iklan

OPINI

Timor-Leste wajib belajar dari Angola

Timor-Leste wajib belajar dari Angola

Dihimpun dari berbagai Sumber

Livio da Conceicao Matos

Baru – baru ini Paus Leo XIV mengunjungi Angola. Salah satu Negara Afrika yang kaya akan minyak namun rakyatnya tidak menikmati kekayaan tersebut. Kekayaan Negara berupa minyak yang berubah wujud menjadi uang, hanya beredar di poros kekuasaan dan hanya sebagian kecil yang menyentuh rakyat. Ketika uang yang adalah harta kekayaan Negara hanya berputar di poros kekuasaan maka berhentilah bicara tentang kesejahteraan rakyat. Rakyat Angola tetap miskin akibat korupsi yang mengakar, salah urus kekayaan alam, dan ketimpangan ekonomi ekstrem di mana kekayaan minyak dan berlian hanya dinikmati segelintir elite, rakyat tetap lapar dan melarat. Selain itu, ketergantungan pada impor pangan dan minimnya industri domestik membuat warga rentan terhadap krisis. Meski kaya sumber daya alam, sebagian besar rakyat Angola tak menikmati hasilnya. Sekitar 60 persen pendapatan negara dan 95 persen ekspor berasal dari minyak, tetapi manfaatnya belum menyentuh rakyat kecil.

Ada apa? Pembahasan berikut adalah faktor-faktor utama yang menyebabkan rakyat Angola tetap berada dalam kemiskinan dan pelajaran berharga yang harus dipelajari oleh Timor-Leste:

  1. Korupsi dan Salah Urus (Resource Curse)

Walau Angola adalah salah satu produsen minyak terbesar di Afrika, pendapatan negara sering kali tidak sampai kepada masyarakat. Kekayaan negara dikuasai oleh segelintir elite dan kroni politik (para pemilik modal), sementara sebagian besar penduduknya berjuang dengan kemiskinan ekstrem. Dana publik yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan layanan sosial sering kali disalahgunakan. Apa yang harus dipelajari Timor-Leste dari fenomena ini? Timor-Leste sudah pada tahap yang lebih maju yakni membangun system seguransa Sosial. Sistem ini hampir sama dengan system oleh Negara tetangga Australia. Hanya saja pemberantasan korupsi adalah sebuah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam waktu yang singkat kalau mungkin sesingkat-singkatnya. Caranya: pangkas birokrasi yang panjang dan menyita waktu menjadi birokrasi yang lebih ramping. Bentuk pemerintahan Negara menjadi lebih sederhana dengan membentuk system presidensial dengan empat kementerian coordinator yang mencakup: 1) Bidang Perekonomian, 2) bidang politik, keamanan, keadilan 3) bidang social, pendidikan, dan kesehatan 4) bidang infrastructure. Mengapa? Selama ini Timor-Leste menganut system semi presidensial dengan sejumlah permasalahan yang menjadi hambatan bagi pembangunan Negara yang berpotensi kepada korupsi.

  1. Angola mengantungkan Ekstrem pada Minyak

Angola adalah salah satu Negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada ekspor minyak mentah, yang membuat negara ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global. Ketika harga minyak anjlok, anggaran negara langsung terpukul, memicu lonjakan inflasi, dan menciptakan krisis kelaparan di kalangan rakyat kelas bawah. Hal ini juga terjadi di Timor-Leste. Dengan demikian, sudah saatnya Timor-Leste melepaskan diri dari ketergantungan total kepada minyak. Bagaimana caranya? Timor-Leste sudah sepanjang 24 tahun meminta dan menarik penanaman modal (investasi asing) dari seluruh dunia tetapi hanya sedikit yang tertarik. Dengan demikian, investasi pertama harus datang dari pemerintah Timor-Leste melalui perusahaan Negara atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sektor yang berpotensi menjadi BUMN di Timor-Leste meliputi sector  pertanian, Peternakan, perikanan, perminyakan dan perbankan nasional.

  1. Ketimpangan Ekonomi yang Parah

Negara Angola merupakan salah satu negara dengan jumlah jutawan terbanyak di Afrika. Namun, kekayaan ini terkonsentrasi di ibu kota Luanda, menciptakan jurang pemisah yang sangat besar antara kelompok kaya dan mayoritas rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Rakyat Timor-Leste yang hanya 1.3 juta jiwa dengan wilayah yang mudah terjangkau memungkinkan keterjangkauan pembangunan dari pusat sampai ke daerah-daerah pedesaan. Hal ini memudahkan untuk meminimalisasi potensi ketimpangan ekonomi di antara kelompok – kelompok masyarakat. Di samping itu, kemudahan akses informasi melalui meningkatnya akses social media juga merupakan salah potensi untuk mengawal adanya kecurangan distribusi kekayaan Negara kepada masyarakat. Hal ini membutuhkan komitmen pemerintah untuk menjadi actor principal dalam pengelolaan dan distribusi kekayaan Negara.

  1. Sektor Pertanian yang Terabaikan

Selama bertahun-tahun akibat perang saudara dan kurangnya investasi, sektor pertanian domestik hancur. Saat ini, Angola harus mengimpor sebagian besar kebutuhan pangannya, sehingga harga bahan pokok menjadi sangat mahal dan tidak terjangkau bagi rakyat miskin. Timor-Leste selama ini masih berada pada system pertanian traditional atau konvensional di mana setiap orang memiliki area pertanian sendiri-sendiri untuk kebutuhan individu dan keluarga sepanjang musim tertentu. Selama 24 tahun restorasi kemerdekaan, para pemimpin bergantian mengundang investor untuk berinvestasi di sentra – sentra productive di Timor – Leste namun sejauh ini belum ada investor yang mau menanamkan modalnya di Timor-Leste termasuk bidang pertanian. Oleh sebab itu, saatnya Timor-Leste harus menjadi investor principal khususnya tiga sector utama di bidang pertanian (pertanian, peternakan, perikanan) agar ladang dan sawah yang selama ini tidak tergarap, peternakan yang tidak dilirik, ikan yang selalu menjadi rebutan orang lain di laut, dapat digarap oleh pemerintah melalui BUMN.

Selamat mencoba.

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!