iklan

EKONOMI, INTERNASIONAL

Jadi kandidat TIT, Maria akui bahasa Jepang merupakan tantangan utama

Jadi kandidat TIT, Maria akui bahasa Jepang merupakan tantangan utama

Kandidat TIT (Technical Intern Trainer), Maria Correia. Foto Tatoli

DILI, 05 juli 2023 (TATOLI)—Banyak yang percaya bahwa bahasa Jepang sangat sulit dipelajari, namun dengan berusaha akan melewati  tantangan tersebut. Itu yang dialami Kandidat TIT (Technical Intern Trainer), Maria Correia yang mengakui belajar bahasa Jepang merupakan tantangan utama, namun dengan segala usaha dirinya bisa mempelajari bahas tersebut dan saat ini menjadi kandidat TIT.

Maria Correia adalah salah satu dari 12 orang terpilih ikuti TIT di Jepang yang diseleksi langsung oleh perusahaan Kochi Agrifarm bekerjasama dengan Sekretariat Negara urusan Pelatihan Profesional Ketenagakerjaan (SEFOPE -tetun) pada tahun lalu dan dijadwalkan akan berangkat ke Jepang pada tahun ini.

“Untuk persiapan bahasa Jepang saya ada kesulitan sedikit, karena di Jepang ada tiga alfabet tulisan huruf abjad bahasa Jepang seperti Hiragana, Katakana, dan Kanji,” ungkap Maria Correia pada Tatoli secara esklusif di kantor SEFOPE.

Perempuan dari kotamadya Covalima tersebut telah memulai proses belajar bahasa Jepang di Pusat Pelatihan Santa Rafaela Bebonuk Dili sejak 2019, saat ini Ia telah aktif menjadi pengajar khusus bahasa Jepang.

Berita terkait : 12 orang Timor-Leste terpilih ikuti TIT di Jepang

“Dari ketiga alfabet ini yang paling susah adalah Kanji. Saya sendiri sudah memulai sejak 2019 tetapi saya percaya dengan inisiatif baik meskipun sangat sulit kami akan terus berupaya,” ucapnya.

Ia menjelaskan, proses pemilihan kandidat hanya dilakukan untuk Pusat Pelatihan yang menyediakan kursus bahasa Jepang dan meskipun begitu banyak orang yang tidak mampu melalui tes yang diberikan.

Awalnya pada kandidat diminta untuk melengkapi dokumen lengkap sampai akhirnya merekrut 64 orang dari empat pusat pelatihan, tetapi setelah dilakukan tes dari Kochi Agrifarm hanya 12 orang yang terpilih.

12 kandidat TIT ini sendiri sudah melakukan chek up lengkap di Rumah Sakit Nasional Guido Valadares (HNGV) dan saat ini hanya menunggu tiket dari perusahaan Kochi Agrifarm.

“Tiba di Jepang saya akan bekerja di tempat pengelolaan bunga dan jahe, saya harus membagi waktu dalam bekerja di dua bidang ini,” katanya.

Sementara, Duta Besar Timor-Leste di Jepang, Ilídio da Costa Ximenes mengungkapkan saat ini pihak Timor-Leste melalui Kementerian Luar Negeri dan SEFOPE telah memberikan surat pada Kemenlu Jepang.

“Tetapi pihak Jepang meminta agar INDMO menyediakan sertifikat pada empat pusat pelatihan yang menyediakan para kandidat TIT, jadi sampai sekarang kita masih menunggu proses selanjutnya,” katanya.

Dijelaskan 12 kandidat TIT tersebut dipilih dari Pusat Pelatihan seperti dari Centro Mirai Sato Suai (2), Centro Quesadhip Ruak (6), Centro Santa Rafaela Bebonuk (3) dan Young Men’s Christian Asociation (1).

Dari 12 kandidat TIT tersebut hanya delapan orang (5 perempuan, 3 laki-laki) yang telah melengkapi dokumen dan menerima kontrak dari lima perusahaan yang bekerjasama dengan Kochi Agrifarm seperti Matsuura Tsuyonari, Morisawa Hirofumi, Kusunose Shiki, Ikeichi Saikaen dan Matsumura Kazutaka

Selain itu, empat kandidat TIT lainnya akan melengkapi dokumen pada september sesuai permintaan dari Kochi Agrifarm sebagai lembaga yang menangani para kandidat TIT di Jepang. 

Reporter: Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!