DILI, 28 April 2026 (TATOLI) – Global Environment Facility (GEF) mengumumkan dukungan pendanaan baru untuk memperkuat aksi iklim negara-negara kurang berkembang atau Least Developed Countries (LDC) Group, termasuk proyek baru senilai US$2,2 juta guna memperkuat kapasitas kelembagaan kelompok LDC, dalam pertemuan Strategi LDC tentang Implementasi Aksi Iklim di Dili.
Pengumuman itu disampaikan Manajer Divisi Konvensi dan Dana GEF, Chizuru Aoki, yang mengatakan proyek bertajuk Support to the LDC Group on Climate Change for Impactful and Just Climate Action akan memperkuat dukungan teknis, keuangan dan logistik bagi Sekretariat LDC, sekaligus mendorong berbagi pengetahuan, pembangunan kapasitas dan implementasi aksi iklim di tingkat nasional maupun regional.
Chizuru Aoki juga mengumumkan tercapainya konsensus positif untuk fase berikut Dana Negara-Negara Kurang Berkembang (LDCF) dan Dana Khusus Perubahan Iklim (SCCF), yang akan dimulai pada 1 Juli 2026.
Dalam skenario yang disepakati, LDCF diproyeksikan memperoleh pendanaan antara US$1 miliar hingga US$1,3 miliar, sementara SCCF diperkirakan dapat menghimpun antara US$200 juta hingga US$300 juta.
Selain itu, dana pengisian kembali GEF Trust Fund saat ini mencapai US$3,88 miliar, dengan negara-negara LDC dan negara pulau kecil berkembang tetap menjadi prioritas penerima, termasuk akses hingga US$8 juta per negara untuk program mitigasi, keanekaragaman hayati dan pengelolaan lahan.
“Ini menjadi momentum penting bahwa GEF dapat terus mendukung seluruh negara LDC secara bermakna dan produktif,” kata Aoki di Novo Turismo, Selasa ini.
Ia memuji keterlibatan aktif kelompok LDC di bawah kepemimpinan Timor-Leste dan utusan perubahan iklim Timor-Leste, Adão Soares Barbosa, dalam membangun konsensus selama negosiasi pengisian kembali dana.
Menurut Chizuru Aoki, ketidakpastian geopolitik global dan tekanan terhadap pembiayaan iklim menjadikan koordinasi antarnegara rentan semakin penting menjelang pertemuan Subsidiary Bodies di Bonn dan COP31 di Antalya tahun ini.
Mendukung seruan tersebut, Perwakilan Residen World Bank Group di Timor-Leste, David Freedman, menilai perubahan iklim tetap menjadi salah satu tantangan terbesar zaman ini dan menegaskan aksi kolektif sebagai satu-satunya respons yang efektif.
“Bagi World Bank Group, merupakan kehormatan mendukung pertemuan ini dan partisipasi kelompok LDC dalam proses iklim global,” katanya seraya menyampaikan keyakinannya terhadap kemampuan Timor-Leste memimpin blok LDC dan membangun konsensus dalam negosiasi mendatang.
Freedman juga menyoroti peningkatan fokus Bank Dunia pada pembangunan terkait iklim melalui berbagai inisiatif energi, pertanian cerdas iklim dan ketahanan air, termasuk upaya mendorong investasi swasta dalam pembiayaan iklim.
Sementara itu, Dubes Adão Barbosa mengatakan Timor-Leste telah menerima manfaat besar dari pembiayaan iklim internasional, termasuk US$67 juta dari LDCF dan lebih dari US$100 juta melalui mekanisme GEF sejak meratifikasi konvensi perubahan iklim pada 2006.
Ia menambahkan Timor-Leste juga memperoleh US$65,3 juta dari Green Climate Fund untuk proyek-proyek yang sedang berjalan, sementara proyek Sistem Peringatan Dini senilai US$21,7 juta turut memperkuat ketahanan iklim nasional.
Sebagai bagian dari agenda pertemuan, para delegasi dijadwalkan mengunjungi Aileu untuk melihat dampak proyek Ikan Adapt senilai US$4,4 juta yang didanai LDCF, termasuk dukungan bagi komunitas budidaya ikan setempat.
“Investasi ini menunjukkan pembiayaan iklim telah memberi dampak nyata bagi masyarakat di lapangan,” kata Barbosa, seraya menekankan pentingnya terus memperjuangkan akses yang lebih besar terhadap dana iklim bagi negara-negara rentan.
Pertemuan strategi selama tiga hari di Dili ini diharapkan mempertajam prioritas bersama negara-negara LDC menjelang negosiasi iklim mendatang, sekaligus memperkuat tuntutan atas dukungan implementasi, pembiayaan yang mudah diakses dan representasi lebih besar bagi negara rentan dalam agenda iklim global.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




