iklan

INTERNASIONAL, HEADLINE

Konferensi APCC 2025 : Presiden Horta serukan persatuan sejarah dan budaya

Konferensi APCC 2025 : Presiden Horta serukan persatuan sejarah dan budaya

Presiden Republik, José Ramos Horta, sedang berpidato dalam Konferensi Komunitas Portugis Asia ke - IV (Asian Portuguese Community Conference/APCC) yang digelar di CCD, Dili, Jumat (27/06). Foto Tatoli/Antonio Daciparu

DILI, 27 Juni 2025 (TATOLI)– Presiden Republik, José Ramos Horta, secara resmi membuka Konferensi Komunitas Portugis Asia ke – IV (Asian Portuguese Community Conference/APCC) di Dili, dengan menyerukan pentingnya persatuan sejarah dan budaya di tengah komunitas-komunitas keturunan Portugis di Asia.

Dalam pidato pembukaannya yang penuh makna, Presiden Horta menggambarkan konferensi ini bukan sekadar forum pertemuan, melainkan sebagai momen untuk menyatukan kembali sebuah keluarga yang memiliki sejarah panjang dan warisan budaya yang berakar dari abad ke – 16.

“Konferensi ini lebih dari sekadar pertemuan. Ini adalah momen untuk merenungkan sejarah bersama kita, untuk memperkuat ikatan solidaritas kita, dan untuk menceritakan kisah-kisah kita, dengan bangga dan jujur,” ujar Horta dalam konferesi di CCD (Pusat Konvensi Dili), Jumat ini.

Presiden Horta menelusuri kembali asal-usul komunitas Lusophone di Asia yang dimulai dari keberanian pelaut Portugis pada abad ke – 16. Beliau menyoroti bahwa perjalanan mereka bukan hanya eksplorasi geografis, tetapi juga spiritual dan budaya yang membawa bahasa, agama, dan gagasan baru ke berbagai penjuru Asia.

Berita terkait : Timor-Leste tuan rumah APCC 2025, siapkan Deklarasi Dili bentuk APCA  

Menurutnya, jejak Portugis tidak hanya membentuk komunitas-komunitas yang ada hingga hari ini, tetapi juga memperkenalkan konsep negara-bangsa dan identitas nasional, sebuah warisan yang kemudian menjadi landasan dalam perjuangan Timor-Leste meraih kemerdekaannya.

“Kami dulunya adalah tanah kerajaan. Kami berbagi tanah dan budaya tetapi kami tidak memiliki rasa identitas nasional. Orang Portugis, dan pengalaman Eropa yang lebih luas, memperkenalkan kepada kami gagasan tentang negara-bangsa modern,” kata Horta.

Salah satu momen penting dari konferensi ini adalah peluncuran Asosiasi Komunitas Portugis Asia (Asian Portuguese Communities Association/APCA) yang diinisiasi untuk memperkuat jejaring antar komunitas Lusophone di Asia.

“APCA akan menjadi lebih dari sekadar jaringan orang dan komunitas. Ini adalah janji dan komitmen untuk melestarikan, mencatat, dan memberdayakan,” tegas Ramos Horta.

Kepala Negara menambahkan bahwa asosiasi ini akan mendukung penelitian, pendidikan, dan pembangunan ekonomi berbasis budaya, serta menjadi suara komunitas dalam percakapan dengan pemerintah dan lembaga internasional.

Selain pendirian APCA, Konferensi APCC 2025 juga akan membahas Deklarasi Dili, sebuah naskah komitmen kolektif antar komunitas Lusophone di Asia untuk menjaga warisan budaya dan memperjuangkan pengakuan terhadap kontribusi mereka dalam narasi sejarah nasional masing-masing negara.

Namun, dalam konferensi itu Presiden Horta menyampaikan keprihatinannya bahwa banyak komunitas keturunan Portugis kerap tidak terlihat dalam narasi nasional, serta didokumentasikan secara terbatas dalam sejarah resmi dan pendidikan. Oleh karena itu, konferensi ini menurutnya harus menjadi momentum untuk membayangkan kembali masa depan bersama yang berakar kuat pada sejarah bersama.

Mengakhiri pidatonya, Presiden Timor-Leste itu menekankan pentingnya membangun solidaritas lintas negara dan generasi, khususnya dalam konteks Timor-Leste yang sedang bersiap menjadi anggota ASEAN. Ia menyatakan bahwa sebagai satu-satunya negara berbahasa Portugis di Asia, Timor-Leste memikul tanggung jawab untuk menjembatani masa lalu dan masa depan komunitas Lusophone Asia.

“Biarkan persahabatan yang terbentuk di sini berlanjut lama setelah panji-panji diturunkan. Di dunia yang semakin didorong oleh perpecahan dan konflik, Konferensi ini memberi kita kesempatan untuk bersatu dalam perdamaian, solidaritas, dan persahabatan,” kata Horta.

Konferensi APCC 2025 di Dili akan berlangsung dari 27 – 29 Juni 2025 yang menghadirkan tokoh budaya, pemimpin komunitas, akademisi, dan perwakilan gereja dari berbagai wilayah Asia,  Indonesia, Malaysia, Makau, dan Sri Lanka. Berbagai sesi diskusi, pertunjukan budaya, serta peluncuran program pelestarian sejarah lisan dijadwalkan menjadi bagian dari agenda utama.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor      : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!