DILI, 24 Februari 2026 (TATOLI) – Presiden Republik Timor-Leste, Jose Ramos-Horta, menyampaikan pidato kunci yang kuat pada Sesi ke-61 Sidang Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, dengan menetapkan hak asasi manusia sebagai landasan penting bagi masyarakat yang stabil dan adil serta menyerukan solidaritas global.
Diakses Tatoli dari laman resmi Istana Kepresidenan Republik, bahwa dalam Sesi ke-61 Sidang Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, Senin (23/2/2026), itu Kepala Negara Timor-Leste menyampaikan seruan yang menggugah untuk penghapusan utang global bagi negara-negara berkembang dan mendesak para pemimpin dunia untuk mengejar solusi diplomatik yang penuh kasih atas konflik yang menghancurkan di Ukraina, Gaza, dan Myanmar, dengan menekankan bahwa hak asasi manusia tidak dapat eksis dalam ruang hampa kemiskinan dan ketidakadilan.
Dilihat dari sejarah rekonsiliasi Timor-Leste sendiri, Peraih Nobel Perdamaian tersebut memperingatkan terhadap pengikisan norma-norma internasional yang disebabkan oleh persaingan geopolitik dan polarisasi ekstrem.

Berita terkait : Presiden Ramos-Horta bertolak ke Jenewa dan Paris
Presiden Ramos-Horta juga menekankan menawarkan visi berani untuk perdamaian global, mendesak adanya kompromi tanpa mempermalukan pihak mana pun dalam konflik Ukraina, serta menyerukan solusi dua negara yang layak di Timur Tengah yang melindungi perempuan dan anak-anak dengan segala cara.
Di luar ruang sidang pleno, agenda Presiden Republik terus menekannya untuk memperkuat seruan untuk ketahanan global melalui pertemuan tingkat tinggi dengan Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Volker Türk, dan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Dimana, pertemuan-pertemuan itu, dilakukan disela-sela makan siang diplomatik yang dipersiapkan oleh Misi Permanen Timor-Leste untuk perwakilan ASEAN dan CPLP, dengan menonjolkan peran bangsa sebagai pembangun jembatan (bridge-builder) di kancah internasional.
TATOLI




