DILI, 02 Januari 2026 (TATOLI)– Paus Leo XIV menegaskan bahwa tahun baru merupakan sebuah perjalanan terbuka yang harus dijelajahi dengan harapan dan iman, seraya mengajak umat beriman untuk memaknai setiap hari sebagai awal kehidupan baru yang dianugerahkan oleh kasih dan belas kasih Allah.
Dikutip dari Vatican News, Pesan tersebut disampaikan Paus Leo XIV saat memimpin Misa publik pertamanya di tahun 2026 yang dirayakan pada Hari Raya Maria, Bunda Allah, di Vatikan, Kamis (1/1). Misa tersebut dihadiri sekitar 5.500 umat beriman.
Dalam khotbah pembukanya, Paus merenungkan berkat dari Kitab Bilangan yang diambil dari bacaan pertama liturgi hari itu, yakni : “Semoga Tuhan memberkati dan melindungi Kalian. Semoga Tuhan menyinari wajah-Nya kepada Kalian dan berbelas kasih kepada Kalian. Semoga Tuhan menyingkapkan wajah-Nya kepada Kalian dan membawa kedamaian bagi Kalian.”
Paus menjelaskan bahwa berkat tersebut awalnya ditujukan kepada bangsa Israel yang baru saja dibebaskan dari perbudakan di Mesir dan ditawari sebuah “kelahiran kembali” serta “jalan terbuka menuju masa depan”.
Menurut Paus, liturgi Hari Raya Maria, Bunda Allah, mengingatkan umat bahwa setiap hari dapat menjadi awal kehidupan baru, berkat kasih Allah yang murah hati, belas kasih-Nya, serta tanggapan bebas manusia terhadap panggilan-Nya.
“Oleh karena itu, kita harus tahu bahwa tahun yang akan datang sebagai perjalanan terbuka yang harus dijelajahi dan mendorong umat beriman untuk melangkah dengan keyakinan dan harapan,” ungap Paus.
Dalam bagian lain khotbahnya, Paus Leo XIV menyoroti makna akan perayaan liturgi hari itu, yakni Hari Raya Maria, Bunda Allah, sekaligus Hari Perdamaian Dunia. Ia menegaskan adanya hubungan yang erat antara kedua perayaan tersebut.
Dengan kerja sama Maria, lanjut Paus, Allah hadir di tengah manusia dalam keadaan “tanpa senjata dan tak berdaya”, sebagai seorang bayi yang baru lahir dan dibaringkan di dalam buaian. Hal ini, menurut Paus, menjadi pelajaran bahwa dunia tidak diselamatkan oleh kekerasan, melainkan oleh upaya tanpa lelah untuk memahami, mengampuni, membebaskan, dan menyambut semua orang tanpa perhitungan dan tanpa rasa takut.
Paus menekankan bahwa dalam keibuan ilahi Maria, dua realitas “tanpa senjata” bertemu dan bersatu, yakni Allah yang melepaskan segala hak istimewa keilahian-Nya untuk menjadi manusia, serta manusia yang dengan penuh kepercayaan dan ketaatan menerima kehendak Allah.
Menutup khotbahnya, Paus Leo XIV mengajak umat merenungkan Tahun Yubileum 2025 yang akan berakhir pada 06 Januari. Dalam refleksinya, Paus mengutip pesan Paus Santo Yohanes Paulus II pada penutupan Yubileum Agung tahun 2000, yang menekankan bahwa Yubileum merupakan kesempatan luar biasa bagi umat beriman untuk mengalami pengampunan yang diterima dan diberikan, mengenang para martir, serta mendengarkan jeritan kaum miskin di dunia.
Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, Paus menegaskan, umat diajak untuk merasakan kehadiran Allah yang menyelamatkan dan kasih-Nya yang terus memperbarui wajah bumi.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor: Armandina Moniz




