DILI, 04 Mei 2026 (TATOLI) — Di tengah situasi konflik dan krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Sudan, komunitas jurnalis negara tersebut menerima pengakuan dunia melalui penganugerahan Penghargaan Kebebasan Pers Dunia UNESCO/Guillermo Cano 2026 atau UNESCO/Guillermo Cano World Press Freedom Prize 2026 yang diberikan oleh UNESCO kepada Sudanese Journalists Syndicate.
Penghargaan tahunan yang diumumkan menjelang peringatan World Press Freedom Day ini merupakan bentuk apresiasi terhadap keberanian dan keteguhan jurnalis Sudan dalam mempertahankan kebebasan pers di tengah kondisi berbahaya.
Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Khaled El-Enany menyampaikan bahwa para jurnalis Sudan telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menyampaikan informasi yang akurat kepada publik meskipun menghadapi ancaman serius.
“Di tengah konflik, mereka tetap menjalankan tugas jurnalistik dengan keberanian dan komitmen tinggi, bahkan ketika keselamatan mereka terancam,” ujarnya dalam pernyataan resmi di laman UNESCO.
Ketua Sudanese Journalists Syndicate, Abdelmoniem Abuedries Ali, menegaskan bahwa penghargaan ini bukan hanya milik organisasinya, tetapi juga seluruh jurnalis Sudan yang terus bekerja di lapangan dalam situasi penuh risiko.
Sejak konflik bersenjata pecah pada 2023, banyak jurnalis di Sudan menghadapi berbagai bentuk tekanan, termasuk kekerasan, intimidasi, hingga pembatasan akses informasi. Meski demikian, mereka tetap melanjutkan peliputan untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang dapat dipercaya.
Penghargaan UNESCO/Guillermo Cano World Press Freedom Prize sendiri didirikan pada 1997 dan diberikan setiap tahun kepada individu atau organisasi yang menunjukkan kontribusi signifikan dalam membela kebebasan pers, khususnya dalam kondisi yang berisiko tinggi.
Penganugerahan tahun ini kembali menegaskan pentingnya perlindungan terhadap jurnalis di seluruh dunia, terutama di wilayah konflik, sekaligus menjadi pengingat bahwa kebebasan pers merupakan pilar utama dalam menjaga transparansi dan demokrasi.
Melansir BBC News, Sudan terjerumus dalam perang saudara pada April 2023 setelah terjadi perebutan kekuasaan yang sengit antara militer pemerintah dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Perang saudara ini telah menyebabkan kelaparan dan dugaan genosida di wilayah Darfur barat. Kekhawatiran terutama dirasakan penduduk Kota el-Fasher setelah kota tersebut direbut oleh RSF baru-baru ini.
Lebih dari 150.000 orang tewas dalam konflik di seluruh negeri, dan sekitar 12 juta lainnya telah meninggalkan rumah mereka akibat pertikaian tersebut. PBB menyebutnya sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




