DILI, 16 April 2026 (TATOLI) – Laporan terbaru Bank Dunia menegaskan bahwa keanggotaan Timor-Leste dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dapat menjadi “jangkar” penting dalam mempercepat transformasi ekonomi nasional, namun di saat yang sama tantangan daya saing dan implementasi reformasi masih perlu segera diatasi.
Dalam laporan Timor-Leste Economic Report: Leveling Up: How ASEAN Membership Can Support Timor-Leste’s Economic Transformation yang dirilis hari ini, Bank Dunia menyebut Timor-Leste berada pada momen kritis dalam upaya peralihan dari ekonomi yang bergantung pada minyak menuju ekonomi yang lebih produktif, berbasis ekspor, keterampilan, dan sektor swasta.
Laporan tersebut menekankan bahwa bersamaan dengan penyesuaian fiskal, reformasi struktural untuk mendorong pertumbuhan yang dipimpin sektor swasta perlu dipercepat. Reformasi itu mencakup peningkatan akses lahan, transparansi perizinan usaha, perluasan akses pembiayaan, penguatan kebijakan persaingan, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Bank Dunia menilai, berbagai langkah tersebut harus didukung investasi di sektor pendidikan dan kesehatan untuk meningkatkan produktivitas jangka panjang. Namun demikian, ASEAN dinilai menjadi elemen kunci yang dapat berfungsi sebagai jangkar untuk mempercepat dan mengoordinasikan reformasi tersebut secara lebih efektif.
“Keanggotaan ASEAN memberikan platform berbasis aturan dan kerangka reformasi yang dapat membantu mempercepat transformasi ekonomi Timor-Leste,” demikian penekanan laporan tersebut.
Timor-Leste resmi bergabung dengan ASEAN pada 2025, setelah sebelumnya menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2024. Menurut Bank Dunia, kedua keanggotaan ini membuka peluang strategis untuk memperkuat integrasi ekonomi regional dan mempercepat pembangunan ekonomi domestik.
Laporan itu juga menilai bahwa pengalaman negara-negara ASEAN yang lebih dulu bergabung, seperti Vietnam, Kamboja, dan Laos, menunjukkan bahwa manfaat terbesar dari integrasi regional muncul ketika negara mampu memperbaiki implementasi kebijakan, khususnya di bidang fasilitasi perdagangan, kepabeanan, dan layanan investasi.
ASEAN tidak hanya dipandang sebagai instrumen pengurangan tarif, tetapi juga sebagai kerangka kerja yang lebih luas yang mencakup sektor jasa, investasi, transportasi, pariwisata, kebijakan persaingan, dan ekonomi digital. Dalam konteks ini, keberhasilan Timor-Leste akan sangat bergantung pada kemampuan memperkuat institusi dan sistem implementasi.
Bank Dunia mencatat bahwa Timor-Leste telah memiliki sejumlah fondasi penting, termasuk sistem bea cukai otomatis ASYCUDA World, Portal Informasi Perdagangan, regulasi sanitasi dan fitosanitasi (SPS) yang diperbarui, serta layanan investasi satu pintu. Dana Minyak Bumi sebesar 18,6 miliar dolar AS juga disebut sebagai penyangga fiskal yang penting dalam masa transisi.
Meski demikian, laporan tersebut menyoroti masih adanya tantangan serius, terutama dalam konsistensi implementasi regulasi, serta kesenjangan dalam sistem bea cukai, perizinan, digitalisasi layanan publik, dan mekanisme penyelesaian sengketa. Kondisi ini dinilai masih meningkatkan biaya usaha dan menghambat investasi.
Pengalaman Pelabuhan Tibar menjadi salah satu contoh kemajuan reformasi, di mana waktu proses bea cukai berhasil dipangkas dari hampir dua minggu menjadi sekitar empat hari. Namun, Bank Dunia menegaskan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan reformasi serupa dapat diterapkan secara luas di seluruh sistem perdagangan dan layanan publik.
Dalam laporan tersebut juga diperkenalkan kerangka kerja “Four D”, yaitu desain, penyampaian, disiplin, dan pengembangan, sebagai pendekatan untuk mengoperasionalkan keanggotaan ASEAN menjadi mesin reformasi ekonomi yang terukur dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Bank Dunia mengingatkan bahwa integrasi regional juga membawa tantangan, termasuk meningkatnya tekanan persaingan terhadap perusahaan domestik. Namun, dampak tersebut dinilai dapat dikelola melalui masa transisi tarif dan penguatan daya saing nasional.
Risiko fiskal dari liberalisasi perdagangan juga disebut relatif terbatas, mengingat kontribusi bea impor terhadap pendapatan negara yang tidak terlalu besar. Selain itu, implementasi bertahap dan reformasi pajak yang lebih luas dinilai dapat membantu menjaga stabilitas fiskal.
Laporan tersebut menegaskan bahwa lima tahun ke depan menjadi periode penting bagi Timor-Leste, terutama dalam mempersiapkan diri untuk memperkuat implementasi reformasi, meningkatkan daya saing, dan memaksimalkan manfaat keanggotaan ASEAN secara penuh.
Dengan penguatan institusi, peningkatan efisiensi layanan publik, serta konsistensi reformasi, Bank Dunia menilai Timor-Leste memiliki peluang untuk menjadikan ASEAN bukan hanya simbol integrasi regional, tetapi juga pendorong utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




