DILI, 24 Juni 2026 (TATOLI) – Eldino Nobre Guterres, putra kedua dari empat bersaudara mendiang mantan Presiden Republik, Francisco Guterres Lú Olo, mengungkapkan bahwa semasa hidup ayahnya selalu memberikan motivasi kepada anak-anaknya agar menjadi seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk.
“Pesan yang selalu ayah sampaikan kepada kami sebenarnya sangat banyak. Namun, ada satu nasihat yang sangat membekas dan terus saya ingat hingga sekarang. Sekitar tiga tahun lalu, sebelum melanjutkan studi di Portugal, saat makan malam bersama keluarga, ayah berkata kepada saya, ‘Pergilah bersekolah untuk mencari ilmu, tingkatkan pengetahuanmu, lalu pulanglah membawa ilmu itu. Jadilah seperti padi yang ketika bulirnya semakin berisi, ia justru semakin merunduk ke tanah, bukan semakin meninggi,'” ujar Eldino Nobre Guterres kepada TATOLI di Kediaman Farol, Rabu.
Ia menambahkan, mendiang ayahnya selalu memberikan semangat dan dedikasi agar anak-anaknya menghargai serta menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama.
“Bagi ayah, pendidikan sangat penting sejak kami masih kecil. Pendidikan dimulai dari dalam keluarga sebelum dilanjutkan ke luar rumah. Selama ayah masih hidup, beliau selalu menanyakan perkembangan sekolah kami dan kemajuan yang kami capai. Pendidikan selalu menjadi hal yang paling esensial baginya,” tutur Eldino.
Menurutnya, ayah dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan rendah hati. Di sela-sela kesibukannya, ia senang menghabiskan waktu merawat tanaman, menikmati musik, serta mengikuti perkembangan pendidikan anak-anaknya. Namun, semua kenangan itu kini tinggal menjadi cerita dan memori bagi keluarga, setelah hasil pemeriksaan di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, tidak mampu menyelamatkan nyawanya.
“Kami selalu mendapatkan perkembangan mengenai hasil konsultasi kesehatan ayah. Setiap malam kami saling berkomunikasi. Namun, konsultasi kali ini berbeda dengan pemeriksaan sebelumnya. Selama ayah rutin menjalani pemeriksaan di Malaysia, tetapi kali ini kondisinya memang berbeda,” jelasnya.
Berita terkait : Mantan Presiden Timor-Leste Francisco Guterres “Lú Olo” meninggal dunia
Eldino mengatakan, keluarga kemudian memutuskan untuk segera berangkat ke Malaysia guna mendampingi proses perawatan. Namun, mereka justru menerima kabar duka.
“Saat kami mendapat informasi bahwa ayah sakit, dokter menghubungi keluarga sehingga kami memutuskan berangkat lebih awal. Ketika saya menerima kabar bahwa ayah telah tiada, saya masih berada di dalam pesawat,” kenangnya.
Mengenai cara menghargai jasa mendiang ayahnya, Eldino mengatakan bahwa bentuk penghormatan terbaik adalah terus menempuh pendidikan hingga jenjang setinggi mungkin, kemudian kembali mengabdi kepada tanah air dengan ilmu yang dimiliki. Menurutnya, penghormatan itu bukan hanya ditujukan kepada Lú Olo, tetapi juga kepada seluruh pejuang yang telah berjuang selama 24 tahun demi kemerdekaan Timor-Leste.
Meski telah kehilangan sosok ayah, Eldino menegaskan dirinya dan saudara-saudaranya tetap bertekad melanjutkan pendidikan masing-masing.
“Proses studi saya tetap berjalan seperti biasa. Yang berbeda hanyalah kini saya tidak lagi bisa menghubungi ayah, berdiskusi, atau bertukar pikiran dengannya,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Eldino juga menyampaikan pesan kepada para pemimpin Timor-Leste.
“Sebagai rakyat biasa, harapan kami adalah agar para pemimpin negeri ini dapat memimpin dengan baik, mengabdi dengan tulus kepada bangsa, serta terus menghargai para pahlawan karena merekalah yang dengan sepenuh hati telah memperjuangkan dan membebaskan negeri ini,” tutupnya.
Mantan Presiden Francisco Guterres “Lú Olo” meninggal dunia di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Minggu (21/06) malam, pada usia 71 tahun, setelah menjalani perawatan kesehatan intensif.
Francisco Guterres “Lú Olo” lahir di Ossu, Kotamadya Viqueque, pada 07 September 1954. Francisco Lú-Olo menikah dengan Cidália Lopes Nobre Mouzinho Guterres, dan memiliki empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan yaitu, Francisco Cidalino Guterres, Eldino Nobre Guterres, Felezito Samora Guterres dan Dália Luliana Nobre Guterres.
Reporter : Osória Marques (Penerjemah: Cidalia Fátima)
Editor : Armandina Moniz




