DILI, 06 Februari 2026 (TATOLI) — Presiden Republik Timor-Leste, Jose Ramos-Horta, dalam Konferensi World Government Summit (KTT Pemerintah Dunia) 2026 di Dubai, menguraikan tiga pilar utama bagi stabilitas internasional yaitu, toleransi, mediasi, dan solidaritas kemanusiaan.
Penguraian tiga pilar utama bagi stabilitas internasional itu disampaikan Presiden Ramos-Horta saat menyampaikan pidato visioner di World Government Summit, pada Kamis (05/02) itu memuji transformasi Uni Emirat Arab (UEA) dari desa nelayan sederhana menjadi “kediaman damai” global.
Dimana dalam uraian Kepala Negara bahwa tiga pilar utama itu merujuk pada keberhasilan UEA dalam menengahi pertukaran tawanan antara Rusia dan Ukraina serta upaya bantuan masifnya di Gaza sebagai contoh utama.
Diakses Tatoli dari Istana Kepresidenan Republik, Kepala Negara dalam pidato visioner itu di World Government Summit 2026, menekankan bahwa model UEA membuktikan bahwa perdamaian berkelanjutan dapat dicapai melalui “diplomasi sunyi” dan kompromi, alih-alih konfrontasi yang saling menjatuhkan (zero-sum).
Maka itu, Ramos-Horta mendesak para pemimpin dunia untuk mengadopsi kerangka praktis ini guna memperbaiki “reruntuhan moral” dari kekacauan internasional saat ini, menuju sistem yang memprioritaskan de-eskalasi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.

Dalam pidatonya, Kepala Negara juga menyoroti Deklarasi Persaudaraan Manusia tahun 2019 yang bersejarah. Peraih Nobel tersebut mengusulkan pergeseran radikal dalam tata kelola global, yang menyarankan agar tatanan dunia baru muncul dari Semenanjung Arab. Secara khusus, ia menyerukan pemindahan Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke UEA, dengan argumen bahwa pusat diplomasi global harus lebih dekat dengan dua pertiga umat manusia di Global South (Selatan Global) yang berbagi sejarah kolonisasi serta perjuangan untuk kebebasan.
Mencermati perjalanan Timor-Leste sendiri, Presiden Republik juga berbagi pesan kuat tentang ketangguhan, yang mengilustrasikan bagaimana sebuah “masyarakat yang hancur” dapat diubah menjadi demokrasi yang dinamis melalui kesabaran dan rekonstruksi.
Presiden Ramos-Horta juga menyoroti kemajuan sosial Timor-Leste yang luar biasa, termasuk angka harapan hidup yang meningkat menjadi lebih dari 70 tahun dan pertumbuhan tenaga medis dari hanya 19 dokter saat restorasi kemerdekaan menjadi 1.400 dokter saat ini.
Menutup intervensinya, Presiden Ramos-Horta menyerukan kepemimpinan yang etis dan reformasi mendesak bagi lembaga-lembaga global, serta menegaskan kembali komitmen Timor-Leste untuk memperjuangkan perdamaian dan martabat manusia sebagai anggota komunitas internasional yang aktif.
Pada tahun 2026, World Government Summit diselenggarakan dengan tema ‘Membentuk Pemerintahan Masa Depan’. KTT ini mempertemukan pemerintah, organisasi internasional, para pemimpin pemikiran, dan para pemimpin sektor swasta dari seluruh dunia untuk mendorong kerja sama internasional dan mengidentifikasi solusi inovatif untuk tantangan masa depan, yang pada akhirnya menginspirasi dan memberdayakan generasi pemerintahan berikutnya.
TATOLI




