iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

Mantan Presiden Timor-Leste Francisco Guterres “Lú Olo” meninggal dunia  

Mantan Presiden Timor-Leste Francisco Guterres “Lú Olo” meninggal dunia  

Mantan Presiden Republik Demokrat Timor-Leste (RDTL) dan juga sebagai Ketua Umum Partai FRETILIN, Francisco Guterres “Lú Olo Foto Tatoli /Egas Cristóvão

DILI, 21 Juni 2026 (TATOLI) — Mantan Presiden Republik Demokrat Timor-Leste (RDTL), Francisco Guterres “Lú Olo” meninggal dunia di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Minggu (21/06) malam, setelah menjalani perawatan kesehatan intensif di rumah sakit tersebut.

Kabar duka wafatnya Ketua Umum Partai FRETILIN, dan juga Mantan Ketua Majelis Konstituante Republik Timor-Leste dan Mantan Ketua Parlemen Nasional itu diinformasikan melalui Laman Resmi “Pájina Ofisiál Francisco Guterres Lú Olo”  yang dipublikasikan pada Minggu (21/06) malam.

“Dengan kesedihan mendalam dan duka cita, keluarga mengumumkan bahwa Bapa Ketua Umum Partai FRETILIN, Mantan Presiden RDTL, Mantan Ketua Majelis Konstituante dan Mantan Ketua Parlemen Nasional, Dr. Francisco Guterres Lú Olo, telah meninggal dunia hari ini, di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, setelah menjalani perawatan kesehatan intensif,” demikian bunyi berita duka cita dalam Laman resmi tersebut yang diakses Tatoli.

Dalam Laman itu menyatakan “Kepergiannya merupakan kehilangan besar yang tak tergantikan bagi istri, anak-anak, dan seluruh keluarganya, bagi Partai FRETILIN, bagi rekan-rekan seperjuangannya, dan bagi semua orang yang berbagi dan membangun Timor-Leste yang merdeka, demokratis, dan berdaulat”.

“Kami meminta semua orang untuk menghormati privasi keluarga di saat yang sulit ini, mari kita bersama memanjatkan doa   dan memberikan penghormatan kepada mendiang,” tulis bunyi berita duka cita dalam Laman resmi itu.

“Di masa berkabung dan duka cita ini, kami menyampaikan rasa terima kasih terdalam kami kepada semua yang telah menunjukkan solidaritas, persahabatan, dan dukungan kepada keluarga. Terima kasih banyak!,” demikian bunyi berita duka cita dari Keluarga Nobre dan Guterres. 

Presiden Republik Demokrat Timor-Leste (RDTL), Francisco Guterres “Lú Olo”   lahir di Ossu, Distrik Viqueque, pada 07 September 1954.

Lú Olo menikah dengan Cidália Lopes Nobre Mouzinho Guterres, dan memiliki empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan yaitu, Francisco Cidalino, Eldino Nobre, Felezito Samora Guterres dan Dália Luliana Nobre Guterres.

Dari tahun 1963 hingga 1969, Lú Olo belajar di Kolese Santa Teresinha di Ossu, dan selama waktu itu ia menerima pendidikan sekolah dari para Pastor Salesian. Pada tahun 1969 ia menyelesaikan sekolah ‘quarta classe’ (kelas empat).

Pada tahun 1969 Lú Olo masuk Liceu  di Dili dan belajar di Liceu hingga tahun 1973, ketika ia kembali ke Colégio Santa Teresinha sebagai pengawas sekolah hingga tahun 1974. Lú Olo kembali ke Dili pada tahun 1974 untuk melanjutkan studinya, tetapi tidak menyelesaikan studinya  karena beliau bergabung dalam Perjuangan Melawan Kolonialisme Portugis.

Lú Olo tidak sempat melanjutkan studi. Namun pada tahun 2007, Lú Olo kembali melanjutkan studinya dengan kuliah di jurusan hukum dan lulus pada tahun 2012 di Universitas Nasional Timor Lorosa’e (UNTL).

Pada tahun 1974 ia bergabung dan berpartisipasi secara eksklusif dalam Perjuangan Pembebasan hingga tahun 2000 ketika ia mengabdikan dirinya untuk reorganisasi FRETILIN sebagai partai untuk mempersiapkan FRETILIN sebagai partai untuk era pasca-kemerdekaan, era demokrasi. Dia adalah bagian dari kelompok yang hanya terdiri dari empat Komandan, yang tinggal di hutan selama 24 tahun selama perang perlawanan.

Dari tanggal 15 September 2001 hingga 20 Mei 2002, Lú Olo menjabat sebagai Ketua Majelis Konstituante, yang menulis dan menyetujui Konstitusi RDTL. Hal tersebut membuat Lú Olo diakui sebagai “Mata Dalan ba Konstituisaun RDTL

Ketika Restorasi kemerdekaan nasional RDTL pada 20 Mei 2002, Lú Olo menjabat sebagai Ketua Parlemen Nasional RDTL (2002 – 2007).

Lú Olo diakui sebagai pemimpin perlawanan yang berhasil melakukan transisi dari seorang pejuang menjadi seorang pemimpin di era Pemerintahan Konstitusional dan dalam  Supremasi Hukum yang Demokratis.

Lú Olo, satu-satunya pemimpin pejuang dari masa perlawanan di Timor-Leste yang berhasil belajar dan akan segera menyelesaikan kursus praktiknya di bidang Hukum, dan akan segera mendapatkan lisensi sebagai seorang pengacara.

Tim TATOLI

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!