DILI, 16 Mei 2025 (TATOLI) — Mantan Perdana Menteri Timor-Leste, Mari Alkatiri mengenang sosok mendiang Romo Domingos da Silva Soares Maubere sebagai seorang imam Katolik pejuang pembebasan yang mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk rakyat dan kemerdekaan negara ini.
Ungkapan duka dan penghormatan mendalam itu disampaikan Alkatiri menyusul kabar wafatnya Romo Domingos pada Jumat pagi, 16 Mei 2025, pukul 07.05 Waktu Timor-Leste, di Rumah Sakit Nasional Guido Valadares (HNGV).
“Dia adalah seorang pejuang, di masa sulit ini dia adalah pejuang pembebasan, Dia bagaikan seorang Imam yang menyerahkan dirinya untuk berbagai pengorbanan, dan menyerahkan seluruh hidupnya,” ujar Alkatiri dalam wawancara khusus bersama TATOLI di kediamannya di Farol, Jumat ini.
Alkatiri mengakui mengenal mendiang secara pribadi, terutama ketika Romo Domingos tinggal di Portugal selama beberapa tahun sebagai bagian dari pengasingan politik.

Romo Domingos Maubere, Pastor Paroki Becora dan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Timor-Leste, mengembuskan napas terakhir setelah delapan hari dirawat secara intensif di ruang ICU HNGV akibat penyakit kronis.
Berita terkait : Romo Maubere, Pejuang kemerdekaan dan pembela HAM wafat
Dalam usia 73 tahun, mendiang meninggalkan jejak panjang perjuangan, baik sebagai pemimpin rohani maupun pejuang perlawanan semasa pendudukan Indonesia di Timor-Leste.
“Jelaslah, bahwa proses kehidupan setiap orang memiliki jalannya masing-masing, namun ketika ada yang berjuang untuk pembebasan negara dan rakyat meninggalkan kita, kita semua merasakan duka yang mendalam,” tambah Alkatiri.
Romo Domingos dikenal sebagai imam yang berani dan vokal. Pada era pendudukan, ia aktif menyuarakan pelanggaran HAM ke dunia internasional dan menjalin komunikasi rahasia dengan tokoh-tokoh perlawanan seperti Xanana Gusmão dan Konis Santana.
Ia sempat menjadi tahanan rumah, diasingkan ke Portugal, dan kembali ke Timor-Leste untuk menjadi salah satu koordinator Dewan Nasional Perlawanan Timor (CNRT) di Dili.
Ia juga mengalami langsung kekerasan milisi pasca-referendum, yang memaksanya berjalan kaki ke Gunung Ramelau untuk berlindung dan berdoa bersama rakyat.
Mari Alkatiri menutup pernyataannya dengan menyampaikan belasungkawa kepada semua pihak. “Saya ingin menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga mendiang Romo Domingos Maubere, khususnya kepada keluarga besar Gereja Katolik, dan kepada seluruh umat Katolik serta seluruh rakyat Timor-Leste,” ucapnya.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




