iklan

OPINI

Strategi etika kesehatan masyarakat dalam penanganan TBC di Timor-Leste

Strategi etika kesehatan masyarakat dalam penanganan TBC di Timor-Leste

Ilustrasi tuberkulosis. Foto/Espesiál

Oleh: Santana Martins

Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Kesehatan Masyarakat  Fakultas Ilmu Kesehatan Masarakat Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia, email: martins.s.ugqinsptl@gmail.com WA: +67077866666, FB: santanamartins66 Linkedhin:www.linkedin.com/in/santana-martins-276aa8354, www.linkedin.com/in/santana-martins-31645aa9

Pengantar: masalah Tuberkulosis merupakan issue sosial dan Etikal

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang terus menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024 dari World Health Organization (WHO), lebih dari 10 juta orang terinfeksi TBC setiap tahunnya, dengan lebih dari 1,5 juta kematian akibat penyakit ini. Meskipun pengobatan tersedia, TBC tetap menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang mengalami tantangan besar dalam hal akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.

Di tingkat regional, kawasan Asia Tenggara menjadi pusat beban TBC yang sangat tinggi, dengan lebih dari separuh kasus global tercatat di negara-negara seperti India, Indonesia, dan Bangladesh. Di Indonesia, negara dengan beban TBC tertinggi kedua setelah India, tercatat lebih dari 1 juta kasus pada tahun 2023. Tantangan besar yang dihadapi adalah stigma sosial terhadap penderita dan keterbatasan akses ke layanan diagnostik dan pengobatan, yang menyebabkan penderita terlambat mendapatkan pengobatan dan memperburuk penyebaran penyakit.

Timor-Leste, yang berada di kawasan ini, menghadapi insiden TBC yang sangat tinggi dengan 498 kasus per 100.000 penduduk pada 2023. Laporan dari WHO menunjukkan lebih dari 6.000 kasus TBC di negara ini pada tahun yang sama. Meskipun ada upaya untuk memperkenalkan teknologi diagnostik seperti GeneXpert, serta peningkatan pelatihan tenaga medis, masalah utama di Timor-Leste adalah stigma yang masih kuat terhadap penderita TBC, serta terbatasnya fasilitas medis, terutama di daerah pedesaan.

Pengendalian TBC di Timor-Leste memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berbasis etika kesehatan masyarakat, yang mencakup pengurangan stigma sosial dan peningkatan akses ke pengobatan. Untuk mencapai target Sustunable Development Goals(SDG) 2030, terutama target 3.3 yang menghapuskan epidemik TBC, diperlukan keterlibatan lintas sektor, yang menggabungkan upaya pemerintah, masyarakat, dan sektor kesehatan, serta peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan pengobatan yang tepat.

Stigma Sosial dalam Penanggulangan TBC

Stigma sosial terhadap penderita TBC menjadi hambatan besar dalam penanggulangan penyakit ini di Timor-Leste. Masyarakat sering menganggap TBC sebagai penyakit yang memalukan, yang menyebabkan banyak penderita enggan mencari pengobatan lebih awal. Kampanye edukasi berbasis etika kesehatan masyarakat yang mengedepankan empati dapat membantu mengurangi stigma ini dan mendorong penderita untuk mengakses pengobatan yang tepat. Mengubah persepsi masyarakat terhadap TBC adalah langkah pertama untuk mempercepat pengendalian penyakit ini.

Etika Kesehatan Masyarakat dalam Penanganan TBC

Etika kesehatan masyarakat adalah landasan dalam memberikan pelayanan yang menghormati martabat pasien. Dalam pengendalian TBC, tenaga medis yang terlatih dalam etika kesehatan akan lebih sensitif terhadap kondisi sosial dan budaya pasien, serta dapat memberikan perawatan yang lebih manusiawi. Pendekatan berbasis etika ini sangat diperlukan untuk mengurangi stigma dan memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang sesuai. Pelatihan etika untuk tenaga kesehatan akan meningkatkan kualitas layanan dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan.

Rekomendasi untuk Perubahan dari Aspek Etika Kesehatan Masyarakat

Pelatihan Tenaga Kesehatan: Latih tenaga medis untuk menghormati hak pasien dan mengurangi stigma, dengan fokus pada komunikasi empatik dan pemahaman kondisi sosial pasien.

Pengembangan Kebijakan Etika: Pemerintah perlu merancang kebijakan pengendalian TBC yang fokus pada pengurangan stigma, akses mudah ke pengobatan, dan dukungan psikososial. Edukasi Masyarakat: Kampanye edukasi berbasis etika yang melibatkan pemimpin agama dan tokoh masyarakat untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran tentang pengobatan TBC. Penguatan Layanan Psikososial: Perkuat layanan konseling untuk membantu penderita mengatasi kecemasan dan isolasi akibat stigma, serta meningkatkan motivasi pengobatan.

Pencapaian SDG 2030 dalam Pengendalian TBC

Untuk mencapai SDG 2030, terutama target 3.3 yang mengarah pada penghapusan TBC, Timor-Leste harus memantau pengendalian TBC secara teratur dengan indikator yang relevan, seperti Indikator 3.3.5 (jumlah kasus yang terdeteksi dan diobati) dan Indikator 3.8.1 (akses ke layanan kesehatan esensial). Pemerintah Timor-Leste perlu memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan berjalan efektif, dengan pemantauan yang berkelanjutan untuk mengevaluasi kemajuan dalam pengendalian TBC. Kolaborasi lintas sektor, termasuk sektor pendidikan dan agama, sangat penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengurangi stigma terhadap penderita TBC.

Kesimpulan

Pengendalian TBC di Timor-Leste memerlukan pendekatan holistik, berbasis etika kesehatan masyarakat, serta kerjasama lintas sektor. Pengurangan stigma, pelatihan tenaga kesehatan yang berbasis etika, dan penyediaan dukungan psikososial yang tepat adalah langkah-langkah kunci untuk memastikan bahwa pengendalian TBC efektif dan inklusif. Dengan langkah-langkah ini, Timor-Leste dapat mempercepat pencapaian target SDG 2030 dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!