DILI, 09 Juli 2026 (TATOLI) – Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, mengenang kembali momen bersejarah saat menghadiri malam restorasi kemerdekaan Timor-Leste di Tasitolu pada 20 Mei 2002, yang menurutnya menjadi awal persaudaraan baru antara Indonesia dan Timor-Leste.
Kenangan tersebut disampaikan Megawati dalam acara Kuliah Kepresidenan bertajuk Dua Negara Merangkai Cita-Cita Bersama: Pembangunan Bangsa, Rekonsiliasi, dan Persaudaraan Asia Tenggara sebagai Jalan Peradaban Dunia di Dili yang diadakan di Istana Kepresidenan, Kamis ini.
Megawati mengatakan dirinya sengaja memulai kuliah bukan dengan teori, melainkan dengan sebuah kenangan yang telah disimpannya selama 24 tahun.
Ia mengingat suasana menjelang tengah malam 19 menuju 20 Mei 2002, ketika ratusan ribu rakyat Timor-Leste memenuhi Lapangan Tasitolu untuk menyambut lahirnya negara yang merdeka dan berdaulat.
“Dalam suasana yang khidmat, untuk pertama kalinya Bendera Timor-Leste berkibar sebagai bendera sebuah negara yang merdeka dan berdaulat,” ujar Megawati.
Megawati menjelaskan bahwa saat itu ia hadir sebagai Presiden Republik Indonesia. Kehadirannya sempat menimbulkan pertanyaan dari banyak pihak yang menganggap malam tersebut sebagai perpisahan antara Indonesia dan Timor-Leste.
“Pada waktu itu banyak yang menanyakan kepada saya, mengapa Presiden Republik Indonesia datang? Bukankah malam itu adalah malam perpisahan?” katanya.
Namun, Megawati menegaskan bahwa ia memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, malam bersejarah tersebut bukanlah simbol perpisahan, melainkan awal dari hubungan persaudaraan yang baru antara kedua negara.
“Selama dua puluh empat tahun, saya menyimpan rapat jawaban pertanyaan itu. Pada malam itu sebenarnya saya telah menegaskan bahwa peristiwa itu bukanlah tragedi perpisahan. Malam itu menjadi saksi lahirnya Timor-Leste sebagai saudara Indonesia,” ujarnya.
Ia mengatakan, lahirnya Timor-Leste sebagai negara merdeka menjadi titik awal rekonsiliasi antara dua bangsa yang pernah mengalami sejarah penuh penderitaan akibat kolonialisme, imperialisme, dan dinamika geopolitik global.
Menurut Megawati, pengalaman masa lalu tersebut justru menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia dan Timor-Leste untuk membangun hubungan yang dilandasi saling percaya dan penghormatan terhadap martabat masing-masing negara.
Megawati juga mengenang proses rekonsiliasi yang dibangunnya bersama Kay Rala Xanana Gusmão. Ia mengatakan keduanya sepakat bahwa rekonsiliasi sejati bukan berarti melupakan sejarah, melainkan mengambil hikmah dari masa lalu sebagai fondasi membangun perdamaian dan kerja sama di masa depan.
“Rekonsiliasi adalah jalan perdamaian dengan membangun rasa saling percaya disertai penghormatan terhadap martabat kedua negara. Itulah jalan yang telah kita tempuh,” kata Megawati.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




