DILI, 03 Oktober 2025 (TATOLI) – Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dili bersama Institut Pertanian Bogor (IPB University) dan Pemerintah Timor-Leste resmi membuka program “Integrated Aquaculture Development in Timor-Leste: Fighting Malnutrition and Improving Food Security” melalui acara Kick-Off Meeting dan Training Program pada Jumat, 03 Oktober 2025.
Program tersebut merupakan tindak lanjut dari Grant Agreement antara Pemerintah Republik Indonesia melalui Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI/Indonesian Aid) dengan Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste yang ditandatangani pada 13 Juni 2025.
Selain pertemuan resmi, program ini meliputi Pelatihan Budidaya Perikanan bagi pembudidaya dari kelompok AMIZADE di Munisipalitas Aileu. Pelatihan berlangsung sejak 30 September hingga 24 Oktober 2025, dengan materi, kualitas air dan manajemen kolam, pendederan dan hatchery ikan nila, manajemen produksi, pemasaran dan keuangan, kesehatan ikan, biosekuriti, formulasi pakan, pengolahan dan diversifikasi produk, hingga nilai gizi ikan.
Pelatihan dipandu oleh para pakar IPB University, di antaranya Prof. Dr. Eddy Supriyono, Prof. Dr. Alimuddin, Prof. Dr. Widanarni, Prof. Dr. Lis Diatin, Prof. Dr. Mala Nurilmala, serta Dr. Ichsan Achmad Fauzi, bersama tim dosen dan peneliti muda berpengalaman. Peserta juga mengikuti praktikum kolam BDP, simulasi manajemen budidaya, dan field trip ke Desa Sukajadi, Kabupaten Bogor, serta Kamadi Farm sebagai bagian dari transfer teknologi.
Duta Besar RI di Timor-Leste, Okto Dorinus Manik dalam sambutannya, menegaskan program ini adalah bukti nyata persahabatan dan kerja sama erat antara Indonesia dan Timor-Leste.
“Fokus utama adalah pengembangan akuakultur terintegrasi, yang diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan keterampilan pembudidaya, serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ungkap Dubes RI di KBRI Farol, Jumat ini.
Ia menambahkan bahwa program ini merupakan kerja sama dua arah, di mana beberapa pembudidaya Timor-Leste juga mengikuti pelatihan langsung di Bogor.
Sementara itu, Ichsan Achmad Fauzi mewakili IPB University mengatakan ikan bukan hanya sumber pangan, tetapi juga strategi untuk meningkatkan gizi masyarakat.
“Program ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, memperluas peluang usaha, serta memperbaiki taraf hidup masyarakat, terutama di pedesaan,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan lintas institusi untuk memastikan keberlanjutan program.
Dilain pihak, Sekretaris Negara Perikanan Timor-Leste, Domingos dos Santos, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia dan IPB University atas dukungan dan pendampingan bagi pembudidaya di Aileu.
“Program ini menjadi model awal yang bisa dikembangkan di daerah lain seperti Liquiça, Same, Lautém, dan Maliana. Kami berharap para peserta yang belajar di Indonesia nantinya dapat menjadi trainer bagi komunitas lain di Timor-Leste, sehingga manfaat program dapat meluas ke seluruh masyarakat,” ujarnya.
Program ini akan berlangsung selama tiga tahun dan mencakup pembangunan kolam, pembibitan, pembesaran ikan, serta transfer teknologi budidaya.
Dengan dukungan penuh dari LDKPI/Indonesian Aid, IPB University, Kedutaan Besar RI, pemerintah Timor-Leste, otoritas lokal, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi langkah strategis memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi, serta membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan akuakultur berkelanjutan.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




