BOBONARO, 22 Mei 2026 (TATOLI) — Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral melalui Otoritas Nasional Mineral (ANM), Jumat ini memberikan izin prospeksi kepada perusahaan milik negara Murak Rai Timor (MRT) untuk memulai penelitian mineral logam dan unsur tanah jarang (Rare Earth Elements/REE) di dua wilayah yakni Kotamadya Bobonaro dan Covalima.
Ketua ANM, Rafael Araújo, menjelaskan bahwa lisensi prospeksi dan penelitian tersebut merupakan kelanjutan dari izin yang diberikan pada Mei 2024 setelah MRT menyelesaikan studi pendahuluan selama lebih dari satu tahun.
Izin prospeksi dan penelitian diberikan untuk tiga blok di Maliana, Ai-Asa Bobonaro, dan Lepo Zumalai agar perusahaan negara tersebut dapat melanjutkan studi detail sebelum memasuki tahap pengeboran.
Rafael Araújo menegaskan bahwa perkembangan tersebut merupakan salah satu langkah dari upaya, komitmen, dan kebijakan pemerintah untuk melakukan diversifikasi ekonomi nasional.
“Selama ini kita bergantung pada minyak bumi sebagai penggerak negara. Sekarang kita ingin melihat sumber daya lain seperti mineral yang kami yakini juga dapat mengembangkan ekonomi nasional,” ujarnya dalam kegiatan yang berlangsung di aula Paroki Bobonaro.
Mewakili Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral, Rafael meminta seluruh pihak, terutama para pemimpin komunitas, untuk bekerja sama dengan tim teknis MRT guna mendukung keberhasilan penelitian tersebut demi peningkatan ekonomi nasional di masa depan.
“Kita harus saling mendukung dan bekerja bersama untuk melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa mengenai kemerdekaan ini. Kami berharap sektor ini dapat berkembang dengan baik dan saya percaya infrastruktur dasar juga akan terus berkembang karena semuanya saling membutuhkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua MRT, José Manuel Gonçalves, menjelaskan bahwa mulai hari ini tim MRT akan melanjutkan pekerjaan teknis seperti pemetaan geologi, geofisika, dan geokimia guna menentukan target lokasi yang akan menjadi kandidat pengeboran.
Ia mengatakan lisensi tersebut berlaku selama empat tahun, namun jika seluruh pihak bekerja sama, pengeboran dapat dimulai lebih cepat.
“Berdasarkan data yang sudah kami kumpulkan pada fase pengenalan studi, saya bisa katakan bahwa paling cepat pengeboran dapat dimulai pada September tahun ini, tergantung situasi, kondisi cuaca, dan musim hujan. Paling lambat Januari 2027. Setelah seluruh proses prospeksi dan penelitian selesai, baru dapat diputuskan apakah proyek ini layak dilanjutkan ke tahap produksi,” ujarnya.
José Manuel Gonçalves juga menjelaskan bahwa unsur tanah jarang merupakan kelompok besar yang terdiri dari 17 mineral dan hasil penelitian awal menunjukkan Bobonaro dan Covalima memiliki indikasi dua kelompok unsur tanah jarang ringan dan berat dengan distribusi yang cukup memadai.
“Dua kelompok ini sangat penting untuk penggunaan teknologi modern saat ini, termasuk di bidang medis, teknologi penerbangan, dan lainnya. Ketika dunia beralih ke energi non-renewable dan renewable tertentu, mineral dari unsur tanah jarang memberikan kontribusi yang sangat besar,” katanya.
Sekretaris Otoritas Kotamadya Bobonaro untuk urusan Perencanaan, Semedo Laco Costa, mengatakan pemerintah daerah Bobonaro siap mendukung dan bekerja sama dalam proses tersebut hingga tahap eksplorasi besar berikutnya.
“Kita adalah negara kecil yang dikelilingi pegunungan, tetapi memiliki kekayaan alam yang sangat besar. Selain minyak bumi, kita juga memiliki sumber daya lain yang suatu hari nanti dapat menjamin ekonomi Timor-Leste yang berkelanjutan dan tangguh,” ujarnya.
Dilain pihak, Sekretaris Otoritas Kotamadya Covalima bidang Administrasi dan Keuangan, Alberto de Araújo, mengapresiasi upaya pemerintah dan menilai penelitian tersebut sangat penting karena Covalima memiliki potensi sumber daya mineral logam.
“Kami berterima kasih karena kekayaan alam dari wilayah pegunungan Bobonaro dapat mengalir hingga ke dataran rendah Covalima dan menghasilkan potensi sumber daya yang luar biasa. Kami juga memiliki potensi tambang dan saat ini sedang dilakukan studi kelayakan mangan di Beiseuk (Covalima),” katanya.
Kegiatan eksplorasi dan penelitian akan dilakukan di area seluas 150 km² yang meliputi wilayah administratif Maliana, mulai dari Ritabou, Raifun, Odomau, Holsa, Tapo-Memu, hingga Saburai. Dari wilayah administratif Bobonaro mencakup Ai-Asa, Oe-Leu, Leber, Mali-Lait, Sibuni, Atuaben, Lourba, Lour, Kota Bo’ot, Soilesu, dan wilayah lainnya, serta wilayah administratif Loloto’e, termasuk suku Gildapil. Sementara di Kotamadya Covalima mencakup wilayah administratif Lepo dan Mape di Daerah Administrasi Zumalai.
Selain itu, MRT juga tengah melakukan penelitian di satu blok di Kotamadya Liquiça terkait mineral industri untuk bahan konstruksi, termasuk batu merah dan batu putih di Kotamadya Manatuto dengan total empat blok dan luas area mencapai 200 kilometer persegi.
Reporter : Sergio da Cruz
Editor : Armandina Moniz




