DILI, 27 Juni 2025 (TATOLI)— Promotor Konferensi Komunitas Portugis Asia (APCC), Joseph de Santa Maria, menyampaikan bahwa Timor-Leste memiliki peran strategis sebagai pusat masa depan komunitas Portugis di Asia.
Hal tersebut disampaikan dalam pidatonya pada pembukaan Konferensi APCC ke-4 yang diselenggarakan di Pusat Konvensi Dili (CCD), Jumat ini.
Menurut Joseph, pelaksanaan APCC tahun ini menjadi tonggak penting dalam upaya menyatukan komunitas-komunitas keturunan Portugis yang tersebar di kawasan Asia. Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Timor-Leste, khususnya kepada Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão, atas dukungan dan komitmennya terhadap keberlangsungan APCC.
“Dukungan Perdana Menteri sejak APCC pertama di tahun 2016 sangat berarti. Usul beliau agar konferensi ini dilaksanakan di Timor-Leste kini telah terwujud,” kata Joseph de Santa Maria.
Berita terkait : Konferensi APCC 2025 : Presiden Horta serukan persatuan sejarah dan budaya
Dalam pidatonya, Joseph menyoroti bahwa Timor-Leste memiliki semua syarat untuk menjadi pusat baru komunitas Portugis Asia, menggantikan Makau yang secara historis pernah menjadi pusat tersebut sebelum kembali ke administrasi Tiongkok.
“Orang Portugis pernah menganggap Makau sebagai pusat Portugis Asia, tetapi Makau kini telah kembali ke China. Timor-Leste dapat menjadi pusat baru komunitas Portugis Asia dan menjadi jalur penghubung negara-negara berbahasa Portugis lainnya di luar Asia,” tegasnya.
Joseph juga mengangkat isu pelestarian bahasa dan budaya Portugis di Asia, khususnya yang sedang mengalami kemunduran di komunitas Portugis Malaka, Malaysia. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa generasi muda mulai meninggalkan bahasa warisan mereka, yang kini dikategorikan sebagai bahasa yang terancam punah.
“Kami tidak meminta banyak, hanya kesempatan untuk bertahan hidup sebagai komunitas yang terkait dengan Portugis. Suatu komunitas hanya dapat mengklaim dirinya sebagai komunitas jika memiliki bahasa, budaya, dan tradisi yang dapat dengan bangga disebut sebagai miliknya,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa komunitas Portugis Malaka, meski minoritas, masih mempertahankan bahasa yang terdiri dari lebih dari 90% kata-kata Portugis, meskipun dalam bentuk pidgin atau kreol (dua jenis bahasa kontak yang muncul dari interaksi antara penutur bahasa yang berbeda).
Dalam pidato tersebut, Joseph juga menyampaikan bahwa Festa San Pedro, festival budaya utama komunitas Portugis Malaka, tengah berlangsung secara bersamaan di Malaysia. Festival yang berlangsung pada 27 – 29 Juni tersebut menampilkan tradisi keagamaan seperti Misa Agung dan pemberkatan perahu nelayan, yang masih dipegang teguh oleh komunitas setempat.
Ia membandingkan tradisi keagamaan yang ada di Malaka dengan tradisi serupa di Timor-Leste, seperti perayaan Santo Antonius di Manatuto, dan menilai bahwa akar sejarah keagamaan Portugis masih hidup di berbagai wilayah Asia.
Berita terkait : Timor-Leste jadi tuan rumah APCC 2025, lestarikan warisan budaya Portugis
“Kami telah digambarkan sebagai lebih Portugis daripada Portugal sendiri karena kami mempertahankan bahasa dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur kami selama lebih dari 500 tahun,” katanya.
Joseph menyerukan kerja sama antar komunitas Portugis Asia untuk memastikan warisan ini tidak hilang ditelan zaman. Ia juga menyatakan bahwa meskipun tidak meminta bantuan materi, Portugal dan negara-negara berbahasa Portugis memiliki tanggung jawab moral terhadap komunitas keturunan mereka di Asia.
“Kita berkumpul di sini untuk alasan tertentu. Kita tidak datang ke sini untuk berlibur, meskipun saya tidak ragu untuk merekomendasikan teman-teman saya untuk datang ke Timor-Leste untuk menikmati keindahan negara yang indah ini. Kita di sini hari ini untuk menyelamatkan warisan Portugis di Asia. Kita di sini dengan keyakinan bahwa kita dapat mencapainya, jika kita bekerja sama, berbagi tanggung jawab untuk memastikan bahwa Komunitas Portugis Asia tetap relevan bagi generasi mendatang setelah kita,” tutupnya.
Konferensi APCC ke – IV ini dihadiri oleh berbagai delegasi dari komunitas-komunitas keturunan Portugis di Asia, termasuk dari Timor-Leste, Malaysia, Srilanka, dan Indonesia. Konferensi ini akan berlangsung selama tiga hari di Dili dari 27 hingga 29 juni 2025.
Reporter : Cidalia Fatima
Editor : Armandina Moniz




