pengaruhi,” kata Xanana.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar, terganggunya jalur pelayaran internasional, dan meningkatnya inflasi global berpotensi menghambat kemajuan pembangunan yang telah dicapai negara-negara seperti Timor-Leste selama bertahun-tahun.
Xanana juga menyampaikan solidaritas kepada masyarakat yang terdampak konflik di Timur Tengah, termasuk rakyat Palestina dan negara-negara di kawasan Teluk yang merasakan dampak meningkatnya ketegangan regional.
Menurutnya, konflik bersenjata dan rivalitas geopolitik antarnegara besar telah mengalihkan perhatian serta sumber daya internasional dari berbagai agenda penting, seperti penanganan perubahan iklim, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Sumber daya yang seharusnya digunakan untuk membangun perdamaian, memperkuat institusi, dan mendidik anak-anak kini dialihkan untuk belanja militer. Dunia tampaknya lebih mudah membiayai perang daripada berinvestasi untuk perdamaian,” tegasnya.
Xanana menambahkan bahwa Timor-Leste akan terus berkomitmen memperkuat kerja sama regional dan multilateral melalui keanggotaannya di ASEAN, Komunitas Negara-Negara Berbahasa Portugis (CPLP), dan g7+, yang menurutnya menjadi wadah penting dalam membangun perdamaian dan kemakmuran bersama melalui dialog serta kemitraan.
Ia juga membagikan pengalaman Timor-Leste dalam membangun rekonsiliasi nasional setelah 24 tahun pendudukan sebagai bukti bahwa perdamaian hanya dapat dicapai melalui keberanian, visi jangka panjang, dan komitmen terhadap hidup berdampingan secara damai.
Menutup pidatonya, Xanana mengajak komunitas internasional memperkuat budaya dialog dan moderasi serta memberikan perhatian yang sama besar terhadap investasi untuk perdamaian sebagaimana investasi di bidang militer.
“Tidak seorang pun akan benar-benar aman sampai semua orang merasa aman. Perdamaian di satu tempat bergantung pada perdamaian di semua tempat,” ujarnya.
Seminar internasional tersebut turut dihadiri Sekretaris Eksekutif CPLP, Helder da Costa, para duta besar negara-negara anggota CPLP, Menteri Kehakiman Timor-Leste Sérgio da Costa Hornai, Menteri Pendidikan Timor-Leste Dulce de Jesus Soares, mahasiswa Timor-Leste di Portugal, serta sejumlah tamu undangan.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




