DILI, 15 Juli 2025 (TATOLI)— Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan (MAPPF) bekerja sama dengan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) mengadakan pertemuan nasional guna memperkenalkan program Man and the Biosphere (MAB) serta mempercepat proses pengajuan Taman Nasional Nino Konis Santana sebagai Cagar Biosfer kepada UNESCO di Paris.
Pertemuan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan di tingkat nasional dan daerah, termasuk pejabat administrasi di wilayah Lautem, guna menghimpun informasi dan data terkait keanekaragaman hayati laut yang menjadi bagian penting dalam dokumen pengajuan status cagar biosfer.
“Pekerjaan sudah mencapai 99%, hanya tersisa 1% lagi untuk dilengkapi. Pertemuan ini bertujuan untuk berbagi informasi dan melengkapi data yang dibutuhkan, sehingga pada bulan September nanti Pemerintah dapat secara resmi mengajukan Nino Konis Santana ke UNESCO,” jelas Sekretaris Negara untuk Perikanan, Fernandino Vieira da Costa di kantor MAPPF, Comoro.
Ia menambahkan bahwa proses ini merupakan bagian dari kolaborasi lintas kementerian—MAPPF, Kementerian Pariwisata dan Lingkungan (MTA), serta Kementerian Pekerjaan Umum (MOP)—bersama UNESCO yang sebelumnya telah membentuk komite teknis guna mengkaji potensi kawasan tersebut.
Tim kerja telah melakukan pemetaan kawasan wisata, budaya, dan sosial ekonomi di dalam Taman Nasional Nino Konis Santana, yang memiliki luas sekitar 135.000 hektar dan mencakup wilayah laut serta darat yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati dan budaya lokal.
“Taman ini merupakan satu-satunya taman nasional di negara ini. Melalui resolusi Pemerintah tahun 2007 ditetapkan sebagai taman nasional, dan sejak 2008 menjadi taman nasional pertama di Timor-Leste,” tambahnya.
Koordinator Program UNESCO di Timor-Leste, Adelina Lourdes, mengatakan bahwa pencalonan Taman Nasional Nino Konis Santana sebagai cagar biosfer merupakan hasil kerja sama erat antara UNESCO, MAPPF, Komisi Nasional UNESCO, dan lembaga terkait lainnya.
“MAPPF memimpin seluruh proses. Dokumen pencalonan yang disebut docer mencakup aspek kelautan, daratan, kehidupan masyarakat lokal, serta praktik budaya yang hidup di kawasan Lautem. Semua itu harus tercantum dalam dokumen yang akan dikirimkan ke UNESCO,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pertemuan kali ini juga berfungsi sebagai lokakarya pengumpulan data untuk kawasan konservasi laut yang akan memperkuat usulan pencalonan tersebut.
Rencana final Pemerintah Timor-Leste untuk pencalonan Taman Nasional Nino Konis Santana sebagai Cagar Biosfer Manusia dan Biosfer dijadwalkan akan dikirim ke UNESCO pada September 2025.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




