DILI, 09 Juli 2026 (TATOLI)— Presiden ke-V Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, merasa terharu dan tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan pidato dalam acara penerimaan “Grande Colar da Ordem de Timor-Leste”, penghargaan tertinggi negara yang dianugerahkan oleh Presiden Republik Demokratik Timor-Leste, José Ramos-Horta, di Istana Kepresidenan, Dili, Kamis ini.
Dengan suara bergetar dan beberapa kali menghentikan pidatonya karena terharu, Megawati menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan tersebut. Menurutnya, penghargaan yang diterimanya bukan merupakan penutup perjalanan panjang hubungan Indonesia dan Timor-Leste, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk terus mempererat persahabatan kedua bangsa.
“Saya tidak menerima kehormatan ini sebagai penutup sebuah kisah atau sebagai tanda bahwa tugas kita telah selesai. Saya menerimanya justru sebagai sebuah awalan. Ini adalah sebuah amanat bagi masa depan dan sekaligus sebuah janji atas apa yang belum kita kerjakan bersama,” ujar Megawati.
Megawati menegaskan bahwa penghargaan ini bukan sekadar sebuah medali, melainkan simbol ikatan persahabatan yang harus terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ia mengibaratkan hubungan Indonesia dan Timor-Leste sebagai mata rantai yang saling menguatkan dan tidak boleh terputus.
“Persahabatan Indonesia dan Timor-Leste adalah rantai yang harus terus memanjang dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah terputus,” katanya.
Megawati mengatakan kehormatan tersebut sesungguhnya bukan miliknya ataupun generasinya, melainkan milik generasi muda kedua negara yang kelak akan melanjutkan hubungan persahabatan yang telah dibangun para pendahulu.
“Saya percaya tangan-tangan muda itu akan meneruskannya, lebih kuat, lebih berani, dan lebih jauh dari yang mampu kami bayangkan hari ini,” ungkapnya.
Dalam pidatonya, Megawati juga mengenang pengalamannya ketika masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Ia mengungkapkan pernah memberikan beasiswa secara diam-diam kepada sejumlah anak Timor-Leste yang tidak mampu melanjutkan pendidikan.

Ia menceritakan salah seorang penerima beasiswa yang kemudian menemuinya dan memperkenalkan diri sebagai “anak Mama”. Menurut Megawati, sosok tersebut pernah menjadi Duta Besar Timor-Leste di Kamboja.
Megawati turut mengenang perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dipimpin Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dan membandingkannya dengan perjuangan Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão.
Menurutnya, baik Bung Karno maupun Xanana telah mengorbankan masa muda demi memperjuangkan kemerdekaan bangsanya masing-masing.
“Selama napas masih ada, persahabatan ini akan terus saya jaga dan harus terus diceritakan,” tegasnya.
Pidato Megawati ditutup dengan seruan “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” yang disambut tepuk tangan meriah para tamu undangan.
Sementara, Presiden Republik, José Ramos-Horta, mengatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas perjalanan politik Megawati yang menjadi bagian penting dalam transformasi demokrasi Indonesia sekaligus membuka jalan bagi hubungan baru antara kedua negara bertetangga.
“Melalui penganugerahan ini kepada Ibu Megawati Soekarnoputri, negara kami memberikan penghormatan kepada Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus kepada seorang pemimpin yang kehidupan dan perjalanan politiknya terkait erat dengan salah satu transformasi demokrasi paling penting di Asia,” kata Ramos-Horta.
Ia menilai Megawati merupakan salah satu tokoh yang memainkan peran penting dalam era Reformasi Indonesia. Di tengah gejolak politik pada akhir pemerintahan Orde Baru, Megawati memilih mempertahankan proses demokrasi melalui jalur konstitusional, menolak perebutan kekuasaan melalui cara-cara revolusioner, dan mengedepankan pemilihan umum yang bebas serta supremasi hukum.
Menurut Ramos-Horta, sikap tersebut menjadi contoh nyata kepemimpinan seorang negarawan.
“Kita sering lupa bahwa sikap moderat membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar dibandingkan sikap radikal,” ujarnya.
Peraih Nobel Perdamaian itu juga mengulas masa transisi Indonesia setelah Reformasi 1998, termasuk keputusan bersejarah Presiden B. J. Habibie yang memberikan kesempatan kepada rakyat Timor-Leste untuk menentukan masa depannya melalui Jajak Pendapat pada 30 Agustus 1999.
Ramos-Horta mengatakan bahwa ketika Megawati menjabat Presiden Republik Indonesia pada 2001, ia memilih menerima realitas baru lahirnya Timor-Leste sebagai negara merdeka. Pemerintahannya kemudian bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa selama masa transisi, mendukung normalisasi hubungan diplomatik, memperkuat kerja sama perbatasan, serta membangun dialog politik yang menjadi fondasi hubungan kedua negara hingga saat ini.
“Pada masa kepemimpinan Ibu Megawati, fondasi persahabatan yang kini menyatukan Timor-Leste dan Indonesia semakin kokoh. Demokrasi mampu mengubah musuh menjadi mitra, mengubah kenangan konflik menjadi budaya kerja sama, dan mengubah perbatasan menjadi jembatan persahabatan,” katanya.
Ramos-Horta menegaskan bahwa persahabatan antara Timor-Leste dan Indonesia lahir bukan karena melupakan masa lalu, tetapi karena keberanian kedua bangsa menghadapi sejarah tanpa terus menjadi tawanan masa lalu tersebut.
Ia juga memberikan penghormatan kepada para pemimpin kedua negara, termasuk Megawati Soekarnoputri dan Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão, yang dinilai memiliki visi rekonsiliasi sehingga hubungan bilateral berkembang menjadi salah satu contoh terbaik rekonsiliasi di kawasan.
Di akhir pidatonya, Ramos-Horta mengatakan bahwa penghargaan ini melambangkan penghormatan terhadap keberanian politik, rekonsiliasi, kepemimpinan yang bijaksana, dan visi masa depan.
“Atas nama negara dan rakyat Timor-Leste, saya menganugerahkan kepada Ibu penghargaan tertinggi bangsa kami, Grande Colar da Ordem de Timor-Leste”, ujar Ramos-Horta.
“Grande Colar da Ordem de Timor-Leste”, merupakan penghargaan sipil tertinggi Timor-Leste yang didirikan melalui Decree-Law No. 20/2009. Penghargaan ini diberikan kepada kepala negara atau tokoh nasional maupun internasional yang dinilai memberikan kontribusi luar biasa bagi perdamaian, persahabatan, kemanusiaan, serta hubungan dengan Timor-Leste.
Dalam beberapa tahun terakhir, penghargaan tersebut juga dianugerahkan kepada sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan sahabat, termasuk Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




