iklan

INTERNASIONAL

KBRI dan MAPPF resmikan fasilitas budidaya ikan nila, perkuat ketahanan pangan

KBRI dan MAPPF resmikan fasilitas budidaya ikan nila, perkuat ketahanan pangan

Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Timor-Leste dan Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan (MAPPF) meresmikan fasilitas akuakultur berupa kolam budidaya ikan di Aileu. Foto Tatoli/ Mirandolina Barros Soares

AILEU, 19 Desember 2025 (TATOLI)—Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Timor-Leste dan Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan (MAPPF) hari ini meresmikan fasilitas akuakultur berupa kolam budidaya ikan nila dalam upaya memerangi malnutrisi dan meningkatkan ketahanan pangan di Desa Lahae, Kotamadya Aileu.

Program tersebut didukung oleh Pemerintah Indonesia dengan dana senilai Rp4.512.801.238,00 melalui KBRI di Timor-Leste, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB University), Indonesian AID, serta Pemerintah Timor-Leste melalui MAPPF.

Atas nama Pemerintah Timor-Leste dan kementerian terkait, Menteri MAPPF Marcos da Cruz mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia melalui KBRI, IPB, dan Indonesian AID atas dukungannya dalam memfasilitasi pengembangan akuakultur di Aileu, sehingga dapat membantu mengurangi malnutrisi di kalangan masyarakat setempat.

“Kita masih menghadapi masalah ketahanan pangan dan malnutrisi karena masih banyak anak yang mengalami kondisi tersebut. Oleh karena itu, melalui sektor perikanan, kementerian berupaya meningkatkan produksi ikan,” kata Menteri Marcos da Cruz dalam pidatonya pada acara peresmian fasilitas akuakultur di Desa Lahae, Kotamadya Aileu, Jumat ini.

Menteri Marcos menambahkan bahwa MAPPF juga telah mendirikan kolam ikan di Gleno (Ermera), Viqueque, Maliana (Bobonaro), dan Maubara (Liquiça) untuk memproduksi benih ikan yang dapat dipelihara oleh masyarakat.

“Berdasarkan survei, konsumsi ikan tahun ini mulai meningkat, dari 6 kg per orang per tahun menjadi 8,7 kg per orang per tahun. Artinya, masyarakat mulai menyadari bahwa ikan merupakan salah satu sumber protein tinggi. Pemerintah harus bekerja keras untuk memenuhi tingkat konsumsi tersebut, sehingga kami menargetkan 10 kg per orang per tahun,” tuturnya.

Menteri Marcos juga mengakui bahwa kerja sama ini sangat membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan dan berharap fasilitas akuakultur ini dapat terus berlanjut meskipun menghadapi berbagai tantangan, salah satunya ketersediaan pakan ikan.

Sementara, Perwakilan Duta Besar Indonesia di Timor-Leste, Nugroho Aribhimo, mengatakan bahwa program ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste dalam pengembangan Akuakultur Terpadu di Timor-Leste pada tahap pertama, yang telah diselesaikan dengan baik dan diresmikan.

“Program hibah ini merupakan bagian dari komitmen bersama kedua negara dalam upaya memerangi malnutrisi dan meningkatkan ketahanan pangan di Timor-Leste. Program ini baru memasuki tahun pertama pelaksanaannya, dan apabila disepakati bersama, diharapkan dapat dilanjutkan pada tahun kedua dan ketiga agar manfaatnya semakin luas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa program ini meliputi pembangunan sarana budidaya ikan air tawar, pelatihan dan pendampingan, penyediaan peralatan perikanan, serta penyediaan benih dan pakan ikan.

“Program ini terlaksana melalui sinergi dan kerja sama antara Indonesian AID, Institut Pertanian Bogor (IPB), MAPPF  Timor-Leste, serta masyarakat Aileu. Atas kerja sama yang erat dan konstruktif ini, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang terlibat,” ucapnya.

Dijelaskan bahwa pelaksanaan program ini dimulai dari pelatihan bagi komunitas perikanan Aileu di IPB Bogor, pembangunan kolam ikan, hingga proses pengiriman benih ikan dari Indonesia ke Timor-Leste yang membutuhkan persiapan dan koordinasi yang matang.

Ia menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung Pemerintah Timor-Leste dalam upaya pembangunan di berbagai sektor, termasuk sektor perikanan.

“Semoga program ini dapat memberikan manfaat nyata bagi komunitas perikanan di Aileu, berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan nasional Timor-Leste, serta semakin mempererat hubungan persahabatan dan persaudaraan antara Indonesia dan Timor-Leste,” harapnya.

Sementara itu, perwakilan IPB, Prof. Dr. Mala Nurilmala, menegaskan bahwa pembangunan fasilitas akuakultur ini merupakan langkah strategis dalam pengembangan akuakultur berkelanjutan di Timor-Leste.

“Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi ikan air tawar, tetapi juga pada transfer teknologi budidaya dari Indonesia, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemenuhan kebutuhan protein masyarakat guna mendukung ketahanan pangan dan pencegahan malnutrisi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konsep yang diterapkan adalah akuakultur terpadu, meliputi kegiatan pembenihan hingga pembesaran ikan ukuran konsumsi, dengan sistem budidaya yang efisien, adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat, dan mudah direplikasi oleh pembudidaya ikan di Timor-Leste.

Fasilitas akuakultur yang diresmikan terdiri atas 12 bak bulat berdiameter 5 meter dan tinggi 1 meter, yang terbagi atas lima bak untuk induk, tiga bak untuk calon induk, dan empat bak untuk pendederan. Selain itu, terdapat empat kolam berlapis HDPE berukuran 13 × 12 × 1,2 meter.

Dengan asumsi kepadatan tebar 10 ekor per meter kubik, setiap kolam diisi sebanyak 1.560 ekor ikan nila. Pada tingkat kelangsungan hidup (SR) sebesar 80 persen, jumlah ikan yang dipanen diperkirakan mencapai 1.248 ekor per kolam. Dengan bobot panen rata-rata 250 gram per ekor, potensi produksi mencapai sekitar 312 kilogram per kolam atau total sekitar 1.248 kilogram dari empat kolam pembesaran.

Di tempat yang sama, Ketua Otoritas Kotamadya Aileu, João Bosco, mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan di wilayahnya dalam bidang budidaya perikanan yang sangat membantu masyarakat di Desa Lahae, Kotamadya Aileu.

“Kami minta agar program akuakultur ini dapat diperluas, karena lokasi seperti ini tidak hanya satu di Aileu. Masih ada beberapa tempat lain di Aileu yang memiliki kondisi yang baik dan sesuai dengan analisis teknis, seperti di Desa Liurai, Saboria, dan Seloi Kraik, yang dapat dikembangkan,” ujarnya.

Otoritas setempat juga merekomendasikan adanya pelatihan bagi petani ikan di Aileu guna menambah wawasan masyarakat, seiring dengan rencana menjadikan Desa Lahae sebagai kawasan pariwisata budidaya ikan di masa depan.

Reporter: Mirandolina Barros Soares

Editor   : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!