DILI, 18 April 2026 (TATOLI)— Harga minyak anjlok tajam dan dua indeks saham AS mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada hari Jumat (17/04/2026), setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan Selat Hormuz terbuka untuk kapal komersial.
Melansir NBC News, Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan harga minyak AS, turun sebesar $9,47, atau 10,29%, menjadi $84,95 menurut oilprice.com. Minyak mentah Brent, standar internasional, turun $8,52, atau 8,52%, menjadi $90,87 per barel.
Hari Jumat (17/04), merupakan penurunan satu hari terbesar kedua sejak perang dimulai untuk minyak mentah AS dan Brent.
Harga berjangka minyak pemanas, yang merupakan indikator untuk bahan bakar jet, turun 10%. Harga berjangka gas RBOB grosir juga turun 5%.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,” tulis Abbas Araghchi dalam sebuah unggahan di media X pada Jumat pagi.
Sementara itu, Saham-saham di seluruh Eropa juga melonjak lebih tinggi setelah pengumuman menteri Iran tersebut, dengan indeks Stoxx 600 naik 1,4%. Indeks DAX Jerman melonjak 2,2%, saham di Prancis naik 2%, dan indeks acuan FTSE 100 di Inggris naik hampir 1%.
Para pemimpin Eropa, yang sedang mengadakan pertemuan puncak ketika pengumuman dari Iran muncul, menyambut berita itu dengan hati-hati.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang memimpin KTT tersebut, juga menyambut baik berita itu. Namun Macron mengatakan bahwa pengamanan selat tersebut perlu dilakukan oleh pihak yang netral dan independen. “Selat itu harus segera dibuka kembali tanpa biaya tol dan tanpa batasan,” tambah Starmer.
“Berdasarkan hukum internasional, transit melalui jalur air seperti Selat Hormuz harus tetap terbuka dan gratis,” kata diplomat tertinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, dalam sebuah unggahan di media X. “Skema pembayaran untuk pelayaran apa pun akan menciptakan preseden berbahaya bagi jalur maritim global.”
Dilain pihak, perusahaan pelayaran terbesar di dunia juga merespons dengan hati-hati.
“Sejak pecahnya konflik, kami telah mengikuti arahan dari mitra keamanan kami di kawasan ini, dan rekomendasi sejauh ini adalah untuk menghindari transit melalui Selat Hormuz,” kata perusahaan Maersk dalam sebuah pernyataan. “Keputusan apa pun untuk melintasi selat tersebut akan didasarkan pada penilaian risiko dan pemantauan ketat terhadap situasi keamanan.”
Sementara itu, Direktur Pelaksana Perdagangan Suku Bunga Global, Tom Di Galoma, berkomentar bahwa harga minyak cukup signifikan. “Harga minyak di sini turun cukup signifikan… Saya rasa itulah yang mendorong pergerakan ini. Apakah kita benar-benar akan mendapatkan gencatan senjata yang berkepanjangan dan pembukaan perbatasan secara langsung? Saya tidak tahu. Sepertinya ini akan membutuhkan waktu untuk terselesaikan. Tapi saat ini, saya pikir itulah yang sedang terjadi… Semua kabar baik datang dari Teluk,” katanya.
Hal yang sama juga diutarakan Strategis Riset Senior, Pepperstone, London, Michael Brown, “Memang bagus sekali adanya gencatan senjata dan tentu saja kita tidak ingin aksi militer berlanjut. Tetapi selama gencatan senjata sejauh ini, kita masih melihat seluruh Selat Hormuz tetap tidak dapat dilalui. Kondisi komoditas masih terus memburuk. Jika kita beralih ke situasi di mana jalurnya masih menuju de-eskalasi – tetapi sekarang kita memiliki bonus berupa aliran komoditas melalui Hormuz yang kembali ke tingkat normal seperti sebelum konflik – maka itu jelas menghilangkan risiko besar bagi perekonomian juga. Dan saya pikir itulah mengapa pasar bereaksi sangat positif”.
Harga minyak melonjak setelah perang di Timur Tengah dimulai pada 28 Februari, bahkan sempat mendekati $120 per barel. Lonjakan harga ini disebabkan oleh melambatnya lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak yang biasanya dilalui oleh seperlima pasokan minyak dunia.
TATOLI kutip di NBC News, Reuters




