iklan

EKONOMI, INTERNASIONAL, HEADLINE

Laporan IPC : Mei – september 2024, Timor-Leste hadapi kerawanan pangan

Laporan IPC : Mei – september 2024, Timor-Leste hadapi kerawanan pangan

Foto spesial

DILI, 05 maret 2024 (TATOLI)— Laporan Analisis Kerawanan Pangan Akut Klasifikasi Fase Terpadu (IPC) Timor-Leste untuk tahap kedua yang diterbitkan hari ini mengungkapkan kerentanan dan tingkat kerawanan pangan yang akan memburuk pada bulan mei hingga september tahun ini.

Laporan IPC disusun dan diterbitkan bersama oleh Kementerin Pertanian, Perikanan, Peternakan dan Kehutanan (MAPPF) bersama Program Pangan Dunia (WFP) akan bedampak pada dua belas kotamadya di Timor-Leste, di tengah goncangan iklim yang terjadi secara beruntun dan melonjaknya harga pangan.

Diperkirakan 360.000 orang, sekitar satu dari empat penduduk, bergulat dengan tingkat kerawanan pangan yang krisis (IPC Tahap 3 atau lebih); dimana 18.500 orang di antaranya menghadapi kondisi darurat (IPC Tahap 4).

“Situasi ini diperkirakan akan memburuk dari mei hingga september 2024 selama musim pasca-panen, yang secara tradisional dipandang sebagai periode peningkatan akses pangan,” ungkap laporan IPC yang diakses Tatoli.

Guncangan iklim yang diprediksi akan mengurangi hasil panen, dengan proyeksi 19.000 orang di enam kota dan akan mengalami penurunan lebih lanjut dalam ketahanan pangan mereka dan meningkatkan jumlah total orang yang berada dalam kondisi darurat pangan (IPC4) menjadi lebih dari 22.000 orang.

Sementara,  Menteri MAPPF, Marcos da Cruz, yang bersama-sama memvalidasi temuan IPC pada bulan desember 2023 mengatakan, analisis IPC Akut 2024 memberikan temuan penting bagi pemerintah yang akan memungkinkan untuk merencanakan dukungan yang ditargetkan untuk masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan pangan, dan untuk meningkatkan ketahanan pangan secara keseluruhan.

“Oleh karena itu, pihak-pihak terkait harus melakukan upaya bersama untuk mengimplementasikan rekomendasi dari laporan ini,” pintanya.

Dilain pihak, Ketua INETL, I.P, Elias dos Santos Ferreira yang mendukung validasi IPC menambahkan, untuk mengatasi kerawanan pangan di Timor-Leste dimulai dengan memahami sejauh mana masalahnya.

“Penelitian yang tepat waktu ini akan membantu kami untuk mengimplementasikan, bersama dengan mitra pembangunan yang telah lama ada di negara ini, bantuan kemanusiaan berbasis data yang menggabungkan kriteria kerentanan yang sama,” katanya.

Menanggapi temuan laporan tersebut, Direktur dan Perwakilan WFP untuk Timor-Leste, Alba Cecilia Garzon Olivares mengakui dengan meningkatnya guncangan iklim dan tingkat inflasi tertinggi dalam satu dekade terakhir, temuan terbaru dari Analisis IPC memperjelas bahwa tindakan segera diperlukan untuk mencegah memburuknya kondisi kerawanan pangan di Timor-Leste.

“WFP tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan Pemerintah dan mitra-mitra lainnya untuk membalikkan tren ini dan memperkuat sistem perlindungan sosial yang peka terhadap gizi,” ungkapnya.

Analisis IPC menggunakan seperangkat alat dan prosedur yang diakui secara internasional untuk memperkirakan situasi kerawanan pangan di suatu negara. Analisis ini dilakukan pada tanggal 23 November hingga 4 Desember 2023 oleh Kelompok Kerja Teknis yang terdiri dari 30 perwakilan pemerintah, PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yang difasilitasi oleh ko-fasilitator WFP dan koordinator regional IPC, Simon Muhindi. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!